Kolom

Masihkah Cengkeh Indonesia Jadi Primadona?

Jody - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 13:10 WIB
Harga cengkih di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah merosot dalam beberapa minggu terakhir. Petani pun mengeluh dan berharap harga bisa kembali naik seperti tahun lalu.
Foto: Rinto Heksantoro
Jakarta -

Indonesia negara penghasil cengkeh terbanyak di dunia. Dari zaman dahulu sampai sekarang cengkeh, rempah-rempah Indonesia, merupakan salah satu komoditas yang menjadi primadona di pasar dunia. Tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, cengkeh juga menjadi komoditas yang mendominasi ekspor Indonesia.

Indonesia menjadi negara pengekspor cengkeh terbesar menduduki peringkat kedua setelah Madagaskar. Sebagai negara tropis dan asal dari cengkeh, Indonesia memiliki potensi tinggi produksi cengkeh. Tanaman ini tersebar luas baik di pekarangan ataupun perkebunan hampir di seluruh wilayah. Provinsi Sulawesi Utara merupakan wilayah dengan luas tanaman cengkeh terluas di Indonesia, sedangkan di Provinsi Riau, DKI Jakarta, dan Kalimantan Tengah boleh dikatakan tidak ada area perkebunan cengkeh.

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat, dari 2015 sampai 2019 luas area perkebunan cengkeh selalu mengalami peningkatan. Pada 2018 luas area perkebunan untuk cengkeh yaitu 568.892 hektar. Dari luasan tersebut sebagian besar sekitar 66.84% diusahakan oleh petani rakyat (perkebunan rakyat) yang dibudidayakan secara monokultur maupun tumpang sari dengan tanaman lainnya.

Pada 2019 angka sementara luas area perkebunan cengkeh sebesar 569.416 hektar. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dari tahun sebelumnya. Untuk 2020 diprediksikan adanya peningkatan kembali luas area perkebunan cengkeh sekitar 0.17%. Peningkatan luas area selain karena pendataan ulang oleh petugas kabupaten, juga diluncurkannya program Mengembalikan Kejayaan Rempah Indonesia --pada zaman dahulu Indonesia merupakan negara utama penghasil rempah dunia.

Data cengkeh yang dihimpun oleh Direktorat Jenderal Perkebunan merupakan cengkeh dalam wujud produksi bunga kering. Maluku merupakan provinsi penghasil cengkeh terbesar di Indonesia dari 2015 dengan kontribusi rata-rata sebesar 15,37%. Meskipun luas pengembangan di provinsi ini tidak seluas di provinsi-provinsi di Pulau Sulawesi, tetapi memiliki produktivitas yang tinggi --berpengaruh pada jumlah produksi. Salah satu faktor penentu besarnya produksi adalah banyak varietas unggul cengkeh berasal dari Provinsi Maluku, yang bahkan dikenal sebagai wilayah asal mula komoditas cengkeh.

Kontribusi di Masa Pandemi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), selama masa pandemi ini kontribusi subsektor perkebunan dalam PDB (Produk Domestik Bruto) pada kuartal pertama 2020 sekitar 3.14% yang menunjukkan berada pada posisi pertama di sektor pertanian. Pada kuartal kedua sekitar 3.9%, meningkat dari kuartal sebelumnya namun berada pada posisi kedua setelah subsektor tanaman pangan.

Pandemi memang keadaan yang begitu pelik bagi Indonesia maupun dunia. Hal ini mengakibatkan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan. BPS mencatat ekonomi Indonesia triwulan II-2020 terhadap triwulan II-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 5,32 persen. Walaupun laju pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun, sektor pertanian tetap mengalami kenaikan.

Pertanian juga menjadi satu-satunya sektor dari lima penyangga utama PDB yang tumbuh positif sepanjang periode ini. Laju pertumbuhan PDB sektor pertanian mengalami kenaikan sekitar 2,19% dengan menunjukkan subsektor perkebunan mengalami peningkatan sebesar 0,17%.

Pertumbuhan positif di sektor pertanian khususnya subsektor perkebunan perlu diapresiasi karena pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya dan bekerja bersama petani untuk meningkatkan produksi pertanian di saat pandemi ini. Apalagi, orientasinya tidak hanya pada produksi, namun juga pemerintah terus mendorong peningkatan ekspor pertanian.

Cengkeh memang telah menarik perhatian pasar dunia. Di Indonesia, sebagian besar cengkeh banyak diserap untuk memenuhi industri kretek. Tidak hanya itu, cengkeh juga digunakan sebagai bumbu masakan pedas. Di negara importir biasanya cengkeh digunakan sebagai bahan campuran kosmetik dan obat-obatan.

Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat, total volume ekspor tanaman cengkeh Januari-Juli 2020 sekitar 17,22 ribu ton. Angka ini jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019 --menunjukkan kenaikan sekitar 32,27%.

Dilihat dari nilai ekspor, pada Januari sampai Juni 2020 nilai ekspor cengkeh cenderung mengalami penurunan. Hal ini diperkirakan terjadi karena kualitas dari hasil produksi yang kurang baik, serta ekonomi dunia yang juga sedang dalam keadaan tidak baik. Tetapi pada Juli terlihat nilai ekspor cengkeh meningkat.

Walaupun Provinsi Sulawesi Utara memiliki luas tanaman cengkeh terluas di Indonesia serta Provinsi Maluku dengan produksi terbesar, tetapi yang menjadi pemasok cengkeh terbanyak untuk negara lain berasal dari Provinsi Jawa Timur. Menariknya lagi, Provinsi DKI Jakarta yang tidak mempunyai lahan perkebunan cengkeh juga menjadi salah satu provinsi yang mengekspor komoditas ini.

Negara importir cengkeh cukup banyak, salah satunya India yang menjadi negara importir cengkeh terbesar. Tercatat pada Juli 2020, Indonesia mengekspor cengkeh ke negara tersebut sekitar 736 ribu ton dengan nilai sebesar USD 2,49 juta.

BPS bersama Kementan telah memperlihatkan data bahwa di masa pandemi ini komoditas cengkeh masih terus berproduksi dengan baik serta terjadi peningkatan produksinya. Dengan peningkatan produksi tersebut ekspor komoditas ini juga terus digenjot. Tidak dapat kita pungkiri, komoditas ini juga menjadi andalan Indonesia untuk diekspor.

(mmu/mmu)