Kolom

COVID-19, Benarkah "Airborne"?

Tjandra Yoga Aditama - detikNews
Rabu, 07 Okt 2020 19:20 WIB
candra yoga
Prof Tjandra Yoga Aditama (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Sebagai suatu penyakit yang baru beberapa bulan umurnya -pertama dilaporkan 31 Desember 2019, 10 bulan yang lalu- maka selalu saja ada perkembangan ilmu pengetahuan tentang COVID-19. Harus diakui juga bahwa terkadang terkesan informasinya berubah-ubah, dan itu sedikit banyak dapat dimaklumi karena penemuan ilmiah terus berkembang.

Salah satu yang banyak dibahas adalah bagaimana penularan penyakit ini, apakah memang langsung berdekatan dengan pasien (bergejala atau OTG), atau apakah juga mungkin virusnya beterbangan di udara bebas dan terhirup oleh siapa saja yang kebetulan lewat. Setidaknya ada berbagai pernyataan dari CDC (Center of Disease Control) Amerika Serikat dan juga dari WHO (World Health Organization) tentang hal ini, yang kemudian jadi berita dan luas dibicarakan dengan berbagai interpertasinya.

Droplet

Sudah banyak kita ketahui bahwa virus SARS CoV2 penyebab penyakit COVID-19 menyebar melalui percikan dahak (disebut droplet) dari seseorang yang positif menderita penyakit, baik dia bergejala atau tidak. Kalau ada virus dalam paru paru nya dan seseorang batuk, bersin, atau bernyanyi, atau berbicara dan menghembuskan napas keras misalnya, maka droplet yang mengandung virus dapat keluar juga.

Beberapa bulan yang lalu dilaporkan penularan penyakit pada sejumlah peserta latihan paduan suara di Amerika misalnya, juga ada penelitian di luar negeri tentang apakah menyanyikan lagu "Happy birthday to you" di ruang pesta akan menularkan COVID-19 atau tidak.

Droplet ini dapat dikategorikan dua macam. Pertama adalah yang droplet ukuran besar yang bahkan mungkin kelihatan oleh mata, yang dalam waktu amat singkat (hitungan detik atau menit) ada di udara dan lalu jatuh ke bumi. Yang ke dua adalah droplet yang ukuran kecil, dan juga partikel yang terbentuk kalau droplet kecil mengering dalam waktu cepat di udara bebas. Droplet kecil dan partikel ini mungkin saja tetap ada di udara cukup lama, bahkan dilaporkan sampai hitungan jam tergantung situasi yang ada. Bagaimanapun, tentu konsentrasi droplet di udara akan bergantung pada ukuran, dilusi, kecepatan angin dan faktor lingkungan lainnya.

Virus penyebab penyakit paru dan saluran napas secara umum (bukan hanya COVID-19) menular melalui 3 cara, kontak langsung, droplet dan airborne. Kontak langsung maksudnya berhubungan langsung dengan pasien yang positif, misalnya berjabatan tangan, atau berpelukan singkat, dan juga kontak pada permukaan benda yang telah terkontaminasi virus. Kalau penularan melalui droplet maksudnya terpapar dalam jarak 1-2 meter (biasa disebut 6 feet) dari pasien. Sementara itu, penularan airborne terjadi lewat droplet yang ada melayang di udara, jaraknya lebih dari 1-2 meter dari pasien dan waktunya mungkin lama bahkan sesudah pasien meninggalkan tempat itu.

Tentu saja dapat saja terjadi gabungan berbagai cara penularan, misalnya saja kontak dekat sambil salaman dan juga sambil terhirup droplet yang dibatukkan, dan lain-lain. Ada satu istilah lagi dalam hal ini, yaitu aerosol, yang dapat berarti droplet yang kecil dan juga dapat berarti semacam kumpulan droplet kecil di udara. Dalam publikasi WHO, Juli 2020 disebut juga aerosol ini sebagai droplet nuclei. Publikasi WHO ini membagi ukuran droplet menjadi dua, >5-10 μm disebut sebagai respiratory droplets dan <5μm disebut droplet nuclei atau aerosol.

Di rumah sakit (RS) dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya maka aerosol dapat terbentuk kalau dokter melakukan pemeriksaan endoskopi paru (namanya bronkoskopi) misalnya, atau melakukan intubasi pada pasien yang akan dipasang ventilator di ICU, atau mungkin juga pada pengobatan dengan inhalasi dan lain-lain. Semua prosedur ini disebut aerosol-generating procedures yang mungkin dapat jadi sumber penularan airborne di lingkungan RS dan klinik, dan karena itu perlu akomodasi teknik ruangan seperti harus bertekanan negatif, penggunaan masker respirator khusus dan lain-lain. Ini semua di atur dalam protokol penggunaan ruangan yang menangani pasien COVID-19 di RS dan klinik.

Airborne

Pada September yang lalu CDC (Center of Disease Control) Amerika Serikat mempublikasikan informasi tentang kemungkinan penularan COVID-19 melalui airborne di udara bebas, tapi publikasi itu segera dicabut kembali dan disebutkan ada kesalahan dalam mempublikasikannya. Hal ini cukup menghebohkan. Akhirnya, pada 5 Oktober beberapa hari yang lalu CDC lalu membuat publikasi yang baru dan resmi dan banyak dikutip di media massa yang sebagian menyebutkannya bahwa memang ada penularan COVID-19 secara airborne.

