Kolom

Menilik Potensi Wisata Virtual Bali

Adolf Roben - detikNews
Kamis, 15 Okt 2020 10:32 WIB
Wisata Virtual
Foto ilustrasi: I Gede Leo Agustina/d'Traveler/detikTravel
Jakarta -
Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang luar biasa terhadap kondisi perekonomian Bali. Pariwisata Bali menjadi salah satu sektor yang paling terdampak efek pandemi. Menurut data BPS Denpasar, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Agustus 2020 di Bali tercatat hanya sejumlah 22 kunjungan atau turun hampir sebanyak 100% jika dibandingkan dengan Agustus 2019 (y on y).

Dampak dari turunnya pariwisata Bali juga dirasakan oleh industri lainnya, terutama usaha akomodasi dan perhotelan, industri makanan dan minuman, dan industri hiburan. Menurunnya jumlah wisman juga memberi pukulan keras bagi perekonomian Bali secara keseluruhan yang salah satu efeknya bisa dirasakan dari deflasi sebanyak 5 kali di kota Denpasar selama periode Januari – September 2020 (data BPS Kota Denpasar).

Hal ini perlu diwaspadai karena deflasi di kota Denpasar sebagai salah satu pusat perekonomian Bali dapat menjadi penanda turunnya daya beli masyarakat Bali.

Kemudian muncul wacana untuk kembali membuka pintu pariwisata bagi wisman sebagai solusi menyelamatkan perekonomian Bali. Tentu tidak bisa langsung disimpulkan bahwa wacana tersebut kurang bijak mengingat pentingnya industri pariwisata dan kunjungan internasional bagi Bali. Tetapi di tengah bertambahnya jumlah kasus Covid-19 di Bali, apakah tidak ada alternatif lain yang bisa diambil bagi industri pariwisata Bali?

Memanfaatkan Teknologi

Wisata virtual adalah wisata dengan memanfaatkan teknologi IT yang ada saat ini. Dengan bermodalkan komputer/laptop, jaringan, dan aplikasi virtual meeting pengunjung dapat mengikuti wisata secara daring. Banyak lokasi pariwisata saat ini menyediakan layanan ini baik gratis maupun berbayar. Beberapa penyedia wisata virtual pun menyediakan tur guide yang akan memandu wisata layaknya wisata konvensional.

Di Bali terdapat beberapa lokasi wisata yang bisa dikunjungi secara virtual menggunakan Google Streetview seperti Pura Uluwatu, Pura Tanah Lot, Garuda Wisnu Kencana Cultural Park, dan beberapa tempat lainnya. Tetapi wisata virtual ini kebanyakan masih menggunakan layanan aplikasi pihak ketiga, dan belum dikelola secara profesional oleh pengelola tempat wisatanya sendiri. Celah ini dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bagi industri pariwisata Bali beserta usaha turunannya.

Wisata virtual dapat menjadi alternatif sumber pendapatan bagi industri pariwisata Bali selama dan bahkan setelah masa pandemi jika dikelola dengan baik. Tapi apakah pengunjung mau membayar untuk berwisata virtual ke Bali? Lalu apakah potensi pendapatannya dapat sebesar wisata konvensional?

Layak Dipertimbangkan

Bali menyimpan berbagai daya tarik khas yang hanya bisa ditemui di Pulau Dewata ini, mulai dari seni-budaya, arsitektur bangunan, sampai pemandangan eksotis yang menjadi alasan kunjungan wisatawan dari seluruh dunia. Hanya saja membutuhkan biaya yang relatif besar, alokasi waktu liburan khusus, dan akomodasi wisata bagi wisman jika ingin berkunjung ke Bali.

Ini merupakan ceruk pasar bagi wisata virtual untuk menyediakan sensasi wisata Bali bagi wisman yang belum bisa berkunjung langsung ke Bali. Target pasar di seluruh dunia, dengan jumlah tidak terbatas dalam suatu waktu, adalah potensi yang ditawarkan wisata virtual bagi pengelola wisata di Bali.

Potensi pendapatan yang bisa didapatkan dari wisata virtual berbayar berbanding lurus dengan jumlah wisatawan yang mengikuti wisata virtual, sehingga dapat bersaing dengan pendapatan wisata konvensional jika dikelola dengan promosi dan pengelolaan yang baik.

Wisata virtual juga dapat menjadi ajang promosi bagi wisman untuk berkunjung langsung ke Bali setelah masa pandemi berakhir. Selain itu tak ubahnya wisata konvensional, wisata virtual juga dapat mengikutkan faktor pendukung pariwisata seperti pertunjukan musik, tari, kuliner, kesenian, dan penjualan produk kerajinan tangan, yang dapat menjadi pendapatan bagi masyarakat Bali.

Wisata virtual dapat menjadi solusi alternatif yang dapat dikembangkan dan dibina oleh pemerintah daerah Bali. Tentu saja membutuhkan perencanaan matang dan promosi yang baik agar implementasi wisata dapat berjalan baik di Bali, tetapi melihat potensi besarnya maka alternatif ini layak dipertimbangkan oleh pemerintah dan pengelola wisata konvensional di Bali.

(mmu/mmu)