Analisis Zuhairi Misrawi

Masa Depan Muhammad bin Salman

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 15 Okt 2020 15:30 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Hari-hari ini menjadi momen yang paling menggelisahkan bagi Muhammad bin Salman (MBS). Pasalnya, sejumlah lembaga survei menjelang Pilpres Amerika Serikat pada November nanti sangat tidak berpihak pada dirinya. Presiden AS, Donald Trump, yang selama ini menjadi mitra strategisnya di Timur-Tengah hampir dipastikan keok dalam perhelatan politik empat tahunan itu.

Pesan utamanya, warga AS menghendaki perubahan kepemimpinan politik dalam empat tahun yang akan datang. Joe Biden, Capres dari Partai Demokrat diunggulkan 17% kurang lebih tiga minggu menjelang pilpres. Keunggulan Biden dianggap sangat fantastis jika dibandingkan dengan pilpres tahun-tahun sebelumnya yang selalu menggambarkan betapa ketatnya persaingan menuju Gedung Putih. Warga AS menggarisbawahi kegagalan Trump dalam menangani pandemi, ekonomi, amburadulnya kebijakan luar negeri.

Selain Trump dan Partai Republik, sosok yang sedang gelisah, gundah, dan resah adalah MBS. Kemenangan Biden akan menjadi mimpi buruk bagi masa depannya di Arab Saudi dan kawasan. Jauh-jauh hari Biden sudah mendesak agar siapapun yang terlibat dalam pembunuhan yang amat sadis terhadap Jamal Khashoggi, jurnalis dan kolomnis The Washington Post, dibawa ke meja hijau.

Aktor utama pembunuhan harus bertanggung jawab penuh, karena tergolong pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang amat berat. Tidak dapat dibenarkan pada zaman yang sangat menjunjung tinggi HAM dan kebebasan berpendapat justru ada pihak-pihak yang melakukan pembunuhan amat sadis terhadap seorang jurnalis dan kolomnis yang mempunyai kewarganegaraan ganda, AS dan Arab Saudi.

Khashoggi adalah seorang jurnalis Arab Saudi yang selama ini sangat dekat dengan lingkaran kerajaan. Tetapi dalam dua tahun terakhir sangat kritis terhadap elite kerajaan Arab Saudi, terutama sejak naiknya MBS ke tampuk kekuasaan. Arab Saudi terlihat sangat beringas terhadap warga yang mempunyai pandangan kritis dan kebijakan luar negeri menjadikan kawasan Timur-Tengah sebagai "neraka", khususnya konflik Yaman, blokade Qatar, instabilitas Bahrain, dan lain-lain.

Menurut Khashoggi, kebijakan MBS yang ugal-ugalan tersebut tidak hanya mengancam kawasan, tetapi sangat dimungkinkan dapat mengancam stabilitas politik di dalam negeri. Penangkapan besar-besaran terhadap jurnalis, ulama, dan aktivis dapat meninggalkan luka dan bara yang akan menciptakan instabilitas dan ketidakpercayaan terhadap kerajaan.

Sebagai sosok yang lama bergaul dan berinteraksi dengan lingkaran kerajaan, sebenarnya Khashoggi mempunyai kepercayaan terhadap kerajaan untuk melanjutkan kepemimpinannya untuk melayani warga, bahkan warga dunia, karena Raja Arab Saudi juga dikenal sebagai pelayan dua kota suci: Mekah dan Madinah (khadim al-haramain).

Namun MBS mempunyai kalkulasi lain; ia ingin menjadi sosok tangan besi yang dapat menguasai penuh kekuasaan di negeri kaya minyak itu. Ia tidak ingin ada suara-suara kritis yang dapat merendahkan dan mengurangi kepercayaan publik terhadap kemampuannya memimpin. Sebab itu, popularitas MBS sangat luar biasa di kalangan milenial Arab Saudi, terutama saat deklarasi moderasi Islam yang ditandai dengan diperkenankannya perempuan mengemudi mobil, berbisnis, dan ikut serta dalam militer.

