Kolom

Pesimisme Pencegahan Covid-19 di Pesantren

Diah Islamiarti - detikNews
Senin, 05 Okt 2020 11:00 WIB
Pemeriksaan kesehatan santri Lirboyo di RSUD Krangkeng, Jawa Timur (Foto: Jurnal Presisi/koleksi pribadi)
Jakarta -
Di saat pandemi tak kunjung enyah, salah satu kalangan yang paling bingung bersikap adalah orang-orang seperti saya, yaitu para pengajar di pondok pesantren. Bingung antara menjadi "orang baik" yang selalu mendukung usaha lembaga dalam pencegahan Covid-19 atau mengabaikannya saja. Perasaan bingung ini muncul beriringan dengan rasa sangsi atas efektifitas upaya tersebut.

Pertanyaan seperti, "Apakah usaha ini bekerja dengan baik?"; "Tidak sia-siakah usaha ini?"; "Serius dan totalitaskah semua elemen pondok pesantren melaksanakannya?" terasa begitu keras berbisik kepada kedua telinga saya.

Belakangan muncul kluster-kluster baru penularan Covid-19, salah satunya kluster pondok pesantren. Kluster ini yang paling membuat saya was-was ketika membaca berita di media seputar kasus-kasus baru positif Covid-19. Saya cemas pondok pesantren tempat saya mengabdi nantinya bernasib sama dengan pesantren-pesantren yang disebut media sebagai tempat penularan virus.

Keseharian saya sebagai pengajar di salah satu pondok pesantren di Jawa Tengah membuat saya tinggal satu atap bersama para santri di asrama. Kecemasan saya bukan berhenti pada pemberitaan di media saja, tapi juga perihal manfaat dari ikhtiar pencegahan Covid-19 seperti implementasi protokol kesehatan dan sejenisnya.

Di pondok tempat saya mengabdi, upaya pencegahan Covid-19 dilakukan sejak awal kedatangan santri. Mulai dari proses perizinan kepada pemerintah kabupaten dan dinas kesehatan setempat. Lalu permohonan kerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah juga Palang Merah Indonesia wilayah kabupaten. Selain itu disusun pula jadwal kedatangan santri agar tidak melebih kapasitas yang akan menimbulkan kerumunan masa. Dengan total 1000-an orang santri, kegiatan kedatangan dilaksanakan secara bertahap selama 10 hari agar bisa diestimasikan hanya terdapat 100 orang santri per hari.

Proses kedatangan santri juga diupayakan dengan tahap-tahap sesuai dengan standar protokol kesehatan, yakni dengan menjaga jarak, memakai masker, pengecekan suhu badan, sterilisasi dengan desinfektan, dan cuci tangan di sana-sini. Sampai pada pelaksanaan rapid test dengan bantuan tenaga medis dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat. Semua dilakukan dengan apik dan tertib.

Ketika kegiatan belajar mengajar dimulai, segala jenis protokol kesehatan pun dilaksanakan. Semua terlihat berjalan mulus dan rapi. Namun justru di sini keresahan saya bermula. Apakah sudah yakin, dengan usaha sedemikian rupa kita benar-benar dapat terhindar dari virus?

Sebagaimana yang telah diketahui, salah satu prinsip pencegahan Covid-19 di pondok pesantren adalah seluruh pihak yang masuk harus dijamin steril serta dalam keadaan sehat dan bersih dari virus. Lantas kemudian terkarantina di dalam pesantren dan tidak bebas keluar-masuk.

Dalam hal ini ada beberapa kondisi yang menurut saya bisa saja menjadi jalan tikus bagi sang virus untuk menyerang para santri. Mulai dari para guru dan karyawan yang tak sedikit bertempat tinggal di luar pesantren. Meskipun sudah ada kewajiban 3M (mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker), guru yang berasal dari luar pesantren betulkah sudah benar-benar di rumah saja pada waktu selain mengajar? Tidak piknik, jalan-jalan, atau sekadar makan di tempat umum?

Tempo hari saya melihat beberapa unggahan teman-teman civitas akademik pondok pesantren yang tampak sekali menggunakan akhir pekannya untuk tidak di rumah saja. Dari piknik eksklusif seperti naik gunung, hingga yang sekadar memanfaatkan tiket masuk wisata serba sepuluh ribu di objek wisata lokal. Tak perlu dibayangkan seperti apa mereka berinteraksi dengan orang lain di sana. Jelasnya keputusan mengunjungi tempat ramai dengan kerumunan masa bagi saya merupakan kekeliruan.

Setelah berwisata ria seperti itu mereka tidak lantas melakukan karantina mandiri di rumah. Lha wong besoknya sudah nongol lagi di sekolah sembari menceritakan tanpa rasa dosa keseruan berpikniknya! Lalu, bagaimana kebijakan pondok pesantren mengatasi hal demikian? Apakah ada pelaksanaan rapid test rutin untuk para guru dan karyawan? Oh, itu sepertinya belum terpikirkan untuk dilakukan.

Memang betul, jika ada sanggahan bahwa interaksi antara guru yang berstatus dari luar dengan santri memang dibatasi. Seperti tidak ada sesi salaman dan selalu menjaga jarak dengan para santri. Namun tetap saja beliau-beliau berdekatan sekali dengan guru yang tinggal di pesantren. Kalau diurut-urutkan bukannya sama saja?

