Kolom

Pekan Emas yang Dirindukan

Fathan Asaduddin Sembiring - detikNews
Sabtu, 10 Okt 2020 10:02 WIB
China Media Group
Foto: Dok. China Media Group
Jakarta -

Gembira, pulang, dan keluarga adalah tiga kata yang dapat mewakili kebuncahan rasa yang ada pada mayoritas masyarakat China saat ini. Betapa tidak, kerinduan mereka akan bertemu sanak saudara, kerabat, rekan, teman, handai taulan semua bisa terwujud pada momen 'berlebaran' yang sudah dinanti-nanti.

Paling tidak menurut Globaltimes, per tanggal 8 Oktober 2020, tercatat hanya 11 kasus baru, dengan kondisi semuanya adalah berasal dari luar China (imported). Dengan begitu, menurut laporan yang ada tersebut, China sudah 53 hari atau hampir 2 bulan tanpa kasus lokal.

Dengan penerapan karantina yang ketat bagi orang-orang yang melakukan perjalanan masuk atau keluar China, nampaknya telah membuahkan hasil sehingga persebaran kasus lokal sudah tidak ada lagi. Beberapa bentuk dari penerapan karantina yang ketat adalah semenjak keluar dari bandara, para pengunjung baik itu warga negara China atau bukan, diarahkan menuju hotel-hotel yang telah ditunjuk khusus untuk karantina 14 hari, di seluruh penjuru China.

Dari bandara ke hotel tersebut, polisi mengikuti pengiringan rombongan yang biasanya dibarengi oleh beberapa orang sekaligus menuju hotel karantina tujuan. Belum lagi ketika sampai di hotel karantina, peraturannya adalah per kamar hanya dapat diisi oleh 1 orang, ketat seperti itu.

Kalau melihat ulasan dari Washington Post pada tanggal 23 Mei 2020, yang menggambarkan kesan dari karantina tersebut adalah sesuatu yang sangat menyulitkan, mungkin itu dari satu perspektif saja. Menyulitkan juga karena hotel karantina tadi juga belum ditambah biaya kamar hotel dan pelayanannya harus ditanggung sendiri yang berkisar US$ 100 per malam nya.

Namun, kalau kita tarik pada kenyataan di awal Oktober ini, bahwasanya China telah hampir 2 bulan terbebas dari penyebaran lokal COVID-19, hal itu bisa dibilang adalah prestasi penerapan protokol kesehatan yang ketat ala mereka.

Pengalaman wabah pendemi SARS pada tahun 2002 - 2004 sesungguhnya merupakan batu loncatan dari keberhasilan pelaksanaan penerapan protokol kesehatan yang bisa dibilang tepat sasaran di China. Untuk negara-negara yang belum memiliki pengalaman mengatasi penyebaran wabah sindrom pernapasan sejenis, tentu akan sangat kerepotan menghadapi COVID-19. Belum lagi ditambah dengan faktor kepatuhan masyarakat akan 'umaro' atau pemimpin-pemimpinnya. Bisa dibilang, China sukses karena paduan dari kebijakan pemerintah yang jelas dan kepatuhan masyarakat atas kebijakan yang diambil.

Kembali ke Pekan Emas, menurut definisi yang dapat disimak dari laman China Highlights, Golden Week atau Pekan Emas ini terjadi lantaran ada dua Hari Nasional yang juga merupakan hari libur jatuh pada waktu yang bersamaan. Dua Hari Nasional tersebut adalah Hari Kemerdekaan RRT pada tanggal 1 Oktober, dan juga perayaan Pertengahan Musim Gugur.

Betapa tidak bergembiranya masyarakat China pada saat ini. Pemerintah mereka telah melaksanakan tugas dengan baik, masyarakat patuh, ditambah dengan liburan 8 hari yang dapat dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga, berwisata, melepas lelah dan penat selama di rumah, dan lain sebagainya. Menurut laman Xinhua, Provinsi Guizhou merupakan destinasi favorit pelancong domestik China memanfaatkan momen Pekan Emas ini.

China Media GroupFoto: Dok. China Media Group

Sebagai orang yang pernah studi dan bekerja di China, penulis bisa menyoroti dua hal, yaitu sikap masyarakat terhadap pemimpin, dan signifikannya Pekan Emas untuk masyarakat di China. Salah persepsi atau stereotip yang ada adalah bahwa masyarakat China takut terhadap pemerintah mereka. Hal ini bisa iya bisa tidak. Namun, kami sebagai alumnus China yang berkesempatan melihat langsung banyak hal yang terjadi di sana, juga merasakan keajegan dalam berbagai macam bidang.

Kepatuhan masyarakat terhadap pemimpin bukanlah sesuatu yang harus selalu dipandang sinis, namun kenyataannya bahwa keteraturan dalam berbagai macam hal di China juga melindungi dan membuat tenteram orang asing seperti kami yang dulu berkesempatan tinggal di sana. Hal lain bahwa Pekan Emas ini lebih kurang seperti momentum Lebaran nasional masyarakat China. Penulis ketika tiba momen liburan panjang 1 Oktober, biasanya justru memilih untuk tidak kemana-mana. Tiket-tiket kereta biasa, kereta cepat, atau pesawat harus dibeli jauh-jauh hari karena kalau tidak, sudah pasti tidak akan mendapatkan tiket perjalanan yang kita butuhkan.

