Kolom

Azyumardi, Golput, dan Pilkada 2020

Achmad Fachrudin - detikNews
Senin, 05 Okt 2020 10:06 WIB
Azyumardi Azra
Azyumardi Azra menyatkan dirinya golput untuk Pilkada 2020 (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Sebagai sebagai ungkapan solidaritas kemanusiaan terhadap ratusan orang yang wafat karena virus Corona (Covid-19), mantan Rektor Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra, Jumat (25/9) menyatakan dirinya memilih golongan putih (golput) jika Pilkada 2020 tetap dilaksanakan pada 9 Desember 2020. Pernyataan Azyumardi Azra yang dikenal sebagai pakar sejarah dan politik tersebut merupakan hak konstitusional yang bersangkutan. Namun demikian, diperkirakan memiliki berpengaruh luas terhadap tingkat partisipasi dan kualitas Pilkada 2020.

Selain alasan solidaritas terhadap orang yang wafat karena Covid-19, Azyumardi menilai pilkada di tengah pandemi Corona bisa membahayakan masyarakat dan meningkatkan angka kematian. Apalagi bagi banyak seniorcitizen/manula seperti dirinya yang memiliki morbiditas tertentu yang rawan dan rentan.

Pada tulisannya di Harian Kompas (1/9), Azyumardi mengaku tidak tahu pasti berapa besar dampak dari pertanyaan pribadinya tersebut. Pernyataan itu bukan kampanye agar pemilih menjadi golput. Menjadi golput atau tidak adalah pertimbangan dan pilihan pribadi masing-masing sesuai kebebasan beraspirasi dalam demokrasi. Tanpa golput pun, menurutnya partisipasi pemilih di Pilkada 2020 hampir bisa dipastikan rendah. KPU dianggapnya terlalu percaya diri dengan pernah memproyeksikan partisipasi pemilih sekitar 70 persen.

Pro Kontra

Tak urung pernyataan mantan Direktur Pascasarjana Universitas Syarif Hidayatullah tersebut menuai tanggapan pro dan kontra. Dari pihak yang pro, pernyataan Azyumardi dianggap wajar dan masuk akal serta merefleksikan realitas objektif suasana kebatinan masyarakat. Selain itu, melalui pernyataannya ke publik menunjukkan integritas pribadi Azyumardi yang ingin menyelaraskan antara ucapan dan pandangan dengan tindakan konkret.

Sesungguhnya cukup banyak golongan intelektual, kelas menengah, penggiat demokrasi, atau rakyat jelata yang seirama dengan pemikiran dan sikap Azyumardi. Hanya saja sebagian besar mereka lebih memilih bersikap pasif atau bersembunyi (silent). Kalangan yang memilih sikap ini bisa jadi akan memilih langkah politik seperti yang akan dilakukan Azyumardi. Namun bisa juga berubah sambil mengikuti perkembangan jelang Pilkada 2020.

Di sisi lain tidak sedikit kalangan yang menyayangkan pilihan politik Azyumardi dengan alasan merugikan pemilih. Karena berarti telah menyia-nyiakan momentum untuk memilih pemimpin lokal yang dianggap mampu membawa masyarakatnya kepada kondisi yang lebih baik.

Tampaknya yang paling banyak menyayangkan sikap Azyumardi adalah kalangan partai politik, tim kampanye, pendukung, dan terutama kandidat yang akan berkontestasi. Apalagi jika kebetulan sikap politik Azyumardi tersebut berdampak langsung terhadap kandidat dan pendukungnya di pilkada sehingga banyak yang urung menyalurkan hak pilihnya di pilkada nanti.

Sementara KPU tidak bisa melarang jika ada orang ingin golput. Sebaliknya KPU lebih memilih akan meningkatkan sosialisasi Pilkada 2020 agar pemilih datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan aman dan mengikuti protokol kesehatan Covid-19. Dalam konteks perundangan pemilu, akan menjadi problem hukum manakala sikap politik Azyumardi yang memilih golput di Pilkada 2020 disosialisasikan kepada masyarakat. Azyumardi bisa terancam pasal pidana karena dianggap telah memboikot pilkada.

Benang Merah

Sebagai suatu istilah, golput bukan hal baru. Istilah golput muncul pertama kali menjelang Pemilu Orde Baru (1971) atau pasca Pemilu 1955. Arief Budiman salah seorang deklarator golput beralasan, golput dikampanyekan karena Pemilu 1971 secara sistematis didesain untuk memenangkan Golkar dengan cara-cara tidak demokratis, penuh intimidasi, dan kecurangan. Menteri Dalam Negeri Amir Machmud sangat membenci orang-orang yang mengampanyekan golput dan menuding sebagai orang munafik.

Golput yang dilakukan Azyumardi berbeda dengan yang dikampanye Arief Budiman, Imam Waluyo, Marsilam Simanjuntak, dan lain-lain. Golput versi Azyumardi merupakan pilihan politik pribadi dan tidak secara sistematis dikampanyekan kepada publik. Sebaliknya, Arief Budiman cs mengkampanyekannya ke publik secara terbuka.

Dari sisi argumentasinya juga beda. Arief Budiman cs mengkampanyekan Golput pada Pemilu 1971 sebagai protes atas kebijakan dan praktik politik regim Orde Baru yang dianggap tidak demokratis. Sementara Azyumadi, lebih banyak dipengaruhi latar belakang kemanusiaan karena banyak orang telah menjadi korban pandemi Covid-19 dan karenanya menuntut pelaksanaan Pilkada 2020 ditunda atau diundur waktu penyelenggaraannya.

