Kolom

Ekspor Kopi di Masa Pandemi

Ghina Suraya - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 14:19 WIB
Petani menjemur kopi arabika di Desa Curahtatal, Arjasa, Situbondo, Jawa Timur, Jumat (10/7/2020). Sejumlah petani mengeluhkan harga kopi arabika gelondong merah turun dari Rp13.000 menjadi Rp7.000 per kilogram akibat permintaan pabrik dan ekspor menurun sejak pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Seno/pras.
Foto: Seno/Antara
Jakarta -
Pandemi COVID-19 yang menyerang hampir di seluruh dunia tidak hanya memberikan dampak yang sangat besar pada kesehatan, tetapi juga pada perekonomian negara. Banyak kegiatan yang terpaksa diberhentikan demi mengurangi penyebaran virus ini, salah satunya kegiatan ekspor dan impor.

Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor kopi terbesar di dunia. United States Department of Agriculture (USDA) mencatat bahwa pada 2020, Indonesia berada di peringkat keempat negara terbesar pengekspor kopi di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Colombia. Meskipun begitu, ekspor kopi Indonesia mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 6,92%.

Kopi merupakan salah satu minuman yang digemari oleh banyak orang di berbagai belahan dunia. Di Indonesia terdapat beberapa jenis kopi dengan berbagai merk dan varian rasa yang dapat dinikmati oleh semua orang seperti kopi arabika, robusta, kopi luwak, kopi gayo, dan sebagainya. Rasa dan aroma kopi yang khas membuatnya cocok diminum di mana saja dan dalam keadaan apapun seperti saat bersantai, belajar, bahkan saat bekerja sekalipun.

Luas lahan kopi di Indonesia menurut Kementerian Pertanian pada 2020 sebesar 1,25 juta ha dengan jumlah produksi kopi yang meningkat dari tahun sebelumnya menjadi 773,4 ribu ton. Sumatera Selatan merupakan provinsi yang menyumbangkan hasil produksi kopi terbesar di Indonesia.

Luas lahan kopi di Sumatera Selatan mencapai 20% dari total luas lahan kopi Indonesia (252,7 ha) dan untuk produksinya mencapai 26,77% dari total produksi kopi di Indonesia (199 ribu ton). Selanjutnya luas lahan dan produksi kopi terbesar kedua terdapat pada Provinsi Lampung dengan luas lahan kopi sebesar 157 ha dan produksi kopi sebanyak 110,3 ribu ton.

Tren Penurunan
Ekspor kopi Indonesia dari Januari sampai Mei 2020 menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), pada Mei 2020 nilai ekspor kopi Indonesia sebesar USD 44,7 juta atau turun USD 26,4 juta jika dibandingkan dengan Januari 2020. Begitu pula dengan volume ekspor kopi yang mengalami penurunan sebanyak 10,7 ribu ton dari Januari 2020 yang sebanyak 28,6 ribu ton.

Penurunan ekspor kopi yang terjadi padan 2020 salah satunya disebabkan karena adanya pandemi COVID-19 yang membuat sejumlah kegiatan ekspor-impor untuk sementara diberhentikan guna mencegah penularan virus.

Sebagai salah satu negara pengeskpor kopi terbesar di dunia, tentunya Indonesia mempunyai beberapa negara tujuan ekspor. Menurut publikasi BPS, 5 negara tujuan ekpor kopi terbanyak Indonesia pada Mei 2020 yaitu Amerika Serikat, Italia, Mesir, Malaysia, dan Jepang.

Amerika Serikat merupakan negara tujuan ekspor terbanyak Indonesia. Tercatat bahwa pada periode Januari-Mei 2020 ekspor kopi ke Amerika Serikat yaitu sebesar USD 93,8 juta. Namun, nilai ekspor mengalami penurunan sebesar 20,17% dari periode yang sama pada 2019 yang mencapai USD 117,5 juta.

Ada beberapa jenis kopi yang diekspor oleh Indonesia; kopi arabika dan robusta yang paling banyak diekspor. Berdasarkan publikasi BPS, pada Mei 2020 Indonesia melakukan ekspor kopi arabika dan robusta sebanyak 17,4 ribu ton dengan nilai ekspor sebesar USD 44,23 juta. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada lalu, volume ekspor kopi mengalami penurunan yang cukup besar yaitu sebanyak 5,4 ribu ton dan penurunan nilai ekspor sebesar USD 30,6 juta.

Tak hanya ekspor kopi arabika dan robusta yang mengalami penurunan, ekspor kopi instan pun mengalami hal yang sama. Pada Mei volume ekspor kopi sebanyak 3,9 ribu ton dengan nilai ekspor sebesar USD 11,25 juta. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, volume ekspor kopi instan mengalami penurunan sebanyak 4,1 ton dan penurunan nilai ekspor sebesar USD 13,26 juta.

Ghina Rofifa Suraya mahasiswa Politeknik Statistika STIS

(mmu/mmu)