Kolom

Perlambatan Ekonomi dan Pendatang Baru Dunia Kerja

Andi Suryadi - detikNews
Senin, 19 Okt 2020 15:10 WIB
poster
Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -

Covid-19 membawa dekade ini pada nostalgia akan krisis ekonomi Asia yang bukan hanya memperlambat perekonomian, melainkan juga melenturkan kohesi sosial. Pukulan keras ini terutama menghantam lulusan baru (fresh graduate) yang akan masuk ke pasar tenaga kerja. Sejak dekade krisis itu pulalah tingkat pengangguran kaum muda nasional konsisten di atas 15 persen dan bahkan menempati urutan kedua di Asia Tenggara tahun lalu.

Dengan badai pandemi yang seolah memerangkap kaum muda dalam pengalaman nadir, bukan tidak mungkin, selayaknya banyak prediksi, akan menyentuh rekor tertinggi. Setidaknya, ada dua faktor utama yang memungkinkan narasi itu segera tiba. Pertama, sebagai pendatang baru, kaum muda memiliki banyak halangan yang dapat membatasi atau menyulitkan untuk memasuki dunia kerja. Kedua, bukan rahasia lagi bahwa pandemi ini telah memperburuk kondisi atau situasi dunia kerja itu sendiri. Gambaran konkretnya, mulai dari kehancuran jenis pekerjaan bagi kaum muda hingga gangguan penguatan kapabilitas untuk memasuki pasar tenaga kerja.

Tulisan singkat ini mencoba memberikan potret kondisi seraya menumbuhkan ambisi resilient generation untuk bertahan dengan penuh keyakinan atas krisis multidimensi yang sedang dialami.

Tereksklusi Kebijakan

Pemerintah telah menyiapkan anggaran lebih kurang Rp 37,7 triliun untuk lebih dari 15 juta karyawan dengan gaji di bawah Rp 5 juta. Selain itu, terdapat juga upaya pemberian subsidi kuota internet bagi pelajar dan mahasiswa. Lebih lanjut, pemerintah juga telah menggelontorkan lebih dari Rp 35 triliun bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terdampak Covid-19. Pelbagai upaya ini dilakukan untuk menggairahkan kembali roda perekonomian lewat aktivitas ekonomi di masyarakat.

Konsumsi dalam negeri menjadi prioritas untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Meskipun demikian, skema Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau subsidi yang diberikan pemerintah melupakan unsur protagonis pembangunan yang baru saja menyelesaikan studi mereka di tengah kondisi kian pelik. Kaum muda yang lebih dari sekadar penyumbang tenaga kerja, kreator lapangan kerja, dan katalis pembangunan berada di titik dilematis. Berada di ruang transisi ke dunia kerja membuat generasi ini pantas disebut sebagai yang paling terdampak.

Pengangguran sejak paruh pertama 2020 mengalami lonjakan. April lalu, International Labour Organization (ILO) menyuratkan bahwa sektor informal paling terpukul. Berdasarkan catatan ILO, hampir 1,6 miliar dari total 2 miliar pekerja dan 3,3 miliar angkatan kerja sektor tersebut secara global mengalami penurunan pendapatan sekitar 60 persen. Pada konteks nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) memang memotret situasi ketenagakerjaan yang menunjukkan tren kecenderungan menurunnya tingkat pengangguran.

Sebelumnya, BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) periode Agustus 2017, 2018, dan 2019 secara berurutan mengalami penurunan dari 5,50 menjadi 5,34 dan 5,28. Tentu saja hal ini belum seutuhnya merepresentasikan situasi ketenagakerjaan nasional. Dalam publikasi lain, BPS menggambarkan situasi memilukan. Potret pengangguran berdasarkan pendidikan terakhir seolah persuasif akan pentingnya memberikan perhatian pada generasi muda.

Secara global, 13 persen dari 429 pekerja muda menderita kemiskinan ekstrem dan 17 persen dikategorikan hidup dalam kemiskinan moderat (Legare, et al., 2020). Revolusi Industri 4.0 dan masyarakat superpintar (Society 5.0) tampaknya mengkonstruksi kondisi yang paradoksal bagi kaum muda. Skeptisisme kepada generasi ini utamanya karena dinilai belum memiliki pengalaman dan perilaku kerja yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Terlebih, ketimpangan ekonomi bukan sekadar antarnegara, melainkan juga antarindividu. Banyak contoh memang talenta muda yang memanfaatkan teknologi untuk mendulang penghidupan layak. De facto, sistem kita hari-hari ini lupa pada mereka yang hanya dapat menatap keberhasilan pembangunan dari jauh.

ILO menyerukan kebijakan yang mampu mendukung dan memastikan ketersediaan lapangan pekerjaan atau penguatan kapabilitas kaum muda. Hal itu menjadi krusial mengingat kaum muda merupakan penyedia ide segar dan investasi potensial masa depan, serta tulang punggung kehidupan sosial masyarakat.

Skenario penanganan krisis semacam itu hendaknya menggeser secara utuh paradigma pembangunan yang lebih mampu menciptakan wahana penuh harapan, khususnya bagi pendatang baru di dunia kerja di tengah situasi krisis. Hal itu hanya dimungkinkan dengan menjaga kualitas pekerjaan yang akan dipegang oleh kaum muda. Kualitas ini terejawantahkan dalam sistem perlindungan sosial dan hukum, keamanan kerja, serta keterbukaan peningkatan kapabilitas dan pengembangan karier.

Sektor swasta dan pemerintah hendaknya berkolaborasi membangun iklim ketenagakerjaan demikian. Artinya, optimalisasi peranan kaum muda lebih dari sekadar fungsi instrumentalnya. Peran vital ini juga yang telah membuat kaum muda disebut Deloitte Global Survey sebagai resilient generation. Sangat segera dibutuhkan pengaturan ulang dan penguatan eksistensi tenaga kerja muda yang memenuhi segala tuntutan dunia kerja atau menyediakan ragam keterampilan yang mereduksi skeptisisme pasar tenaga kerja.

Andi Suryadi, S.E alumnus Prodi Ekonomi Universitas Sanata Dharma

(mmu/mmu)