Tetapi secara misi suci (mission sacred) antara sikap politik Azyumardi dan Arief Budiman sebenarnya ada benang merah atau irisan. Yakni memperjuangkan hati nurani rakyat di atas segala-galanya, serta mencoba menukik kepada hakikat dari pilkada. Di sini pandangan Azyumardi yang dikenal sebagai penulis buku dan kolumnis sangat produktif, mirip dengan pandangan mantan Wakil Presiden HM. Jusuf Kalla (JK).

Dalam suatu tulisannya JK mengingatkan akan tujuan pilkada, yakni untuk menentukan pemimpin yang membuat program dan kebijakan agar rakyat bisa hidup aman, sejahtera, adil, kesehatan terjaga, mengenyam pendidikan yang baik, dan sebagainya. Jika dalam pemilihan pemimpin sudah justru membuat rakyat bisa sakit, bahkan meninggal buat apa kita menyelenggarakan pilkada? JK lalu mengutip kata orang bijak: Apapun yang kita semua lakukan, yang tertinggi adalah berbuat untuk keselamatan rakyat. Bukan sebaliknya.

Pengaruh Komunikasi

Dalam teori komunikasi yang digagas Harold Lasswell pada tulisannya bertajuk The Structure and Function of Comunication in Society (1948), aspek with what effect, atau pengaruh menjadi salah satu unsur penting --selain Communicator (Komunikator), Message (Pesan), Media, Receiver (Komunikan/Penerima). Lasswell memberikan perhatian khusus terhadap pengaruh komunikasi mengingat fungsinya dalam mempengaruhi dan membentuk opini publik sangat vital.

Pengaruh tersebut menurut pakar komunikasi politik Chafied Changara bisa dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan perilaku (behaviour). Pada tingkat pengetahuan, pengaruh yang diharapkan dari komunikasi politik bisa dalam bentuk perubahan persepsi dan perubahan pendapat. Dengan meminjam pandangan ahli komunikasi Amerika Serikat Denis McQuail, pengaruh dan efek yang ditimbulkan akan jauh lebih besar dan masif manakala dilakukan dengan menggunakan media massa.

Selanjutnya McQuail merinci terdapat empat pengaruh media massa. Pertama, sebagai efek yang diharapkan terjadi baik oleh media massa sendiri ataupun yang menggunakan media massa untuk kepentingan berbagai penyebaran informasi. Kedua, efek yang tidak direncanakan atau tidak dapat diperkirakan, benar-benar di luar kontrol media. Ketiga, terjadi dalam waktu pendek namun secara cepat, instan dan keras mempengaruhi masyarakat. Keempat, berlangsung lama, sehingga mempengaruhi sikap-sikap adopsi, inovasi, kontrol sosial hingga perubahan sosial dan budaya.

Pengaruh tersebut akan menjadi jauh lebih besar dan efektif manakala media massa mempunyai kepentingan tertentu atau agenda setting. Meminjam pandangan Maxwell McCombs dan Donal Shaw, media setting adalah "mass media have the ability to transfer the salience of items on their news agendas to the public agenda. We judge as important what the media judge as important." Gambaran tentang realitas yang dibentuk oleh isi media massa inilah yang kemudian akan mendasari respons dan sikap khalayak terhadap berbagai objek sosial.

Integritas Azyumardi

Untuk mengetahui atau menguji pengaruh penyataan Azyumardi tentang golput terhadap tingkat partisipasi pemilih maupun kualitas pilkada jelas memerlukan suatu riset ilmiah dan empirik. Dalam jangka pendek dan menengah juga dipengaruhi seberapa jauh dan banyak media mem-blow-up pernyataan Azyumardi tersebut.

Jika pernyataan Azyumardi tersebut terus digencarkan melalui media sosial dan terutama melalui televisi swasta melalui tayangan berita dan talk show, akan menjadi trending topic. Dampaknya bisa mempengaruhi dan membentuk opini publik tentang berbahaya Pilkada 2020 bagi kesehatan dan keselamatan jiwa semua pihak, termasuk pemilih. Ujungnya akan berpengaruh terhadap minat pemilih datang ke TPS.

Peluang pernyataan Azyumardi mempengaruhi partisipasi pemilih dan kualitas pilkada sangat besar, terutama karena sebagai komunikator, Azyumardi memiliki good character yang dicirikan Aristoteles sebagai pribadi yang memiliki pikiran baik, akhlak yang baik, dan maksud yang baik (good sense, good moral character, dan good will).Selain itu, juga memiliki daya tarik sumber (source attractivenes), kredibilitas sumber (source credibility), serta kecakapan dan kemampuan (competence & expertness).

Good character yang dimiliki Azyumardi berasal dari belakang pergulatan intelektualnya yang panjang. Di antaranya melalui proses pendidikan tinggi di Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta pada 1982. Kemudian meraih gelar Master of Art dan Doctor of Philosophy Degree dari Columbia University, Amerika Serikat. Berbagai aktivitas akademis sudah dilakoninya di tingkat nasional maupun internasional. Selain juga beroleh banyak penghargaan, antara lain titel Commander of the Order of British Empire, sebuah gelar kehormatan dari Kerajaan Inggris.

Apapun bentuk pengaruh dari pernyataan Azyumardi akan menjadi pilihan tidak mudah dan penuh dilema bagi pemangku kepentingan pilkada, khususnya pemerintah: apakah pilkada dilanjutkan atau ditunda. Harapan idealnya adalah pandemi Covid-19 berakhir total paling lama pada Oktober 2020 sehingga Pilkada pada 9 Desember 2020 berlangsung aman dan kondusif. Tapi mungkinkah itu terjadi? Suatu pertanyaan dan ekspektasi yang penuh teka-teki.

Achmad Fachrudin Direktur Eksekutif Literasi Demokrasi Indonesia

(mmu/mmu)