Kolom: Hari Pangan Sedunia

Merancang Sistem Pangan yang (Lebih) Tahan Goncangan

Subejo, PhD - detikNews
Jumat, 16 Okt 2020 14:00 WIB
Petani memanen padi miliknya di Ciletuh, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (30/9/2020). Pemerintah menyatakan bahwa stok pangan Indonesia dinilai aman hingga akhir tahun 2020 . ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.
Stok pangan diklaim aman sampai akhir tahun (Foto: Muhammad Adimaja/Antara)
Jakarta -

Setiap tanggal 16 Oktober masyarakat internasional memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS). Harapan yang selalu muncul dari tahun ke tahun adalah bagaimana masyarakat dunia mampu menyediakan pangan yang cukup dan sehat untuk seluruh penduduk dunia. Hal ini relevan dengan tema HPS 2020 Grow, Nourish, Sustain. Together (Tumbuh, Memberi Makan, Berkelanjutan. Bersama).

Masyarakat internasional serta seluruh negara harus bahu-membahu memanfaatkan segala sumber dayanya untuk meningkatkan kemampuan dalam menyediakan pangan sehat yang berkelanjutan bagi masyarakat global tanpa kecuali. Pada saat yang sama, masyarakat internasional sedang mengalami keprihatinan besar dengan semakin meluas dan intensifnya dampak pandemi Covid-19 yang telah mengguncang berbagai sendi kehidupan sosial-ekonomi dunia.

Kondisi perekonomian di berbagai negara mengalami kontraksi bahkan beberapa negara sudah memasuki kondisi resesi akibat semakin intensifnya dampak penyebaran Covid-19. Secara global, sektor pangan dan pertanian umumnya termasuk sektor yang terdampak cukup signifikan atas merebaknya pandemi.

Hal yang cukup unik, situasi makro di Indonesia ada fenomena cukup menggembirakan karena sektor pertanian masih tumbuh positif dan memberi kontribusi cukup besar pada PDB nasional di tengah tekanan pandemi covid-19. Pada awal Agustus, BPS merilis PDB sektor pertanian menjadi penyumbang tertinggi pada pertumbuhan ekonomi nasional pada Kuartal II - 2020.

Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang mengalami penurunan sebesar 4,19 dibanding Kuartal I dan secara year on year turun 5,32 persen, performa sektor pertanian cukup baik. Tercatat PDB pertanian tumbuh 16,24 persen pada Kuartal II - 2020 dan lebih baik dibanding Kuartal I. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sektor pertanian tetap berkontribusi positif, yakni tumbuh 2,19 persen.

Nasib Petani

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat kehidupan atau nasib petani adalah Nilai Tukar Petani (NTP). BPS mencatat NTP sebesar 100,65 pada Agustus 2020. Terdapat kenaikan 0,56 persen dibanding dengan bulan sebelumnya. Sedangkan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) pada Agustus 2020 mencapai 100,84 atau meningkat 0,31 persen dibanding bulan sebelumnya.

Meskipun nilai NTP sedikit di atas 100, namun kondisi kehidupan petani sesungguhnya nyaris merugi --nilainya kurang dari 100 berarti kemampuan daya belinya rendah atau dapat dimaknai daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian lebih rendah dibanding dengan biaya barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi pertaniannya.

Meskipun secara makro, PDB sektor pertanian di Indonesia masih tumbuh positif dan memberikan kontribusi yang cukup besar pada masa pandemi Covid-19, namun secara mikro petani sesungguhnya dalam kondisi yang semakin terpuruk. Hal ini dapat dilihat dari dinamika NTP; jika dibandingkan dengan Agustus 2019 dengan NTP sebesar 103, 22 dan pada Agustus 2020 nilai NTP sebesar 100,56 berarti telah terjadi penurunan sebesar 2,66 persen. Hal ini menggambarkan daya beli petani semakin melemah atau dengan kata lain nasibnya semakin memburuk.

Persoalan Utama

Persoalan utama yang selalu muncul terkait pembangunan pertanian dan pangan global adalah meningkatnya permintaan akan kuantitas dan kualitas berbagai bahan pangan akibat peningkatan pertumbuhan penduduk dan peningkatan pendapatan masyarakat. Meningkatnya kebutuhan pangan merupakan peluang besar sekaligus tantangan untuk dapat memenuhinya.

Pembangunan pertanian global dan nasional menurut catatan FAO (2020) menghadapi berbagai masalah krusial, antara lain tingginya konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian, penurunan kualitas sumber daya pertanian, dan dampak negatif perubahan iklim global terhadap produksi pertanian.

Kemampuan produksi pangan global yang diperparah dengan semakin merebaknya pandemi Covid-19 telah berdampak nyata pada stabilitas dan kapasitas produksi. Pandemi telah menghambat mobilitas orang, barang dan sistem logistik yang telah mengganggu kelancaran produksi dan distribusi input dan produk pertanian.

