Sentilan Iqbal Aji Daryono

Beruntung Punya Bahasa Indonesia

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 13 Okt 2020 17:07 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

"Apakah kalian siap berbahasa Indonesia dengan baik dan benar? Apakah kalian siap membawa bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dihormati di dunia?"

"Siaaap!"

Di forum itu, para mahasiswa tampak bersemangat sekali menjawab pertanyaan seorang pembicara. Mereka berteriak mantap seakan-akan yakin sepenuhnya bahwa nasib bahasa Indonesia ada di tangan mereka.

Dialog dahsyat itu terjadi di hadapan saya tepat dua tahun silam di sebuah kota di pantai utara Pulau Jawa. Hari itu saya datang ke suatu ajang perayaan Bulan Bahasa. Oktober memang ditetapkan sebagai Bulan Bahasa. Konon karena di bulan ini Sumpah Pemuda dideklarasikan, sedangkan di Sumpah Pemuda ada pengakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Saya sangat menghormati semangat para mahasiswa itu. Namanya juga anak-anak muda. Tapi diam-diam saya menggerutu sambil bertanya-tanya, sejak kapan sebuah bahasa mencapai puncak kejayaannya hanya gara-gara dipakai secara baik dan benar?

Bahwa proses sejarah pengakuan sebuah bahasa persatuan wajib dihargai, saya sepakat. Bahwa belakangan terbukti bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan nasional paling sukses sedunia, saya juga setuju (setidaknya Ben Anderson mengatakan demikian, dan mustahil saya berani berbeda pendapat dengan Ben). Tetapi, membayangkan kejayaan sebuah bahasa pada level dunia hanya dari ketertiban penggunaannya saja rasa-rasanya ilusi belaka.

Coba sekarang lihat saja dari pengalaman yang paling gampang diakses. Tiap kali Anda nonton film Hollywood, apakah Anda menyaksikan penggunaan bahasa Inggris yang baik dan benar sesuai dengan standar TOEFL dan IELTS? Saya tidak percaya. Lalu bagaimana bisa bahasa Inggris jadi bahasa yang paling berwibawa di dunia?

Dominasi manusia-manusianya adalah kata kuncinya. Para penutur bahasa Inggris, yakni Sekutu Amerika-Britania menjadi pemenang Perang Dunia II. Setelah itu, kekuasaan ekonomi global mereka menggurita, menyebar ke setiap sudut dunia, bersama ekspansi budaya lewat film dan lain-lain yang juga luar biasa.

Hasilnya kita tahu, bahasa Inggris menjadi bahasa internasional paling perkasa. Karena apa? Ya karena dominasi para penuturnya dalam medan ekonomi, politik, dan budaya. Bukan karena kedisiplinan mereka dalam berbahasa Inggris yang baik dan benar.

Gejala serupa sudah pernah terjadi ratusan tahun sebelumnya ketika kekuasaan Kekaisaran Romawi menyebar di mana-mana. Jumlah penutur bahasa Latin itu sedikit. Tapi untuk menjalankan kekuasaan, Romawi menggunakan bahasa Latin di setiap jalur administrasi pemerintahan mereka. Maka, kuatlah bahasa Latin pada zamannya.

Dua milenium setelah masa kejayaan Julius Caesar, saya masuk kuliah dan memilih jurusan Sastra Jepang. Saya tidak tahu apakah orang-orang Jepang berbahasa Jepang dengan baik dan benar ataukah tidak. Yang jelas, waktu itu saya mendapatkan gambaran bahwa tentakel industri-industri Jepang menyebar di Indonesia, ada banyak peluang untuk jadi buruh mereka, dan karena itulah kemampuan berbahasa Jepang menjadi salah satu alat terpentingnya.

(Bahwa kemudian saya lulus tanpa bisa bahasa Jepang, tolong soal itu janganlah terlalu dibesar-besarkan.)

Belakangan, pola yang sama terjadi pula pada bahasa Mandarin. Setelah bahasa Inggris, tren belajar bahasa asing di dunia berkembang ke bahasa Mandarin. Kenapa? Apakah orang-orang Tiongkok menuturkan bahasa Mandarin dengan baik dan benar? Saya tidak tahu. Tapi kok rasanya lebih masuk akal melihat ekspansi ekonomi China di seluruh dunia sebagai alasannya. Dengan demikian, siapa pun yang belajar bahasa Mandarin berharap bisa membuka banyak peluang baru untuk mengakses celah-celah kesempatan ekonomi bersama imperium bisnis China.

