Sentilan Iqbal Aji Daryono

Bahaya Mentalitas "Banyak Temannya"

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 06 Okt 2020 19:30 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Saya ingin menyampaikan pengakuan dosa. Ini jenis dosa yang di masa sekarang merupakan salah satu dosa terbesar, baik secara sosial maupun spiritual: saya berkali-kali melanggar protokol pencegahan Covid.

Saya tahu, Anda seketika akan memandang saya dengan jijik, lalu menyebut saya egois, ignorant, tidak peka sosial, covidiot, dan sebagainya. Saya paham dan setuju dengan Anda. Tapi, saya ceritakan dulu situasinya.

Begini. Ini tentang Salat Jumat di kampung. Sejak sepekan setelah Lebaran lalu, saya kembali berangkat jumatan. Rasanya nggak nyaman di hati, lha wong sudah berkali-kali nongkrong ngopi-ngopi, masak jumatan malah enggak. Maka, saya pun jumatan kembali, fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah tak lagi saya ikuti.

Nah, saat jumatan itu, sebenarnya jamaah di masjid kami relatif homogen. Cuma warga sekampung, paling-paling ketambahan anak kampus ISI yang ngekos di rumah warga. Artinya, dari sisi risiko, saya membayangkan risiko jumatan di kampung kami itu relatif kecil juga, paling tidak bila dibandingkan dengan di masjid-masjid pinggir jalan raya.

Kesadaran bahwa jamaah di masjid kami itu homogen lebih kuat lagi manakala tampak satu ciri mengejutkan yang lebih visual, yaitu hampir seluruh jamaah tidak memakai masker. Dari 100-an orang, maksimal cuma ada tiga atau empat orang bermasker, itu pun termasuk saya sendiri.

Dalam situasi seperti itu, seringkali muncul godaan kuat untuk melepas masker, dan kadang-kadang memang saya lakukan. Toh, batin saya, orang yang menyimak khotbah Jumat diam semua, tidak ada yang membuka mulut, dan otomatis ancaman berondongan droplet nyaris tidak ada.

Namun, sebenarnya soal itu hanya alasan sekunder. Alasan primer saya melepas masker adalah... perasaan tak ingin sendiri.

Kesepian itu tidak menyenangkan. Saya bukan orang yang suka bersepi-sepi, dan jenis lelaki yang sangat takut ditinggalkan. Saya orang dusun, sejak lahir sampai setua ini hidup dalam masyarakat dusun yang komunal dan berspirit paguyuban. Dan Anda mesti tahu, dalam iklim paguyuban ada penyeragaman diam-diam. Di proyek penyeragaman tanpa sadar itu, siapa pun yang berbeda secara mencolok akan dianggap sebagai duri kecil bagi lingkungan.

Itulah kenapa perasaan tak nyaman ketika bermasker sendirian itu kadangkala muncul. Bukan berarti saya abai dan tak pernah berusaha "mengedukasi" tetangga lho ya. Itu sudah pernah saya lakukan, bahkan di sebuah forum resmi kampung. Tapi ketika kemudian banyak orang memilih tetap tidak bermasker, saya menyerah. Ya masak mau teriak-teriak macam di Facebook?

Jadi, ada semacam rasa malu. Bukan jenis malu karena khawatir dituduh penakut atau kurang beriman dan sebangsanya, melainkan malu karena menjadi berbeda di tengah-tengah suatu kumpulan manusia.

Anda pernah merasakan jenis malu yang seperti itu? Saya pernah. Kejadiannya ketika saya datang ke sebuah pesantren di Madura, lalu menyadari bahwa saya adalah satu-satunya lelaki dengan kepala telanjang tanpa peci, di antara ribuan kyai dan santri yang semua-muanya berpeci! Kira-kira malu yang seperti itu.