Keterlambatan dan penurunan potensi produksi pangan karena hambatan distribusi input pertanian sering terjadi. Hambatan mobilitas juga mempengaruhi kelancaran penyuluhan dan pembinaan oleh penyuluh pertanian di desa-desa sentra produksi pangan. Meskipun teknologi informasi bisa membantu, namun hambatan infrastruktur telekomunikasi dan literasi petani terhadap teknologi informasi juga menjadi hambatan.

Pelajaran Berharga

Peringatan HPS 2020 dalam tekanan Covid-19 memberi pelajaran berharga untuk merespons dan mencari strategi tepat dalam merancang dan menerapkan sistem pangan global yang lebih tahan terhadap goncangan.

Sektor pertanian dan pangan menghadapi dua situasi. Di satu sisi terbuka peluang yang sangat besar untuk meningkatkan produktivitasnya sehingga mampu memenuhi permintaan pangan yang terus meningkat. Pada sisi yang lain harus memilih strategi adaptasi dan mitigasi yang tepat dengan hambatan produksi, distribusi, dan pemasaran produk pangan akibat Covid-19.

Hal yang juga harus menjadi perhatian adalah perbaikan nasib petani produsen pangan agar kondisi kehidupannya semakin baik. Perlu upaya dan strategi khusus untuk meningkatkan kapasitas produksi petani dan mendorong kemampuannya dalam merespons dan beradaptasi dengan kondisi pandemi Covid-19. Solusi dapat difokuskan pada intensifikasi lahan pertanian eksisting yang terdiri dari lahan sawah, lahan kering dan pekarangan, penguatan urban farming di perkotaan, serta kebijakan pendukung sebagai insentif untuk menjamin stabilitas produksi pangan nasional.

Program intensifikasi lahan sawah eksisting dapat dilakukan dengan perbaikan jaringan irigasi sehingga frekuensi tanam dan total luas panen meningkat yang akan berdampak langsung pada peningkatan produksi pangan. Diperlukan dukungan alat-mesin pertanian dan ketepatan waktu serta kecukupan jumlah input (benih, pupuk, dan pestisida). Pada lahan kering dan pekarangan, program subsidi pupuk dan benih juga sangat prospektif untuk meningkatkan produksi.

Fokus program produksi pangan utama beras di perdesaan perlu dapat dibarengi dengan optimalisasi lahan pekarangan untuk komoditas yang dapat dipanen cepat seperti sayuran dan hortikultura. Di wilayah perkotaan dan pinggiran kota, program urban farming cukup strategis dikembangkan dengan memanfaatkan lahan terbatas guna memproduksi berbagai jenis sayuran dan hortikultura dengan tujuan memenuhi kebutuhan keluarga dan sumber cash income jika produksinya cukup besar.

Pendampingan berbagai teknis produksi pertanian dan inovasi baru dapat dilakukan oleh petugas penyuluh pertanian, pendamping dari perguruan tinggi dan LSM dengan menggunakan pendekatan hybrid sebagai perpaduan pendekatan pendampingan fisik di lapangan dengan pemanfaatan media baru (website, media sosial, Youtube). Paket teknologi, konsultasi, berbagai informasi dapat dikemas secara efisien dan efektif melalui media baru dengan jangkauan yang lebih luas dan dapat mengatasi hambatan waktu serta tempat.

Insentif dan Subsidi

Selain program yang bersifat teknis on-farm, upaya peningkatan produksi pangan juga perlu diberikan dalam bentuk insentif misalnya subsidi harga produk dan pembebasan pajak tanah pertanian pada masa darurat yang dapat memotivasi dan menyemangati petani dalam memproduksi pangan. Dalam kasus petani gurem, buruh tani, dan petani penggarap dengan pengelolaan lahan yang sangat kecil, selain mendapatkan bantuan produksi dan insentif juga tetap perlu mendapatkan jaminan sosial berupa bantuan pangan untuk dapat menjamin kebutuhan pangannya selama masa darurat Covid-19.

Strategi dan program lain yang perlu dikembangkan dengan tepat adalah distribusi, sistem logistik, dan pemasaran produk pertanian dan pangan pada masa pandemi Covid-19. Dengan adanya pembatasan mobilitas orang dan barang untuk memitigasi penyebaran Covid-19, kelancaran distribusi bahan pangan antarpulau dan antarkota perlu direlaksasi.

Dalam skala mikro, pemanfaatan aplikasi sederhana misalnya media sosial dapat digunakan untuk mempertemukan produsen dan konsumen potensial sehingga memperlancar proses transaksi. Selain itu dapat dikembangkan model direct marketing yang efisien bagi produsen dan konsumen. Sedangkan dalam proses pengiriman produk pertanian dan pangan dapat dilakukan melalui jasa pengiriman yang lebih efektif.

Pada daerah-daerah yang relatif terisolasi serta belum tersedia jaringan telekomunikasi dan listrik, model pemasaran dan distribusi berbagai produk pertanian dan pangan dapat didukung oleh mekanisme khusus misalnya pembentukan satgas pangan oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan swasta untuk dapat memfasilitasi distribusi dan pemasaran produk pertanian.

Subejo, PhD Ketua Pusat Kajian Kebijakan Pertanian (PAKTA) Fakultas Pertanian UGM

(mmu/mmu)