Saya jadi ingat cerita, dulu kala di Australia bahasa Indonesia diajarkan secara cukup masif. Tentu saja karena komunikasi budaya dengan negara tetangga, Indonesia, sangat diperlukan. Apalagi pada masanya Indonesia relatif disegani oleh Australia. Namun, 2019 lalu, muncul kejadian sekolah di Canberra menghapuskan pelajaran bahasa Indonesia setelah bahasa kita itu diajarkan selama 40 tahun.

Kejadian itu bersamaan dengan meningkatnya tren pengajaran bahasa Mandarin di sana. Sejak lebih dari satu dekade terakhir, sekolah-sekolah di Australia semakin gencar menyelenggarakan sekolah bilingual alias dwibahasa, dengan bahasa pengantar Inggris dan Mandarin.

Dari dua fakta itu saja sudah terlihat gejala apa yang sedang terjadi. Tepat sekali, Indonesia lambat laun dilupakan karena semakin kehilangan wibawa, sementara China berada pada posisi sebaliknya.

Dengan pemahaman peta besar seperti itu, ada baiknya para pengajar pelajaran Bahasa Indonesia merevisi cara pandang mereka. Mereka yang sekarang aktif membimbing para siswa di jalur-jalur daring itu sudah saatnya meninggalkan kungkungan imajinasi lama, yakni tentang berbahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai langkah utama untuk mengangkat wibawa bahasa Indonesia.

Bahwa berbahasa secara baik itu penting, saya sih oke-oke saja. Tapi kekuatan bahasa Indonesia akan secara otomatis diraih hanya jika Indonesia, negara Indonesia, dan rakyat Indonesia disegani di level dunia.

Celakanya, melihat segenap perjalanan sejarah yang kita jalani, rasanya semua itu semakin jauh panggang dari api. Sebagai satu contoh saja, boro-boro mau disegani di dunia, lha wong bahkan 59 negara menolak warga negara Indonesia masuk ke wilayah mereka gara-gara ketidakjelasan penanganan corona. Hahaha.

Maka, strategi untuk meraih mimpi indah bersama bahasa Indonesia itu mesti digeser ke soal-soal selain dominasi ekonomi-politik internasional. Itu terlalu berat, kamu nggak akan kuat. Paradigma pendidikan bahasa sebaiknya dikembangkan ke wilayah-wilayah yang kita miliki sendiri, dan bukan cuma ke perkara kedisiplinan dalam menerapkan kaidah berbahasa. Lalu apa?

Saya mengira-ngira, karya adalah salah satu jawabannya. Sudah saatnya para siswa yang belajar bahasa Indonesia diarahkan untuk banyak-banyak berkarya kreatif dalam bahasa Indonesia. Entah dalam tulisan, buku-buku, serta produk kreativitas apa pun yang tersaji dalam bahasa Indonesia, yang menggunakan keterampilan berbahasa Indonesia, dan yang bisa menjangkau pengakses seluas-luasnya.

Saya ingat satu obrolan kecil, ketika dalam sebuah penerbangan saya duduk bersebelahan dengan seorang lelaki Israel. Namanya Yigal Zur, profesinya penulis novel-novel thriller. Usai bercerita tentang keasyikannya menulis novel, Yigal berkata, "Kamu beruntung tinggal di Indonesia, menulis dalam bahasa Indonesia, dengan populasi 270 juta."

Saya menyimaknya baik-baik. Lelaki ramah itu melanjutkan:

"Aku ini menulis dalam stupid language, dengan populasi penutur cuma 8 juta, itu aja satu juta di antaranya Yahudi Orthodoks yang cuma baca buku agama, satu juta orang Arab yang hanya membaca buku dalam bahasa dan huruf Arab, satu juta Yahudi Rusia Ashkenazi yang hanya membaca dalam bahasa dan huruf Rusia, dan satu juta lagi bullsh*t people. Jadi kami cuma punya potensi pasar riil 4 juta. Itu pun tentu tidak semuanya membaca."

Saya tahu, banyak juga bullsh*t people penutur bahasa Indonesia. Tapi kesadaran bahwa penutur bahasa Indonesia di negeri sendiri itu sangat besar, semestinya mulai digunakan oleh para pengajar bahasa Indonesia sebagai bahan bakar semangat berkarya bagi murid-murid mereka.

Akhirulkalam, selamat merayakan Bulan Bahasa, tentu hanya bagi Anda yang mengimani pentingnya bahasa dan segala kekuatannya.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul, Indonesia

(mmu/mmu)