Kolom

Praha dan Jejak Komunisme

Ichwan Arifin - detikNews
Rabu, 30 Sep 2020 12:07 WIB
Kota Tua di Praha
Suasana kota tua Praha (Foto: Iin Yumiyanti/detikTravel)
Jakarta -

Setelah menyusuri kawasan pinggiran kota dan perbatasan antarnegara, akhirnya saat senja FlixBus yang membawa saya dari Vienna, Austria memasuki Praha, Ibu Kota Republik Ceko. Perjalanan melintas batas negara itu ditempuh sekitar 5 jam. Cukup lama, namun, bus yang bagus dan pemandangan indah countryside membuat perjalanan tidak melelahkan.

Memasuki kota Praha, lalu lintas cukup lengang. Sepanjang kanan-kiri jalan dipenuhi dengan bangunan gaya gothic dan baroque. Menjulang gagah dan menambah cantik wajah kota. Praha dijuluki kota seribu menara karena banyaknya bangunan kuno dengan ciri khas menara.

Bus akhirnya berhenti di Florenc, pemberhentian terakhir di Praha. Terminal bus itu tidak besar, tapi bersih. Tidak ada calo tiket juga. Untuk melanjutkan perjalanan ke hotel, trem merupakan pilihan tepat dan hemat. Lokasi hotel juga dekat dengan tempat pemberhentian trem.

Pilihan transportasi publik beragam. Metro bawah tanah, trem, bus, dan taksi. Rata-rata beroperasi dari pagi hingga tengah malam. Hampir semua sudut kota dijangkau oleh moda transportasi publik. Tarif relatif murah, kecuali taksi. Ekstra hati-hati kalau naik taksi. Sopir nakal juga banyak di sini.

Ruas jalan-jalan di tengah kota tidak terlalu lebar. Sebagian di antaranya dikonstruksi dari batu hitam yang ditata sedemikian rupa. Di tengahnya terdapat jalur trem. Di sepanjang kanan-kiri jalan tersedia area pejalan kaki. Lebar, bersih, dan nyaman.

Meski hari sudah berganti malam, namun suhu relatif hangat. Saat itu musim panas. Jadi tidak perlu baju hangat berlapis-lapis. Matahari baru sepenuhnya tenggelam sekitar jam 9 malam.

Hal menarik dari Praha selain kecantikan kota adalah melihat proses transformasi politik, sosial, dan ekonomi. Rakyat Ceko membuktikan proses transformasi itu sebagai "gemblengan kehidupan" sehingga membuat elemen bangsa semakin kuat dan dewasa dalam merespon perubahan.

Awalnya, Ceko dan Slovakia bagian dari Kekaisaran Austro-Hongaria. Selepas Perang Dunia (PD) I, menjadi satu negara bernama Cekoslovakia. Tidak lama setelah itu, pada PD II jatuh ke pendudukan Nazi-Jerman. Kekalahan Nazi membawa negara itu dalam pengaruh Uni Soviet. Kemenangan Partai Komunis Cekoslovakia pada Pemilu 1948 menguatkan cengkeraman Negeri Beruang Hitam.

Pergolakan politik lainnya dikenal dengan "Musim Semi Praha". Saat itu, invasi militer Uni Soviet bersama Pakta Warsawa membungkam reformasi politik yang digulirkan pemimpin komunis liberal. Hasilnya, kaum komunis garis keras menguasai Cekolsovakia hingga puluhan tahun lamanya. Rezim itu tumbang melalui "Revolusi Beludru" (Sametova Revoluce) pada 1989.

Tidak seperti pergolakan politik di negara lainnya, transisi politik dari rezim komunis ke demokrasi liberal tidak banyak mengguyurkan darah. Kedewasaan politik itu dibuktikan lagi pada saat peristiwa dissolution pada 1991, yakni berpisahnya dengan damai antara Republik Ceko dengan Slovakia. Praha menjadi ibu kota Ceko sedangkan Slovakia memilih Bratislava sebagai ibu kotanya.

Meski cukup lama berada dalam kuasa rezim komunis, namun tidak banyak warisan komunisme di Praha yang dapat dilihat saat ini. Kota dan gaya hidup masyarakatnya telah berubah. Tak ada bedanya dengan kota-kota di Eropa Barat. Mobil mewah banyak mengisi jalan raya. Pusat belanja dengan gerai barang mewah juga banyak, termasuk restoran fancy, hingga beragam hiburan malam.

Namun di sisi lain, pengemis dan pengamen banyak ditemui di sudut kota dan tempat wisata. Tapi tidak seperti di sebagian kota di Indonesia, mereka tetap rapi dan tidak memaksa. Pemandangan yang tidak jarang ditemui pada saat rezim komunis berkuasa. Hal yang tidak berubah adalah keberadaan bangunan tua seperti kastil dengan ciri khas menara, katedral dan tempat bersejarah seperti Charles Bridge, Wallenstein Palace, Prague Castle, dan sebagainya.

Mungkin yang tersisa dari komunisme tinggal Museum Komunisme yang didirikan pada 26 Desember 201, terletak di jantung Kota Praha. Menempati bangunan aristokrat peninggalan abad ke-18, museum itu terdiri dari 5 ruangan dengan luas masing-masing sekitar 3 x 4 meter persegi, terhimpit restoran cepat saji Amerika dan Casino -- dua produk kapitalisme yang diharamkan komunisme.

Tiket masuk seharga CZK 190 (setara Rp 112 ribu). Tidak banyak informasi dari museum ini. Kita hanya dapat melihat contoh pamflet dan poster propaganda rezim komunis. Ada patung Karl Marx dan Vladmir Lenin diapit Bendera Uni Soviet. Ada juga contoh ruang interogasi, ruang sekolah, dan model alat produksi pertanian. Beberapa dokumentasi foto perubahan sosial politik sejak pendudukan Nazi-Jerman hingga Revolusi Beludru ditempel di dinding museum. Ada juga satu film pendek dokumenter Revolusi Beludru yang diputar dari TV tua. Terlalu sederhana dan minim informasi untuk menggambarkan ideologi yang pernah mengguncangkan dunia.

Satu hal yang pasti, masuk ke museum ini tidak mendapati kesan seram seperti saat berkunjung ke Museum Pancasila Sakti di Desa Lubang Buaya. Tidak ada diorama adegan sadis dan berdarah, meski di situ ditampilkan juga contoh alat yang digunakan dalam interogasi.

Komunisme memang sudah bangkrut, termasuk di Praha yang pernah menjadi urat nadinya komunisme dunia. Ironisnya di sini masih sering dijadikan "hantu-hantuan" menakuti rakyat. Saya coba mencari jejak orang-orang Indonesia yang tidak dapat pulang selepas G 30 S/1965. Sering disebut exile. Namun tidak sempat bertemu dengan mereka.

Hal yang kita perlu belajar dari rakyat Ceko dan warga kota Praha adalah menyikapi luka sejarah masa lalu. Mereka tidak menjadikannya sebagai sekat sesama anak bangsa, apalagi menempatkannya sebagai alat diskriminasi. Fase kelam dalam tahap sejarah tidak diungkit-ungkit, apalagi dibuat hantu untuk kepentingan politik sesaat. Semua sepakat fokus pada masa depan.

Semoga pada momen 30 September ini, tidak ada lagi hantu-hantuan yang dimunculkan!

Ichwan Arifin mantan GMNI, alumus Pascasarjana Undip

(mmu/mmu)