Kolom

Protokol Kesehatan Covid-19 dan Sanksi yang Seksi

Aniek Wijaya - detikNews
Jumat, 02 Okt 2020 11:28 WIB
Kampanye bahaya COVID-19 dan ajakan menerapkan protokol kesehatan terus dilakukan lewat karya jalanan seperti mural.
Kampanye taat protokol kesehatan melalui mural jalanan (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Agar masyarakat taat memakai masker saat keluar rumah, adakan saja patroli ambulans setiap satu jam sekali. Bukankah selama ini kebanyakan orang baru tertib berkendara di jalan raya, hanya jika ada polisi yang berjaga? Tak ada polisi, jalan serasa milik nenek moyangnya sendiri.

Demikian kurang lebihnya bunyi status WA teman saya beberapa hari yang lalu. Tak hanya sampai di situ. Di slide kedua statusnya, teman saya tersebut menambahkan mengenai usulan sanksi bagi para pelanggar. Suruh saja orang yang melanggar berdiri di samping lampu lalu lintas dan melafalkan Pancasila keras-keras pada saat lampu merah menyala.

Lepas dari apakah teman saya serius atau hanya bercanda, atau justru celotehnya tersebut adalah wujud keprihatinannya yang mendalam, saya pribadi memang sering merasakan ketidaknyamanan berkendara di jalan raya. Bahkan beberapa kali nyaris celaka lantaran ulah oknum pengguna jalan yang ugal-ugalan.

Satu hal yang paling saya ingat adalah saat mengendarai sepeda motor, saya terpaksa nekat naik ke trotoar. Ibu-ibu penjual sayur bersepeda kayuh di depan saya sampai berteriak, "Mbak, Mbak...nek sampeyan mau ora munggah, mbuh dadi opo iki mau. Jan, sopire kok yo dho ngawur tenan." --Kalau tadi mbaknya nggak naik (trotoar), nggak tahu lagi deh apa yang terjadi. Sopirnya kok ngawur banget sih.

Waktu itu di belakang saya sebuah bus AKAP dan truk besar saling salip dengan kecepatan tinggi. Kalau saya mendahului ibu pedagang sayur, jelas saya yang akan tersapu oleh salah satu dari mereka. Berhenti mendadak, bahaya juga. Bisa-bisa saya menabrak ibu tersebut berikut sepedanya berikut dagangannya. Satu-satunya jalan dengan memohon kekuatan dari Pemilik Seluruh Kekuatan di muka bumi ini, saya pun jumping ke trotoar.

Ada masanya tidak hanya dua kendaraan besar yang berbalapan. Bahkan pernah tiga sekaligus saling mendahului di ruas jalan tanpa pembatas pemisah jalur. Sampai masuk dan hampir menghabiskan jalur dari arah yang berlawanan.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan mau dilebarkan sampai sejauh mata memandang pun kalau perilaku berkendara sebagian dari kita masih begitu-begitu saja ya sama saja. Karena rambu-rambu, marka, peraturan lalu lintas tidak dijadikan pedoman. Bahkan mungkin pengguna jalan yang berjiwa ugal-ugalan justru merasa semakin bebas berkendara semaunya.

Pernah suatu ketika di lampu merah, saya diserempet mobil dari belakang samping kanan. Sampai ekor motor saya masuk ke bagian bawah mobil, dekat ban depan-kiri. Kok bisa? Kejadiannya cepat sekali. Lampu merah baru saja menyala, saya menepi dan berhenti kemudian, "Braaak!". Lalu apa yang dilakukan pemilik dan penumpang mobil tersebut? Turun dan meminta maaf? Tidak. Pura-pura tidak tahu, melengos ke kanan semua saat mata saya menatap tajam ke dalam mobil.

Tiga pemuda turun dari boncengan motor. Sepertinya mereka tidak saling kenal. Hanya kebetulan saja berada di tempat yang sama, melihat kejadian yang sama dan punya panggilan hati nurani yang sama. Menolong ibu-ibu yang sudah tidak muda dan tampak memelas memandangi bagian belakang motornya yang nyangkut seolah tak dapat lagi dipisahkan.

"Satu, dua, tiga...." salah satu memberi aba-aba. Lega rasanya akhirnya motor saya bisa lepas juga. Tanpa banyak kata, ketiganya langsung naik ke boncengan motor masing-masing lagi. Karena lampu merah akan segera mati berganti dengan nyala lampu hijau yang dinanti-nanti. "Terima kasih banyak, Mas!" Hanya itu yang bisa saya ucapkan. Dan berdoa dalam hati untuk kebaikan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi ketiga pemuda tersebut.