Bulan madu itu tidak berlangsung lama, karena MBS belakangan makin tidak toleran terhadap pandangan-pandangan kritis atas sejumlah kebijakannya yang dapat merugikan dan mengancam keamanan di dalam negeri Arab Saudi. Yang paling mendapatkan perhatian adalah kebijakan Arab Saudi untuk menggempur warga Houthi di Yaman Utara. Keterlibatan Arab Saudi dalam konflik politik di Yaman sama sekali tidak menguntungkan, karena terlibat dalam konflik politik dalam negeri Yaman.

Begitu pula soal blokade Qatar yang menyebabkan retak dan limbungnya Liga Arab. Kebijakan MBS terhadap Qatar juga terbukti gagal total. Alih-alih membuat Qatar lemah, justru dukungan Turki terhadap Qatar semakin membuktikan betapa Arab Saudi semakin kehilangan mitra strategisnya di kawasan. Buktinya, Qatar masih bisa bertahan hingga sekarang meski dikucilkan oleh Arab Saudi dan mitra strategisnya. Qatar dengan kekuatan jaringan gurita al-Jazeera mampu membuka kedok kepemimpinan MBS.

Posisi Turki yang membuka secara transparan perihal keterlibatan MBS dalam pembunuhan Khashoggi membuktikan betapa blokade terhadap Qatar telah melemahkan posisinya di kancah internasional. Terbukti sejumlah perusahaan yang ingin investasi untuk megaproyek Neom 2030 satu persatu mengurungkan niatnya karena dugaan pembunuhan sadis terhadap Khashoggi notabene diduga kuat melibatkan MBS.

Dalam konteks tersebut, MBS sedang memasuki masa-masa yang sama sekali tidak menguntungkan dirinya di kawasan dan dunia internasional. Kemenangan Biden dalam Pilpres AS yang akan datang dapat membawa dirinya pada posisi yang serba sulit. Apalagi jika Biden memenuhi janjinya untuk membuka kasus hukum kematian Khashoggi.

Selain itu, Biden akan membuka kembali perbincangan dengan Iran yang sudah dilakukan oleh Presiden Obama dalam empat tahun terakhir kepemimpinannya. Biden memandang perlu keseimbangan politik, karena bagaimanapun dalam realitas politik, Iran mempunyai pengaruh kuat di kawasan. Pembunuhan secara kejam terhadap Qassem Soelaimani yang dikomandoi langsung oleh Trump telah menjadikan posisi Iran semakin kuat. Sebaliknya, posisi AS semakin terjepit karena Trump terus menambah musuh AS di kawasan.

Maka dari itu, keinginan Biden untuk membuka kembali perbincangan dengan Iran akan menjadikan posisi MBS semakin kehilangan legitimasi politiknya, baik di dalam negeri maupun di kawasan. Sebab selama ini MBS selalu memainkan kartu Iran dalam berbagai kebijakan yang diambilnya. Tentu saja, kebijakan MBS ini sejalan dengan narasi politik yang dimainkan Trump dan Netanyahu. Berbagai kerja sama politik yang didesain untuk membuka hubungan diplomatis antara United Emerate Arab dan Bahrain dengan Israel jelang Pilpres, pesan di baliknya, bahwa AS dan Israel bersama Arab Saudi berhasil mengisolasikan Iran.

Semua itu hanya akan menjadi fatamorgana jika Biden memenangkan Pilpres AS. Taruhannya akan sangat berat bagi MBS, karena AS akan mendesain ulang kebijakan luar negerinya di kawasan. Biden akan memulai kembali perundingan solusi "dua negara hidup berdampingan secara damai" antara Israel dan Palestina (two states solutions) serta normalisasi hubungan dengan Iran.

Dan, jika Biden memenuhi janjinya untuk mengadili aktor pembunuhan terhadap Khashoggi, tentu hal tersebut akan menjadi ajal kematian bagi kursi kekuasaan MBS. Sungguh, jika ini terjadi, maka MBS akan menghadapi tsunami politik, meski mungkin akan sangat baik bagi masa depan Arab Saudi tanpa MBS.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)