Kolom

Impor Cabai, Mau Sampai Kapan?

Ajeng Komariah - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 10:41 WIB
Petani cabai di Kulon Progo merugi
Petani cabai di Kulon Progo (Foto: Sayoto Ashwan/detikcom)
Jakarta -

Cabai merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia. Harga cabai seringkali menjadi faktor pembentuk inflasi. Cabai seringkali mengungguli kontribusi terhadap inflasi jika dibandingkan dengan komoditas lain dalam kelompok yang sama.

Pada 2019, rata-rata produksi cabai di Indonesia mencapai 215,72 ribu ton setiap bulannya, dengan rata -rata luas panen 69,48 ribu hektar setiap bulannya. Provinsi yang menjadi sumber produksi cabai terbesar yaitu Jawa Timur dengan kontribusi produksi cabai sebesar 24,75%, diikuti oleh Jawa Tengah dan Jawa Barat. Hal ini menunjukkan bahwa Jawa merupakan pulau dengan kontribusi produksi cabai terbesar di Indonesia pada 2019.

Jika kita melihat perkembangan, sejak 2015 produksi cabai kita selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya dengan peningkatan sebesar 1,76% dari 2018 ke 2019 atau meningkat sebesar 46,29 ribu ton. Namun, bagaimana dengan tingkat konsumsi cabai oleh rumah tangga di Indonesia? Faktanya, sejak 2015 konsumsi cabai mengalami penurunan yang cukup signifikan. Walaupun mulai mengalami kenaikan pada 2018 dan 2019, namun peningkatannya hanya sekitar 10%.

Di sisi lain, jika kita melihat ekspor dan impor cabai Indonesia, nilainya sangat berbanding terbalik. Sejak 2015 volume ekspor kita selalu mengalami penurunan. Nilai penurunan yang cukup signifikan terjadi pada 2017, yakni lebih dari 40% dari tahun sebelumnya. Sebagai tambahan informasi, Saudi Arabia, Malaysia, dan Taiwan merupakan tiga negara utama sebagai tujuan ekspor cabai Indonesia pada 2019.

Lalu, bagaimana dengan nilai impor? Sejak 2015 nilai impor cabai selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya, dengan kenaikan tertinggi pada 2017 yaitu sebesar 42% dari tahun sebelumnya dengan negara asal utama impor yaitu India, China, dan Thailand pada 2019.

Hal tersebut tentu saja sangat disayangkan karena menurut Food Agriculture Organization (FAO), Indonesia merupakan negara penghasil cabai terbesar keempat di dunia pada 2018 dengan total produksi sebesar 2.542.358 ton. Jika kita melihat sedikit lebih jauh, alasan Indonesia masih melakukan impor cabai selain permintaan konsumsi masyarakat yang tinggi jika dibandingkan dengan produksi dalam negeri, juga untuk menstabilkan harga, serta luasnya pertanaman cabai di Indonesia tidak diikuti oleh produktifitas yang tinggi.

Lalu, bagaimana solusi dari permasalahan tersebut? Meningkatkan nilai ekspor berarti menambah produksi dalam negeri. Beberapa cara dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai ekspor Indonesia yang jika dilihat dari data terus mengalami penurunan setiap tahunnya, Antara lain selalu menjaga ketersediaan bahan baku dan barang modal serta stabilitas harga, menunjang daya saing dunia usaha dan ekspor dengan memperbaiki pendidikan, termasuk memberikan bea siswa hingga pendidikan tinggi, kebijakan membangun infrastruktur listrik dan untuk konektivitas, dan kebijakan mempermudah dan menyederhanakan perijinan melalui One Single Submission (OSS), serta perbaikan layanan kepabeanan.

Di samping menaikkan nilai ekspor, pemerintah juga harus berusaha untuk mengendalikan nilai impor agar tidak naik terus-menerus. Cara yang telah dan akan dilakukan pemerintah untuk mengendalikan impor secara umum antara lain pengenaan pajak impor pada barang-barang tertentu, penggunaan biodisel B20 sebagai pengganti solar (untuk membatasi impor bahan bakar minyak), peningkatan penggunaan komponen lokal pada proyek infrastruktur.

Dan, yang paling penting yaitu meningkatkan dan memaksimalkan potensi alam Indonesia serta sumber daya manusianya, karena dengan menggerakkan dan memaksimalkan apa yang kita punya saat ini, maka bukan hal yang mustahil Indonesia bisa mengurangi bahkan terbebas dari impor.

(mmu/mmu)