Kolom

Wabah dan (Kesadaran) Sejarah

Wisnu T. Prabowo - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 12:00 WIB
Setengah tahun lalu, di paruhan kedua bulan Januari, pemerintah China untuk pertama kalinya mengumumkan resmi wabah virus corona jenis baru yang menyerang kota Wuhan.
Suasana mencekam pada 100 hari usai lockdown akibat wabah Corona di Wuhan, China (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Di tengah kecamuknya Perang Peloponnesian yang berlangsung antara 431-404 M, wabah tiba-tiba merebak di Athena. Herodotus meyakini ia adalah murka para dewa. Namun Thucydides menolak premis itu. Thucydides akhirnya terkena wabah yang konon berasal dari Etiopia tersebut. Tetapi Thucydides selamat dan menulis memoar yang membuatnya menjadi bapak sejarah barat bersama Herodotus.

Thucydides mendeskripsikan bahwa penderita awalnya mengalami sakit kepada diikuti dengan mata memerah, demam, dan gatal-gatal pada kulit. Penderita juga merasakan haus yang hebat hingga mereka terjun ke dalam sumur yang kemudian justru membantu penyebaran wabah itu sendiri. Jika berhasil melalui fase ini, diare hebat menanti. Apabila selamat, ancaman kebutaan, amnesia, bahkan kelumpuhan pun menghadang. Dengan reportasenya ini, Thucydides telah mengubah narasi sejarah.

Sikap kedua sejarawan cukup bertolak-belakang dalam menyikapi wabah. Metode historiografi Herodotus adalah mengambil dari apa yang ia dengar betapa pun anehnya kabar tersebut serta begitu peduli terhadap aspek moralitas, dan moralitas dalam cara pandang Yunani terkait dengan agama. Thucydides di lain sisi, tidak terlalu peduli dengan moralitas, dewa-dewa, dan legenda-legenda di luar nalar.

Karena itulah Thucydides dianggap sebagai sejarawan yang konon menggunakan metode ilmiah dengan mengedepakan empirisme di atas testimoni saksi mata, sehingga mengedepankan objektivitas --meski objektivitas murni itu mustahil. Nantinya, kedua mazhab historiografi ini muncul memiliki kemiripan dengan "metode riwayat"-nya At Thabari serta "metode dirayat"-nya Ibnu Khaldun.

Kemudian pada abad ke-14 merebak wabah The Black Death. Kengeriannya begitu masyhur meski tidak melampaui Flu Spanyol pada awal abad ke-20 (asal wabah bukan dari Spanyol). Disebutkan, seorang ayah bernama Agnolo di Tura del Grasso menguburkan dengan tangannya sendiri kelima orang anaknya dan juga istrinya. Setengah populasi Eropa konon musnah. Bukan saja terhadap historiografi, wabah The Black Death juga memicu persekusi terhadap minoritas

Ekstremisme tidak meredup di tengah terpaan wabah sekalipun. Kaum Yahudi di Jerman dituduh sebagai dalang merebaknya wabah. Mereka dianggap dengan sengaja meracuni sumber-sumber air. Orang Yahudi diburu dan dibakar hidup-hidup tanpa pandang bulu. Dikatakan, seorang ibu dari kaum Yahudi melemparkan anaknya terlebih dahulu ke jilatan api baru kemudian sang ibu terjun menyusul keluarganya. Ia lakukan itu untuk mencegah anaknya dipaksa pindah agama.

Teori konspirasi pencemaran terencana oleh penganut Judaisme itu tidak pernah terbukti. Wabah juga mengguncang keyakinan terhadap Tuhan. Seorang agamawan bernama William Langland berkata, "Tuhan telah tuli sekarang dan tidak akan mendengar doa kita." Di kutub lain, sebagian orang berubah menjadi religius dengan meninggalkan perbuatan imoral dikarenakan menyadari wabah dapat merenggut nyawa kapan saja.

