Kolom

Terbang di Masa COVID-19

Tjandra Yoga Aditama - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 16:02 WIB
tjandra yoga
Prof. Tjandra Yoga Aditama
Jakarta -

Kendati jumlah kasus COVID-19 masih terus bertambah, tapi penerbangan internasional dengan berbagai keterbatasannya sudah mulai dilakukan antar beberapa negara. Tentu ada berbagai tantangan yang dihadapi oleh para penumpang. Kalau memang terbang tidak dapat dielakkan, mau tidak mau kesiapan maksimal harus dilakukan.

Sebelum Terbang

Ada tiga hal utama yang perlu diantisipasi. Pertama, mencari kemungkinan pesawat dan/atau rute yang ada. Sebagai ilustrasi saja, saya pada 30 September lalu sudah memasuki usia pensiun sebagai Direktur WHO South East Asia Regional Office (SEARO) yang berkedudukan di New Delhi, jadi harus pulang ke Jakarta.

Bandara Internasional New Delhi tutup sejak Maret 2020, jadi tidak ada penerbangan komersial sama sekali. Baru pada awal September mulai dibuka kerja sama dengan beberapa negara tertentu saja, dan tidak ada yang ke arah dekat-dekat Indonesia. Jadinya saya disediakan tiket oleh WHO untuk New Delhi-Dubai-Jakarta, artinya ke arah barat dulu lalu balik ke arah timur.

Tadinya saya sudah setuju, tapi lalu dibatalkan karena yang boleh terbang New Delhi-Dubai hanyalah warga negara India dan Uni Emirat Arab saja. Lalu saya diberikan opsi kedua, yang lebih "gila" lagi, yaitu New Delhi, Frankfurt, Bangkok, Jakarta, totalnya 36 jam! Tentu saya tolak karena bukan hanya terlalu melelahkan, tapi juga terlalu berisiko penularan COVID-19.

Alhamdulillah akhirnya KBRI di New Delhi mengupayakan penerbangan repatriasi, khusus New Delhi-Jakarta untuk WNI dan atau warga negara lain yang harus terbang dari New Delhi ke Jakarta, dan akhirnya saya menggunakan penerbangan ini. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kalau memang harus terbang, maka amat tidak mudah mendapatkan pesawat yang tersedia.

Hal kedua adalah mencek aturan yang diminta oleh maskapai penerbangan dan atau negara yang akan dituju. Sebagian besar negara mensyaratkan semua orang yang mendarat di bandara internasionalnya sudah membawa hasil PCR (-) untuk COVID-19. Ini juga harus hati-hati, karena ada yang mensyaratkan pemeriksaan PCR-nya paling lambat 48 jam sebelum mendarat, ada yang 72 jam, dan ada yang 7 hari.

Jadi, kalau negara tujuan mensyaratkan 48 jam, maka PCR yang sudah kita periksa 5 hari sebelum berangkat misalnya, akan tidak berlaku. Sulitnya lagi, di era COVID-19 ini penerbangan sering dibatalkan dan atau dijadwal ulang. Akibatnya, jangan-jangan PCR juga terpaksa diperiksa ulang pula.

Hal ketiga adalah situasi di bandara keberangkatan. Walaupun bandara internasional berbagai negara sekarang memang relatif sepi, tapi tetap saja protokol kesehatan harus kita jalankan dengan ketat. Beberapa penumpang juga mengenakan baju khusus. Saya misalnya, memakai gaun pelindung, walaupun agak salah karena harusnya terkancing ke belakang --tapi kalau terkancing ke belakang, maka sulit memperlihatkan tiket, paspot, dan lain-lain yang akan diperiksa.

Boarding pass di era COVID-19 ini juga dapat saja lebih sederhana. Untuk pesawat repatriasi saya bahkan hanya ditulis tangan saja. Di berbagai bandara juga tidak seluruh fasilitas terbuka; ada yang restorannya hanya sedikit yang buka, lounge juga banyak yang tutup, demikian juga sebagian toko.

Kita tahu sekarang uji klinik vaksin COVID-19 fase 3 masih berjalan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Kita juga tahu bahwa ada aturan tentang vaksin sebelum terbang untuk penyakit lain, misalnya jamaah umrah wajib mendapat vaksinasi Meningitis sebelum terbang ke Arab Saudi.

Bagaimana hasil akhir uji klinik dan bagaimana kebijakan negara (dan dunia) dalam pemberian vaksin COVID-19 di masa datang akan menentukan apakah nantinya vaksinasi COVID-19 (kalau sudah ada) akan merupakan syarat untuk seseorang boleh terbang atau tidak. Kita tunggu saja perkembangannya.

