"Common Sense" Ishadi SK

Mata Air, Air Mata

Ishadi SK - detikNews
Selasa, 13 Okt 2020 19:00 WIB
ishadi sk
Ishadi SK
Jakarta -

Saya menulis tentang mata air terinspirasi acara Pangeran Punce Wakil Pemimpin Redaksi di CNBC dalam program wawancara dengan Corine Tap, CEO Danone-Aqua. Program selama satu jam itu telah memberi gambaran lengkap tentang apa dan bagaimana AMDK (Air Mineral Dalam Kemasan) di Indonesia.

Awal sejarah AMDK itu tahun 1976 Tirto Utomo wartawan sekaligus aktivis organisasi olahraga internasional, ketika itu hendak bertemu Raymond Todd pimpinan perusahaan Amerika Serikat. Pertemuan ditunda karena istri Raymond terkena gangguan pencernaan setelah minum air bersih yang dimasak. Peristiwa itu mendorong Tirto Utomo untuk mulai memproduksi air dalam kemasan yang telah dimurnikan.

Setelah melakukan riset di berbagai negara khususnya Thailand, pada Februari 1973 Tirto merasa siap mendirikan PT Aqua Golden Missisippi yang memproduksi air kemasan pertama di Indonesia.

Usaha awalnya berjalan baik. Namun 10 tahun kemudian menghadapi kesulitan modal untuk mengembangkan usaha. Tahun 1987 Tirto Utomo memutuskan menggandeng grup Danone perusahaan makanan dan air mineral terbesar di Eropa. Lewat dialog panjang disepakati pembagian saham grup Danone 79% sementara Aqua Tirto Utomo 21% dengan nama baru Danone Aqua.

Dalam waktu singkat didorong oleh penyertaan modal yang besar, Danone Aqua tumbuh dan menguasai pangsa pasar AMDK di Indonesia. Menurut Pangeran Punce, tahun 2019 pangsa pasar AMDK seluruh Indonesia mencapai 30 milyar liter per tahun. Jumlah produksi AMDK terbesar di Asia Tenggara. Perusahaan AMDK juga sudah mengekspor ke beberapa negara Asia Tenggara diantaranya Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam dan Filipina.

AMDK di Indonesia merupakan bisnis yang amat cepat berkembang atas dasar dua alasan, pertama jumlah penduduk yang sangat besar. Kedua adanya sumber mata air yang sangat banyak di seluruh Indonesia. Sementara itu Danone Aqua dalam waktu 10 tahun sudah menguasai pasar utama di Pulau Jawa dan Bali serta seluruh wilayah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Pada waktu yang bersamaan sudah dibangun beberapa pabrik di Jawa dan Bali.

Bisnis air memang amat sangat menguntungkan, karena tidak memerlukan pengolahan yang sulit. Sejak 10 tahun terakhir sudah menemukan system kemasan yang sangat efektif. Yaitu penemuan kemasan air di dalam galon 19 liter, yang menjadi produk unggulan para industri air minum karena mudah dikirim, lebih murah dan mudah didistribusikan ke hampir semua rumah maupun gedung perhotelan menggunakan gallon besar seperti itu. Karena sedemikian mudah membuat AMDK, terdapat 2.000 pabrik kecil di desa-desa hingga kampung seluruh Indonesia.

Masalah air tidak hanya air mineral saja, namun juga air untuk rumah tangga. Tidak mudah memang untuk mengembangkan jaringan air untuk kebutuhan sehari-hari di rumah-rumah berbagai kota. Salah satu sistem pengairan perkotaan terbaik adalah Surabaya. Di Surabaya pengelolaan air untuk rumah tangga yang dibuat oleh PDAM termasuk yang terbaik di seluruh Indonesia; Wali Kota Tri Rismaharini dengan cerdas berhasil merekrut Dirut PDAM Surabaya yang terbaik bernama Mujiaman.

Saya terkesan dengan temuan Ibu Risma berhasil merekrut Mujiaman. Pada podcast Dahlan Iskan, diceritakan secara panjang lebar bagaimana caranya Ibu Risma merekrut Mujiaman yang selama tiga tahun sebelumnya gagal untuk merekrut seorang Dirut PDAM yang mumpuni. Mujiaman sebelumnya merupakan lulusan terbaik Institut Teknologi Surabaya (ITS). Ia bekerja pertama kali dengan perusahaan Jepang, lima tahun kemudian ia bekerja di perusahaan milik Amerika Serikat selama dua puluh tahun. Sampai kemudian, kepincut Bu Risma.

Hanya dalam waktu tiga tahun Mujiaman bisa membuat Surabaya memiliki sistem saluran air PDAM terbaik di Indonesia dengan membangun jaringan PDAM ke semua rumah tangga, perkantoran, bangunan dan pertokoan se-Surabaya. Sebagai ilustrasi, sebelumnya di sepanjang rel kereta api tidak boleh ada pipa air. Sehingga setiap rumah di sepanjang kawasan tersebut harus menyisakan uang 600.000 rupiah per bulan hanya untuk membeli air kebutuhan rumah tangga.

Mujiaman kemudian menemukan bahwa ada celah peraturan hukum untuk membangun jaringan pipa air di sepanjang rel di dalam kota. Hasilnya, 10.000 orang yang bertahun-tahun harus membeli air dengan harga mahal berubah menjadi sistem pengalihan air PDAM yang jauh lebih murah.

Mujiaman sekarang sudah tidak lagi bekerja sebagai Dirut PDAM Surabaya, namun dia meninggalkan legacy berupa sistem perairan perumahan dan bangunan terbaik di Indonesia yang bisa dinikmati oleh semua penduduk Surabaya dan sekitarnya.

Ishadi SK Komisaris Transmedia

(mmu/mmu)