Begitupun dengan tiket-tiket masuk ke lokasi-lokasi wisata populer yang dapat dipesan secara daring, kalau tidak tentu juga susah untuk mendapatkannya. Antrian orang-orang yang ingin melancong, berdasarkan pengalaman kami tinggal di China, ribuan orang mengular dengan luar biasa panjangnya. Hal yang perlu diingat, selain merencanakan perjalanan jauh-jauh hari adalah kesiapan fisik untuk mengantre dalam tempo yang cukup lama.

Namun, menurut hemat kami, dengan adanya kebijaksanaan dalam penetapan berbagai macam protokol kesehatan, berbagai macam subsidi langsung dan insentif kerja membuat sesuatu yang terlihat sebagai 'pengekangan' kembali membuahkan hasil. Dengan Pekan Emas sebagai momentum pergerakan ekonomi yang kembali bergairah, menunjukkan bahwa kebangkitan ekonomi masyarakat China bisa dibilang on the track.

Misalnya, masih dilansir oleh laman Globaltimes, dilaporkan bahwa China memprediksi akan ada sekitar 108 juta penumpang kereta yang melakukan perjalanan selama Pekan Emas ini. Perjalanan umumnya dilakukan dari kota-kota besar menuju kota atau daerah kampung halaman. Kolumnis The New York Times Vivian Wang menyebutkan ada sebanyak 550 juta perjalanan domestik selama 8 hari yang selesai pada 8 Oktober ini.

China Media GroupFoto: Dok. China Media Group

Tentu dengan ada pergerakan manusia sebanyak itu, perputaran uang di kampung halaman pun kembali bergeliat. Secara singkat, di China mengenal sistematika pelevelan pada kota atau daerah yang dinamakan Sistem Tier. Sistem Tier menggunakan angka 1-4, dengan Tier 1 adalah kota-kota utama dan Tier 2 sampai 4 memiliki signifikansi tidak sebesar Tier 1.

Seperti yang dilansir oleh laman Producereport, secara signifikan impor buah-buahan China meningkat sebanyak 14% pada angka US$ 6,33 miliar. Produk-produk buah impor yang dinikmati antara lain adalah anggur dengan merek dagang Shine Muscat asal Korea Selatan dan apel asal Selandia Baru.

Buah-buahan merupakan bentuk hadiah sempurna ketika mengunjungi sanak-keluarga ketika pulang kampung. Buah-buahan juga merupakan produk yang pas untuk menambah imunitas tubuh dengan kandungan vitamin yang beragam. Dari parameter penjualan produk buah-buahan impor ini sudah dapat diambil fakta bahwa perekonomian China sudah kembali bergeliat.

Hal lain yang menjadi sistem dukungan dari perekonomian China dewasa ini, dan yang berhubungan dengan efektivitas penanganan pandemi COVID-19 adalah dengan kemajuan teknologi. China yang sudah mencanangkan program Made in China 2025, salah satunya juga menggarisbawahi pentingnya produk teknologi tinggi dan jasa untuk menopang perekonomian di masa-masa yang akan datang. Misalnya di Beijing, sejak tahun 1999 telah memperkenalkan daerah yang secara pemasaran disebut Silicon Valley-nya China, yaitu Zona Teknologi dan Sains Zhongguancun (dibaca jhong-(k)gwan-(t)sun).

Zhongguancun merupakan sepetak area dengan gedung-gedung perkantoran, namun dikhususkan bagi perusahaan-perusahaan baik itu konvensional maupun rintisan yang bergerak di bidang teknologi informasi. Sampai pada bulan Agustus kemarin, gabungan dari pendapatan perusahaan-perusahaan yang terhimpun di area tersebut mencapai 4 triliun Yuan. Dengan pencapaian yang signifikan dialami oleh sektor elektronik, informasi, bioteknologi, dan obat-obatan baru. Walaupun dalam masa pandemi, total dana yang terpakai untuk keperluan riset dan pengembangan di seluruh area Zhongguancun tadi mencapai 182,8 miliar Yuan (1 Yuan berkisar Rp 2.000). Ini merupakan data yang dirilis oleh Biro Statistik Munisipal (Beijing) yang dikutip oleh laman Globaltimes.

China Media GroupFoto: Dok. China Media Group

Bahkan dalam masa sulit seperti ini aktivitas yang berhubungan dengan sains dan teknologi China bergeliat secara baik. Hal ini juga menjadi parameter akan konsistensi dan ketahanan sektor baru manufaktur teknologi tinggi yang sudah direncanakan untuk program Made in China 2025 tadi.

Secara ringkas, bisa dibilang signifikansi kebijaksanaan pengambilan keputusan, kepatuhan dan rasionalitas masyarakat terhadap kebijakan yang diterapkan, serta pemanfaatan produk-produk dengan teknologi tinggi, merupakan formula apik sehingga Pekan Emas yang dirindukan oleh tidak hanya masyarakat China, tetapi juga orang asing di dalam wilayah China dapat dinikmati bersama pada masa pandemi ini.

Mudah-mudahan Indonesia bisa segera terbebas dari pandemi yang berkepanjangan ini. Dan semoga para pemimpin bangsa dapat meletakkan kebijaksanaan pada segenap pengambilan keputusannya.

Fathan Asaduddin Sembiring, Co-Founder Gentala Institute, lembaga konsultansi yang berfokus pada aktivitas menjembatani para pemangku kepentingan antara Indonesia dan China.

(akn/ega)