Sebenarnya, isi publikasi terbaru ini tidak sepenuhnya demikian. CDC menyatakan bahwa "pada keadaan tertentu" ada potensi bahwa COVID-19 dapat menyebar secara airborne, lengkapnya dalam bahasa Inggrisnya disebutkan "under the special circumstances favorable to potential airborne transmission."

Ada 3 keadaan yang disebutkan bahwa penularan airborne mungkin dapat terjadi. Pertama, pada ruangan tertutup di mana ada pasien (atau OTG) yang COVID-19 positif berada dalam satu ruangan dengan orang lain, atau ada orang yang masuk ke ruangan tertutup itu beberapa saat sesudah yang positif COVID-19 meninggalkan ruangan. Kedua, paparan konsentrasi tinggi droplet di udara, misalnya sesudah bernyanyi keras, atau berteriak, atau olahraga, dan ketiga di ruangan yang buruk ventilasi udaranya sehingga dapat terkumpul cukup banyak droplet dan partikel yang infeksius di udara dalam ruangan.

CDC juga menyatakan bahwa sejauh ini laporan penularan airborne di dalam ruangan biasanya berhubungan dengan kalau ada pasien yang positif COVID-19 yang berada dalam ruangan tertutup dalam waktu cukup lama (lebih 30 menit sampai beberapa jam), sehingga cukup banyak virus di udara ruangan yang mungkin menulari orang lain. Tetapi perlu diketahui bahwa secara jelas CDC menyatakan bahwa penularan COVID-19 utamanya adalah lewat kontak dekat dan droplet, hanya kadang-kadang saja terjadi lewat udara terbuka. Saya kutipkan lagi bahasa Inggrisnya supaya jelas, "Mainly transmitted through close contact (i.e., contact transmission and droplet transmission) can sometimes also be spread via airborne transmission under special circumstances."

Di bagian lain publikasi CDC 5 Oktober ini ditegaskan lagi bahwa "the epidemiology of SARS-CoV-2 indicates that most infections are spread through close contact, not airborne transmission." Jadi penularan lewat udara mungkin memang ada, tapi sama sekali bukan cara penularan yang utama.

Untuk menghindari kemungkinan penularan lewat udara ini maka CDC menganjurkan dua cara, pertama ventilasi udara ruangan yang baik dan kedua selalu berupaya menghindari kerumunan orang dalam ruangan, selain tentu protokol yang sudah kita kenal yaitu jaga jarak, gunakan masker, cuci tangan dan pembersihan/disinfeksi ruangan dan benda-benda yang mungkin terkontaminasi.

Sementara itu, WHO menyatakan bahwa penularan airborne SARS-CoV-2 memang dapat terjadi tapi pada tindakan-tindakan medik yang mengeluarkan banyak aerosol di RS dan klinik, seperti dibahas juga di pernyataan CDC atas. WHO bersama komunitas internasional masih terus mengkaji apakah ada cukup bukti ilmiah akan adanya penularan di udara secara airborne, khususnya di ruangan tertutup dengan ventilasi yang buruk.

WHO juga menyatakan bahwa masih perlu penelitian lebih rinci untuk memastikan ada tidaknya virus SARS CoV2 di udara yang di sekitarnya tidak sedang ada tindakan medik yang menghasilkan aerosol, serta bagaimana sebenarnya peran aerosol dalam penularan penyakit.

Kontak Dekat

Sebagai penutup kembali ditekankan bahwa cara penularan utama COVID-19 adalah lewat kontak secara langsung atau lewat droplet dalam jarak dekat 1-2 meter, bukan lewat udara bebas. Salah satu penjelasannya adalah bahwa kalau memang menular bebas di udara maka jumlah kasus di dunia dapat menjadi besar sekali (akan dapat ditunjukkan dengan survei serologi), jauh lebih besar dari kenyataan sekarang ini.

Penjelasan lain adalah bukti ilmiah bahwa dengan melakukan jaga jarak, pakai masker dan cuci tangan maka kemungkinan tertular menjadi jauh lebih kecil, yang menunjukkan bahwa memang penularan sebagian besar lewat kontak dekat. Laporan penularan COVID-19 lewat airborne memang ada, tapi pada keadaan khusus tertentu saja, seperti sudah di bahas di atas dan juga sudah disampaikan cara pencegahannya.

Sejauh ini memang dunia belum dapat menaklukkan COVID-19. Kita masih mengamati perkembangan pola epidemiologis yang masih menanjak terus sekarang ini, mengupayakan keberadaan vaksin ampuh dan obat yang tepat, serta memelihara dan meningkatkan kesadaran masyarakat pada era kehidupan new normal. Marilah kita semua tetap mematuhi protokol kesehatan dan menjaga kondisi kesehatan dengan baik.

Prof Tjandra Yoga Aditama Guru Besar Paru FKUI, mantan Direktur WHO SEARO dan mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

(mmu/mmu)