Tak hanya di jalan raya, di jalan kecil atau jalan lingkungan pun sering terjadi kejadian tidak mengenakkan. Dikata-katai, dibentak, dimaki-maki oleh pengendara lain yang memakai helm pun tidak dan berkendara seenaknya. Jamak memang ya, yang salah malah lebih galak. Tidak menjaga jarak aman sehingga hampir menabrak kendaraan di depannya (saya), tidak paham bahwa meski hendak belok kanan, kita tetap harus berada di jalur kiri, tidak mengambil jalur kendaraan yang arahnya berlawanan. Hendak menyeberang tidak lihat kiri-kanan, main nyelonong saja.

Aturan pemakaian helm, jaga jarak antarkendaraan, batas kecepatan yang diperbolehkan, dan aturan lainnya dalam peraturan lalu lintas pada dasarnya seperti aturan pemakaian masker, social/physical distancing dan aturan lainnya dalam protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Aturan tersebut dibuat untuk mengupayakan ketertiban dan keselamatan bersama.

Lalu apa yang menyebabkan sebagian dari masyarakat kita abai terhadap peraturan tersebut? Awalnya saya pikir karena Covid-19 ini baru. Jadi banyak anggota masyarakat yang belum tahu dan memang perlu waktu. Tapi ini sudah enam bulan lebih. Dan bukankah penyebaran informasi saat ini sudah sangat cepat? Memang, terkait informasi mengenai Covid-19 ini banyak sekali hoax yag beredar. Sehingga masyarakat yang kurang jeli memilah informasi, rawan menjadi korban yang kemudian salah dalam menyikapi.

Ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa Covid-19 ini sebetulnya tidak ada, hanya teori konspirasi semata sehingga merasa tidak perlu untuk menjalankan protokol kesehatan yang dianjurkan. Memang sangat disayangkan, mengapa di masa yang seharusnya kita bersatu dan saling membantu ada pihak-pihak yang berbuat gaduh, memancing di air keruh.

Mengingat pentingnya masyarakat mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 ini, selain terus mensosialisasikan pengetahuan yang benar, juga perlu ditumbuhkannya kesadaran bahwa ini PR kita bersama. Semua bisa melakukan. Mengamankan diri dan mengamankan sesama. Mengenakan masker, rajin cuci tangan, berupaya menjaga jarak, tidak menciptakan kerumunan, tidak pergi jika tidak penting dan bermanfaat. Diawali dan diakhiri dengan doa tentu saja.

Apalagi tempat cuci tangan sekarang sudah tersedia di mana-mana dan harga masker sudah kembali normal. Jika sudah disosialisasikan, maka selanjutnya adalah penegakan aturan. Pemberian sanksi bagi yang tidak mematuhi.

Saya jadi teringat obrolan dengan seorang bapak-bapak dari PT KAI dalam perjalanan kereta Bandung-Solo sekira setahun yang lalu. Awalnya saya mengucapkan selamat dan berterima kasih karena naik kereta api jadi nyaman sekali. Salah satunya tidak ada lagi kepulan asap rokok di sana-sini. Dia menceritakan bahwa awalnya denda yang akan diberlakukan adalah denda uang bagi yang kedapatan merokok di dalam kereta. Namun ketika ditinjau kembali, bisa jadi orang masih nekat melanggar karena merasa dendanya tak seberapa.

Maka diambillah kebijakan bahwa bagi penumpang yang kedapatan merokok di dalam kereta akan diturunkan di stasiun terdekat. Bukankah setiap penumpang yang naik kereta ingin sampai ke stasiun tujuan?

Saat saya sedang memikirkan, membayang-bayangkan kira-kira sanksi apa yang pas, yang seksi bagi orang yang tidak mematuhi protokol kesehatan Covid-19, telinga saya menangkap obrolan para pengamat politik di sebuah stasiun televisi nasional. Obrolan mengenai pelaksanaan pilkada serentak di masa pandemi yang dikhawatirkan bisa menjadi kluster baru penyebaran Covid-19. Saya pun mendekat. Dan mendapati running text yang berbunyi, "Gubernur Ganjar Pranowo mengusulkan agar kandidat pilkada yang tidak mematuhi prokes (protokol kesehatan) didiskualifikasi." Bagaimana, Anda sepakat?

(mmu/mmu)