Jangankan guru dari luar, orang dalam pun masih dengan mudahnya keluar-masuk asrama. Seperti saya ini, ketika ada kegiatan di luar pun masih bebas pergi. Meskipun ketika kembali ke pesantren tetap berprotokol kesehatan, apakah yakin tidak ada virus korona yang menempel pada tubuh dan barang-barang saya?

Belum lagi para almukarom kiai dan bu nyai, beliau-beliau ini lebih tinggi lagi jam terbangnya. Jangan dikira di tengah pandemi seperti ini tidak ada pengajian. Buktinya, beliau-beliau tetap saja lancar undangan untuk ceramah di sana sini. Meskipun (katanya) tetap mematuhi protokol kesehatan.

Ketika beliau pulang sore atau malamnya masih mengisi ngaji dengan santri. Malahan sehabis subuh ada budaya salaman sungkem wolak-walik santri sama beliau. Kalau Anda paham dunia pesantren apalagi pernah nyantri, saya yakin Anda paham bagaimana cara santri ngalap (mencari) barokah lewat aktivitas satu ini dan hubungannya dengan penularan virus korona.

Lantas, kondisi begini apakah yakin tidak bakal bisa menjadi faktor penularan virus? Sedangkan perihal kemarin pak kiai sudah bertemu dan disungkemi siapa saja di pengajian pun tak tahu. Lah, bagaimana coba?

"Ya tidak, to. Almukarom pasti lebih tahu mana yang baik dan yang tidak. Beliau juga orang alim dan mulia, pasti punya amalan penolak bala dan penyakit. Apalagi doanya mustajabah. Beliau pasti dilindungi sama Gusti Allah," protes seorang teman ketika saya mengungkapkan keresahan saya.

Sebentar, tunggu dulu. Dalam konteks ini masih relevankah argumen seperti itu digunakan untuk menjelaskan bahwa kondisi sedemikian rupa berarti tidak apa-apa dan baik-baik saja? Alih-alih sehat dan dapat khusyuk melaksanakan amalan penolak bala, malahan positif Covid-19.

Selain beliau yang masih rajin mengisi pengajian di luar, biasanya di ndalem (baca: rumah kiai) tetap ada saja orang yang bertamu. Mulai dari bupati, polisi, orang-orang biasa sampai alumni. Apalagi waktu-waktu mendekati pilkada, ehhh.

Saya sempat mengeluhkan hal ini pada beberapa teman sejawat yang sama-sama mengabdi di pesantren via obrolan Whatsapp. Salah satu dari mereka yang merupakan staf pengajar di pondok pesantren besar di Jawa Timur juga menceritakan hal yang sedikit-banyak sama. Bahkan ceritanya lebih ekstrem lagi. Di pondok tersebut dari awal kedatangan santri dilakukan seperti biasanya ketika sebelum pandemi, bedanya terdapat tempat cuci tangan dan para santri serta walinya mengenakan masker.

Selain itu setelah memasuki waktu pembelajaran, penerapan protokol kesehatan berangsur-angsur terabaikan. Alhasil, pondok pesantren tersebut merupakan salah satu dari kluster yang baru. Teman saya meskipun hasil swab-nya negatif, juga akhirnya dipulangkan dan isolasi mandiri.

Lain cerita dengan pondok pesantren teman saya lainnya di perbatasan Jawa Tengah-Jawa barat. Di pondok pesantren tersebut, protokol kesehatan sudah sangat ketat dilaksanakan. Hingga infrastruktur tambahan yang diperlukan sesegera mungkin dibangun demi pencegahan Covid-19.

Namun ada satu celah yang masih memberikan kesempatan virus mahakecil ini tetap bisa masuk ke pesantren. Menurut keterangan teman saya tersebut, di pondoknya diberlakukan larangan wali membesuk santri. Tetapi, jika wali santri hendak mengirim barang, makanan, ataupun uang diperbolehkan. Di sana telah disediakan pula pos yang menerima titipan paket untuk santri. Tetapi ketika saya menanyakan prosedur masuk paket tersebut, ia tidak mengatakan suatu tahapan yang menyatakan barang titipan disterilkan dengan semprotan desinfektan atau dikarantina terlebih dahulu selama 14 hari, sebelum sampai di tangan santri.

"Lha wong kalau paketnya makanan, masak mau disemprot apalagi dikarantina 14 hari, yang ada malahan keburu basi," terang teman saya diimbuhi emotikon tertawa miring-miring di ujung kalimat.

Lantas, ikhtiar atau kalau tidak berlebihan saya mengatakannya 'pengorbanan', pelaksanaan protokol kesehatan selama ini, bagaimana kegunaannya? Bukankah usaha tersebut tujuannya agar pondok pesantren dan seluruh penghuninya aman dari virus korona? Tetapi jika kita sudah ngoyo berprotokol kesehatan lalu masih ada celah di sana-sini yang membuat tujuan terhindar dari virus korona berakhir gagal, maka apa istilah lain yang lebih santun sebagai substitusi kata 'sia-sia'?

Diah Islamiarti santri dan staf pengajar salah satu pondok pesantren di Jawa Tengah

(mmu/mmu)