Perasaan enggan sendiri diperparah lagi karena ada rasa lain yang lebih sulit dikontrol, yaitu rasa, "Halah, temannya juga banyak, kok." Ini situasi psikologis yang riil, meski tentu saja kerap menjebak. Pendek kata, karena ada perasaan bahwa apa yang kita lakukan itu juga dilakukan oleh banyak orang, hasilnya seolah-olah yang salah jadi benar, dan yang buruk jadi baik atau minimal baik-baik saja.

Saya pernah konyol mengalami yang semacam itu waktu masih jadi sopir truk di Perth, Australia. Ceritanya, saya sedang menyetir truk saya di suatu ruas jalan. Sebagaimana normalnya, saya melaju dengan kecepatan standar. Ada speed camera di tempat-tempat tak terduga, dan kalau saya melebihi kecepatan bisa-bisa kena denda 100 dolar, atau kalau dirupiahkan ya satu juta.

Sialnya, mungkin karena ruas jalan itu jauh dari pusat kota, mobil-mobil lain mengasumsikan tak ada kamera pengintai kecepatan di situ. Mereka pun melesat cepat melebihi batas. Bukan cuma satu-dua mobil, tapi banyak mobil. Nah, persis dalam suasana itulah, perasaan "Halah temannya banyak" atau "Halah yang lain juga gitu kok" tiba-tiba muncul. Dan saya gagal melawannya. Maka, ikutlah saya melesat overspeed.

Satu hal yang sensasinya tak sungguh-sungguh saya sadari waktu itu adalah bahwa meskipun semua orang di situ melakukan hal yang sama, konsekuensinya tidak akan ditanggung bersama-sama. (Ini beda dengan ketika saya dan lima kawan bolos bersama waktu SMA. Karena temannya banyak, waktu dipanggil guru BP pun kami bisa menghadapinya bersama-sama.)

Dan benar, seminggu kemudian, surat tilang datang. Truk saya tersambar speed camera, dan saya harus bayar 100 dolar. Brengseknya, di antara semua pengemudi mobil yang melanggar kecepatan tadi jelas tidak saling mengenal. Jadi, meskipun pada saat overspeed saya merasa punya banyak teman, tetap saja tak ada mekanisme gotong royong ala paguyuban untuk menanggung kesusahan bersama-sama. Hahaha.

Saya rasa, mentalitas "banyak teman" itulah salah satu ganjalan terbesar kita saat ini dalam mengendalikan jutaan orang untuk menghadapi korona. Kebanyakan di antara orang Indonesia tuh seperti saya, yang lahir dan dibesarkan dalam iklim masyarakat komunal, yang senang melakukan aktivitas bersama-sama, yang kuat dalam the idea of belonging alias perasaan sebagai bagian dari kumpulan, yang takut berbeda dengan rekan-rekan sekumpulannya.

Kebanggaan sebagai bagian dari sebuah kelompok besar itu jugalah yang menjadikan geng motor dan ormas-ormas laris, dan tren apa pun cepat mencapai kejayaan pasarnya. Maklum, banyak orang takut sendirian ketika tidak mengikuti tren. Maka sepeda lipat pun dengan cepat muncul di mana-mana, suara-suara teriakan di medsos juga nyaris seragam, dan keseragaman suara itu kebanyakan dijalankan tanpa pemahaman atas persoalan. Namanya juga tren, kan?

Pada titik ini saya merasa bahwa semangat gemeinschaft alias paguyuban itu banyak bolongnya. Dan wabah ini akhirnya bukan hanya meniscayakan evaluasi atas banyak hal yang bersifat profesional manajerial, atau kelengkapan fasilitas ini-itu serta political will dari penguasa kebijakan. Sebab ada pula yang layak dievaluasi dalam dimensi yang tak terlalu kasat mata semacam kearifan lokal.

Apa yang kemarin arif, ternyata bisa jadi tidak arif lagi sejak hari ini. Apa yang dulu kita banggakan, bukan mustahil tak lama lagi harus kita lepaskan pelan-pelan.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)