Namun ketika selamat dari wabah, dan setelah menikahi janda-janda beserta harta yang melimpah dari peninggalan suami-suami mereka yang mati karena wabah, mereka kembali berbuat imoral, bahkan lebih-lebih dari sebelumnya, begitu juga pemuka agama dan para penguasa, sehingga di kemudian hari pascawabah, perang sektarian merebak di Eropa antara Inggris dan Prancis yang dikenal dengan The Hundred Years' War.

Wabah dapat memicu tindakan irasional. Dalam kasus wabah Athena abad ke-4 SM, kekhawatiran akan kematian mendorong orang-orang untuk tidak lagi mengisolasi diri. Sebab, menjemput maut seorang diri lebih menakutkan ketimbang wabah itu sendiri. Namun menurut Thucydides, apa yang kerap mendorong mereka keluar rumah adalah tidak ada lagi anggota keluarganya yang selamat untuk merawat.

Alhasil, tenda-tenda pengungsian justru menjadi kluster penyebaran baru di Athena. Menariknya, meski wabah hanya menerpa warga kota Athena dan tidak menimpa pasukan Sparta yang sedang mengepung kota itu, Thucydides tidak melontarkan isu konspirasi dalam narasinya.

Tetapi wabah juga mendorong altruisme. Saat terjadi wabah Antonine pada 165-190 M, kaisar Marcus Aurelius menjadikan penganut Nasrani sebagai kambing hitam karena mereka telah membuat dewa-dewa Romawi marah. Sebab, penganut Nasrani menolak berpartisipasi dalam ritual pagan Romawi.

Bagi Romawi Kuno, ritual keagamaan haruslah ditampakkan di publik sebagai upaya melestarikan Pax Romana. Oleh karenanya perkumpulan keagamaan yang eksklusif dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas imperium. Pemeluk Nasrani merespons tuduhan sang kaisar justru dengan perbuatan baik, yakni merawat mereka yang sakit dan sekarat tanpa takut tertular.

Sontak tindakan mereka menarik hati orang-orang untuk memeluk Nasrani. Sementara kaisar Aurelius sendiri menurut sejumlah pendapat tewas akibat wabah Antonine. Peristiwa serupa terjadi saat wabah Cyprian melanda (250-260 M) di mana St. Cyprian merespons tuduhan dengan altruisme.

Mengubah Manusia

Covid-19 bukanlah The Black Death atau The Spanish Flu. Namun sebagaimana wabah-wabah lainnya, ia dapat mengubah manusia hampir di seluruh aspeknya. Wabah Athena abad ke-4 SM, The Black Death abad ke-14 M, dan Antonine abad ke-2 M menunjukkan bahwa wabah berdampak pada aspek historiografi, religiusitas, dan politik.

"Amnesia disosiatif" terhadap sejarah masih mewabah. Perselisihan religiusitas mulai dari perdebatan saf salat hingga teori konspirasi pun masih mendapat panggung. Ketegangan politik antarkekuatan dunia pascawabah nanti pun masih membayangi, dan polarisasi di dalam negeri pun masih meninggalkan banyak PR. Namun wabah tidak hanya tentang kemalangan; ia memberikan kita asa bahwa malam tergelap tanda fajar akan bersinar dan memberi kehangatan kepada mereka yang merawat altruisme.

Tetapi kita butuh lebih dari nostalgia dan trauma; kita menginginkan historical consciousness di mana ia hanya akan tumbuh tatkala sejarah bukan sekadar hafalan, melainkan kesadaran sehingga kita terus disadarkan bahwa hari ini terikat dengan masa lalu; baik buruknya, bahagia dan sedihnya, serta wabah dan senja kalanya. Atau, jangan-jangan, sejarah memang telah lama "hilang", bukan dari ingatan tapi dari kesadaran?

Wisnu Tanggap Prabowo pemerhati Late Antiquity

(mmu/mmu)