Kolom

Antara Ankara, Doha, dan Jakarta

Ali Murtado - detikNews
Jumat, 16 Okt 2020 13:10 WIB
Presiden Jokowi dan Presiden Reccep Tayyib Erdogan (Repro detikcom atas foto Biro Setpres dan Reuters)
Presiden Jokowi dan Presiden Turki Erdogan (Foto: repro detikcom atas foto Biro Setpres dan Reuters)
Jakarta -
Pada 7 Oktober lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengunjungi Qatar untuk kedua kalinya dalam empat bulan terakhir. Sebelumnya, pada 3 Juli, Erdogan telah mengunjungi Qatar yang sekaligus menjadi kunjungan pertamanya ke luar negeri pada masa pandemi. Kunjungan Erdogan bukan hanya menyiratkan kedekatan Ankara dan Doha, tetapi juga mengkonfirmasi bahwa Turki benar-benar sedang menjaga kawan-kawan aliansinya dari kemungkinan jatuh ke pangkuan pihak lain.

Bukan Hal Baru

Rapatnya hubungan Turki dan Qatar bukan merupakan hal baru. Ketika Erdogan diguncang percobaan kudeta pada 2016, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad bin Khalifa Al Thani adalah di antara pemimpin pertama di dunia yang menyampaikan dukungannya terhadap Erdogan. Dukungan ini dibalas kontan oleh Turki. Ketika pada 2017, Qatar diblokade oleh tetangganya (Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Mesir), Turki adalah negara yang paling terbuka membantu Qatar. Saat itu, Erdogan tidak hanya mengirimkan bahan makanan dan obat-obatan ke Qatar, tetapi juga melipatgandakan jumlah kehadiran tentaranya di pangkalan militer mereka di Qatar.

Sukar dibantah bahwa Turki adalah pemain besar dalam percaturan politik internasional saat ini. Namun demikian, pengaruh Turki yang makin luas tersebut bukan berarti dapat diterima oleh semua pemain di kawasan. Keterlibatan Turki dalam konflik di Libya, Syria, dan terakhir di Armenia dan Azerbaijan membuat negara ini juga harus berselisih dengan kawan-kawannya sendiri. Dalam konflik Armenia-Azerbaijan misalnya, Turki bahkan harus bersitegang dengan Iran yang notabene adalah mitra tradisional mereka di Timur Tengah.

Hubungan yang naik-turun antara Ankara dan Tehran jelas akan membuat pengaruh Turki di Timur Tengah bisa terganggu. Oleh karenanya Turki perlu memastikan kawan-kawan lain yang selama ini seiringan tidak berpindah. Salah satu kawan yang perlu dijaga tersebut adalah Qatar. Negara kecil nan kaya raya ini bukan hanya telah membuktikan dirinya survive setelah diblokade selama lebih dari tiga tahun oleh tetangganya, tetapi juga makin mampu menampilkan ketokohannya dalam panggung politik internasional, salah satunya dalam penyelesaian konflik di Afghanistan.

Saat ini Turki boleh merasa tenang menyaksikan Qatar tidak jatuh dalam pengaruh Arab Saudi atau Uni Emirat Arab. Namun demikian, ada hal lain yang harus dijawab oleh Ankara, yakni apakah Qatar benar-benar tidak menginginkan blokade dari tetangganya tersebut segera berakhir? Ini pertanyaan penting, dan dalam konteks itu kita harus menempatkan makna kunjungan Erdogan yang bahkan harus dilakukan dua kali pada masa pandemi tersebut.

Blokade dan Kepentingan

Sulit untuk mengatakan bahwa Qatar tidak menginginkan blokade dari tetangganya segera dicabut. Benar bahwa blokade tersebut tidak mampu menggoncang perekonomian Qatar, namun jangan lupa ambisi Qatar bukan hanya sekadar untuk bertahan dari blokade, tetapi juga untuk memainkan peran lebih besar dalam politik kawasan Timur Tengah. Dan itu hanya dapat dicapai melalui hubungan baik dengan tetangganya. Belum lagi pekerjaan "sampingan" seperti menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Ajang tersebut tentu akan lebih mudah dikerjakan jika ada dukungan dari negara-negara tetangga.

Sejatinya kepentingan agar blokade segera berakhir bukan hanya menjadi kepentingan Qatar, tetapi juga menjadi kepentingan negara-negara lain. Amerika Serikat misalnya, tentunya lebih senang melihat negara Teluk yang "bersatu" (terutama untuk menghadapi Iran) daripada menyaksikan mereka saling berseteru. Ini juga menjadi jawaban mengapa Amerika Serikat begitu ngoyo dalam upayanya menyudahi blokade terhadap Qatar. Keinginan Amerika Serikat agar blokade segera diakhiri antara lain diungkapkan dalam Qatar-US Strategic Dialogue yang diselenggarakan pada September lalu di Washington.

Lalu, apa hubungannya dengan Turki? Erdogan tentu tidak ingin mengatakan bahwa Qatar lebih baik hidup dalam blokade tetangganya. Namun, kalkulasinya jelas, jika blokade terhadap Qatar berakhir, maka hal tersebut akan membuat Erdogan harus menata ulang strateginya di Timur Tengah. Dengan kata lain, jika blokade diakhiri, kemungkinan Qatar segera menjalin hubungan rapat kembali dengan tetangganya (terutama dengan Arab Saudi yang memiliki batas darat dengan Qatar) menjadi sangat terbuka. Tentu bukan berarti Qatar akan meninggalkan Turki, namun normalisasi hubungan dengan tetangganya tersebut akan membuat Qatar dapat mengurangi ketergantungan terhadap Ankara.

Bagaimana dengan Jakarta?

Kemungkinan blokade Qatar akan berakhir dan peta politik di Timur Tengah yang berubah adalah satu di antara pertimbangan Erdogan untuk segera mendekati negara lain untuk dijadikan sekutu, salah satunya Indonesia.

Erdogan sendiri figur yang cukup populer di Indonesia, terutama di kalangan kelompok Islam. Namun, itu bukan berarti diplomasi Erdogan terhadap Indonesia akan mudah. Kesan "bawah sadar" bahwa Erdogan dekat dengan kelompok (oposisi) Islam di Indonesia akan menyulitkan usahanya dalam menjadikan Indonesia sebagai sekutu baru.

Di sisi lain Indonesia juga bukan pemain amatir dalam panggung politik internasional. Indonesia berpengalaman dalam mendayung, bukan hanya di antara dua karang, tetapi di antara banyak karang kepentingan internasional. Dalam menghadapi diplomasi Erdogan, Indonesia tidak perlu canggung. Secara politis, saat ini dapat dikatakan kepentingan Ankara terhadap Jakarta lebih besar daripada sebaliknya. Dengan ini, Jakarta seharusnya dapat mengambil keuntungan (setidaknya secara ekonomi) dari posisi Ankara tersebut.

Ali Murtado pemerhati politik internasional, tinggal di Doha

(mmu/mmu)