Kolom

Peluang dan Risiko Normalisasi Hubungan Indonesia-Israel

Gufron Gozali - detikNews
Jumat, 09 Okt 2020 11:31 WIB
Pertama Kali, Menlu Israel dan Uni Emirat Arab Bertemu di Berlin
Pertama kali, Menlu UEA dan Israel bertemu di Berlin (Foto: DW News)
Jakarta -

Baru-baru ini UEA, Bahrain, dan Sudan melakukan negosiasi untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Normalisasi hubungan ini sangat menguntungkan negara-negara tersebut. Dengan normalisasi hubungan ini, UEA dan Bahrain akan meningkatkan hubungan ekonominya dengan Israel yang sangat menguntungkan. Sedangkan Sudan mendapatkan bantuan 800 juta dolar dari Amerika dan jumlah ini dapat meningkat seiring dengan komitmen yang diberikan Sudan.

Terjadi pergeseran dari negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam saat ini. Selama ini negara-negara tersebut menunjukkan sikap menentang aneksasi Israel bahkan sampai memutuskan hubungan negaranya. Namun, saat ini mereka dengan tegas menunjukkan kebijakan sebaliknya; besarnya peluang ekonomi yang didapatkan dari kerja sama dengan Israel tidak ingin disia-siakan lagi oleh negara-negara tersebut.

Indonesia bisa saja mengubah haluan kebijakan luar negerinya jika berpatokan pada kebijakan negara-negara tadi. Isi Pembukaan UUD 1945 alinea pertama dengan jelas berisi bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Ini jelas menjadi gambaran bagaimana kebijakan luar negeri Indonesia yang menolak adanya penjajahan.

Kebijakan ini pun dipertahankan tujuh Presiden Indonesia selama lebih dari tujuh puluh tahun. Bahkan dalam rentang waktu 10 tahun terakhir Indonesia telah berkontribusi dalam menyalurkan bantuan teknis sebanyak 10 juta dolar. Dan berhasil mengumpulkan bantuan kemanusiaan dengan jumlah yang cukup sebar yakni 7,8 juta dolar selama 3,5 tahun.

Di tingkat yang lebih tinggi Indonesia pun menunjukkan komitmennya yang kuat, dengan secara aktif menyuarakan isu kemerdekaan Palestina di PBB. Namun, kita harus melihat dukungan ini bukan hanya dari satu sisi saja. Jika dilihat dari perspektif yang lain, pemerintah memberikan dukungannya kepada Palestina bukan hanya didasarkan pada motif kemanusiaan, namun lebih kepada mengamankan suara mayoritas umat Islam.

Namun dalam pergulatan politik global tidak ada yang pasti. Bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun nanti Indonesia bisa menormalisasikan hubungannya dengan Israel. Banyak sekali aspek yang dapat dijajaki dari normalisasi hubungan ini. Jika tidak ingin menormalisasi hubungannya secara penuh, Indonesia dapat meniru kebijakan yang dilakukan oleh Turki dengan terus mendukung kemerdekaan Palestina, namun tidak menutup kerja sama dengan Israel dengan didasarkan pada beberapa alasan khususnya ekonomi. Ini membuktikan bahwa Indonesia bisa melangkah pada dua sisi.

Menjadi Peluang

Israel merupakan negara dengan perkembangan teknologi yang cukup maju terutama di bidang militer, farmasi, dan pertanian. Jika Indonesia bisa menormalisasi hubungan luar negerinya dengan Israel, ini menjadi peluang yang bagus bagi Indonesia. Dengan bekerja sama dengan Israel, Indonesia dapat mengembangkan teknologi di bidang konektivitas dan pertahanan digital serta memaksimalkan prospek perdagangan yang mencapai angka 193 juta dolar AS.

Manfaat lain yang akan didapatkan oleh Indonesia jika bekerja sama dengan Israel yakni akan terjadi pelonjakan wisatawan dari kedua negara. Seperti yang kita tahu, umat kristiani Indonesia melakukan perjalanan ibadah ke Israel karena menjadi salah satu tempat suci untuk umat Kristen; begitu juga dengan umat Islam, Al-Aqsha sebagai salah satu tempat suci juga dapat dikunjungi dengan lebih mudah oleh umat Islam di Indonesia.