Di Pesawat

Pencegahan penularan COVID-19 di dalam pesawat terbang juga perlu dapat perhatian penting. Kita tahu bahwa maskapai penerbangan sudah menerapkan protokol ketat; ruang kabin dibersihkan dengan maksimal sebelum terbang, awak pesawat menggunakan masker dan/atau APD yang diperlukan, serta sistem ventilasi dan pertukaran udara di dalam kabin diatur dengan teknologi tinggi dengan filter khusus, dan lain-lain sehingga diupayakan aman.

Tetapi kenyataannya kita sudah melihat laporan ilmiah yang menunjukkan tetap mungkin adanya penularan di dalam pesawat, baik ke penumpang lain maupun juga ke awak pesawat. Seperti laporan penerbangan dari London ke Vietnam pada Maret lalu yang menulari15 orang di dalam pesawat, serta penerbangan sepasang suami-istri dari Boston ke Hong Kong yang juga menulari dua orang awak pesawat.

Karena itu, memang penerapan protokol yang kita sudah kenal sebagai menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker harus terus terjaga baik.

Tentang menjaga jarak, memang akan tidak mudah kalau maskapai memuat penumpang secara penuh, tidak ada jarak duduk antara satu dengan lainnya. Tentang mencuci tangan, penumpang setidaknya dapat melakukan dua hal, yaitu membawa hand sanitizer dan membatasi menyentuh permukaan kursi, meja, kursi depan, dan lain-lain. Sebagian penumpang saya lihat menggunakan sarung tangan.

Tentang masker, wajib dipakai. Karena penerbangan panjang 7 jam dari New Delhi ke Jakarta, saya gunakan masker tipe "respirator" (seperti di foto ini), tetapi kalau mau menggunakan masker N-95 tentu juga baik, atau mungkin juga masker bedah.

Makanan di pesawat juga sudah dipaket dalam bentuk sesederhana mungkin tampaknya. Mungkin memang tidak terlalu nyaman, tapi ini penting demi menjaga kesehatan.

Di Negara Tujuan

Begitu mendarat di negara tujuan, ada dua hal yang perlu diantisipasi. Pertama, bagaimana alur pengecekan kesehatan di bandara yang harus diikuti. Karena ada ratusan orang penumpang satu pesawat, bukan tidak mungkin proses pengecekan kesehatan ini makan waktu cukup lama, apalagi tentu dilakukan dengan amat teliti dan mungkin berlapis pula.

Kalau belum ada hasil PCR yang valid, mungkin dilakukan pemeriksaan ulang di bandara atau tempat lain yang ditunjuk, dan tentunya penumpang belum boleh keluar. Kalau ternyata ditemukan ada COVID-19, penumpang yang baru datang akan ditangani dan diisolasi sesuai kebijakan negara setempat.

Dalam proses oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di bandara ini juga akan dicatat nomor tempat duduk di pesawat serta alamat kontak yang bisa dihubungi untuk keperluan penelusuran kontak (contact tracing) kalau nantinya diperlukan.

Kalau sudah selesai dari bandara dan memang tidak sakit COVID-19, hal kedua adalah bagaimana kebijakan karantina di negara tujuan. Ada negara yang mengharuskan karantina 14 hari misalnya, dan harus tinggal di hotel tertentu yang harus dibayar penumpang yang datang (dan cukup mahal pula). Negara lain membolehkan karantina di rumah dengan pengawasan ketat, dan ada pula yang mengkombinasikan antara karantina di hotel/wisma dengan karantina di rumah.

Seperti diketahui, karantina adalah istilah untuk orang yang sehat, sementara kalau sakit digunakan istilah isolasi. Juga, penumpang dapat diberi Kartu Kewaspadaan Kesehatan (Health Alert Card) yang berisi informasi kesehatan dan kartu ini harus ditunjukkan ke petugas kesehatan kalau-kalau penumpang itu ada gangguan kesehatan beberapa hari/minggu sesudah mendarat.

Kita belum tahu kapan pandemi COVID-19 akan berakhir. Sementara ini, kehidupan akan harus terus berjalan, termasuk kemungkinan harus terbang antarnegara kalau memang betul-betul diperlukan. Untuk itu, persiapan yang baik harus dilakukan agar keperluan penerbangan dapat berlangsung dan aspek kesehatan terjaga dengan baik

Prof. Tjandra Yoga Aditama Guru Besar Paru FKUI, mantan Direktur WHO SEARO, mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

(mmu/mmu)