Dan, Indonesia bisa mendapatkan bantuan luar negeri dari Amerika seperti yang didapatkan Sudan.

Bukan Mendukung Penjajahan

Normalisasi hubungan dengan Israel bukan berarti Indonesia mendukung penjajahan yang dilakukan oleh Israel dan melupakan perjuangan terhadap kemerdekaan Palestina. Dengan adanya normalisasi ini, Indonesia dapat lebih aktif mendorong kemerdekaan Palestina karena mereka memiliki hubungan dengan Israel. Akan ada dialog-dialog yang bisa dilakukan kedua negara yang bisa jadi mengarah pada kemerdekaan Palestina, dan hubungan kedua negara bisa mengarah pada ketergantungan ekonomi Indonesia dan Israel.

Dan, dengan adanya normalisasi ini, hubungan Indonesia dengan Amerika akan lebih baik lagi dan dapat mengimbangi pengaruh China di Indonesia. Dengan semakin baiknya hubungan dengan Amerika, maka secara tidak langsung Amerika akan membantu lobi-lobi Indonesia yang selama ini tersendat.

Saat ini dapat dilihat bahwa ada pergeseran kekuatan dalam hubungan Israel dan Amerika Serikat --Israel dibutuhkan oleh Amerika Serikat daripada sebaliknya. Hal ini karena Israel menjadi salah satu kunci bagi Amerika untuk menguasai Timur-Tengah.

Upaya normalisasi hubungan ini pernah dilakukan oleh Presiden Gus Dur, namun hanya berakhir sebatas wacana karena mendapatkan tentangan yang besar dari dalam negeri. Pada zaman Presiden Soeharto pada 1980 Indonesia bahkan pernah melakukan kerja sama secara diam-diam dengan Israel. Indonesia melalui Amerika menyamarkan pembelian pesawat Israel sebanyak 32 unit agar dapat menghindari kemarahan masyarakat Indonesia.

Namun, akan ada tantangan yang besar dari dalam negeri dan luar negeri bagi Indonesia. Selama ini masyarakat Islam selalu diarahkan untuk membenci Israel dan sikap ini telah mendarah daging. Ini bukan tanpa alasan pemerintah dan media masa secara aktif menampilkan citra buruk Israel dalam artian banyak berita yang tidak berimbang. Padahal banyak sekali perspektif dan manfaat yang bisa didapatkan jika bekerja sama.

Sangat Berisiko

Umat Islam mayoritas akan menolak hubungan ini dan akan hilangnya stabilitas di dalam negeri, bahkan yang terburuk bisa saja terjadi peristiwa seperti yang dialami oleh Anwar Shadat yakni dirinya dibunuh setelah menyetujui perjanjian Kamp David antara Mesir dan Israel. Di luar negeri pun pasti akan ada penolakan yang kuat dari tetangga dan sekutu Indonesia seperti Malaysia dan negara-negara Islam lainnya. Dan ini berdampak pada hubungan bilateral bagi Indonesia.

Ini akan semakin mendorong gerakan teroris yang ada di Tanah Air. Seperti yang kita tahu gerakan teroris di Indonesia sangat subur, dan jika Indonesia benar-benar menormalisasikan hubungannya dengan Israel tentu ini menjadi legitimasi bagi kelompok tersebut untuk meningkatkan aktivitas terornya, ditambah dengan tren terorisme yang semakin luas akan memperburuk keadaan yang ada di dalam negeri.

Normalisasi ini juga menjadi sebuah pengkhianatan bagi perjuangan bapak-bapak bangsa kita yang telah lama memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan mencederai isi UUD 1945 yang secara jelas melarang penjajahan di atas dunia. Melihat banyaknya kemungkinan terburuk yang didapatkan Indonesia, normalisasi hubungan dengan Israel sangat berisiko bagi stabilitas nasional Indonesia.

(mmu/mmu)