Obituari

Mengenang Aryo Hanggono, "A Man with Patio"

Miftah Sabri - detikNews
Senin, 28 Sep 2020 15:34 WIB
Dirjen PRL KKP Aryo Hanggono
Dr. Aryo Hanggono (Foto: Dok. KKP)
Jakarta -

Telah berpulang ke haribaan Ilahi Rabbi Dr Aryo Hanggono, Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia. Pukul 4.50 di RSPAD, Senin (28/9), 25 menit setelah azan Subuh berkumandang, ia kembali pulang ke rumah abadi.

Mas Aryo. Saya mengenalnya di sebuah rapat pimpinan KKP hampir setahun yang lalu. Selalu tersenyum dan ceria. Kala itu jabatannya staf ahli menteri. Sebagai orang baru di sektor ini, saya langsung minta waktu kepadanya untuk sowan. Belajar. Kami akhirnya menjadi akrab.

Dia satu-satunya Eselon 1 yang tidak birokratis dan sangat luwes, at least sepanjang pergaulan bersama saya. Bra-bro bra-bro aja, lu-gue lu-gue aja kalau berbicara in person. Tidak ada kesan bermanis-manis mulut ala pejabat yang kerap didapati di republik +62. Bukan jenis orang yang pandai berminyak air. Karena sejenis dalam hal in,i kami pun nyambung.

Saya kalau mau nanya-nanya soal saintific reasoning di balik sebuah kebijakan, tinggal telepon, WA, atau email. Semua direspons dengan cepat. Saya intip WA-nya dini hari masih online; saya tanya tentang suatu kebijakan, dia langsung telepon menjelaskan.

Saya tanya, belum tidur? jawabannya sederhana, masih banyak kerjaan, Bro. Satu saya tanya, dia jawab seribu macam. Jenis-jenis orang seperti ini yang saya jumpai dalam hidup saya beri kategori passionate people. Orang-orang yang menjalankan sesuatu dengan passion. Asal kata passion itu patio. Suffering. Penderitaan. Luka.

Penderitaan dan luka pun tak terasa saat orang-orang jenis ini menjalankan sesuatu dengan patio. Karena asyik bekerja, sakit pun sering hilang tak terasa dibuatnya.

Saya bukan saintis di bidang marine and fisheries. Yang saya belajar dulu ilmu politik, statistik, dan ilmu perang. Begitu diberi amanah menjadi staf khusus menteri bidang kelautan dan perikanan tentulah ilmu saya sangat sedikit di bidang ini. Apalagi pengalaman policy maker lebih sedikit lagi. Saya lamanya di lembaga think tank, kampus, dan ekosistem digital, tidak di eksekutif pemerintahan.

Maka dari itu saya perlu segera belajar dan mencari guru. Beradaptasi dengan cepat. Dan Mas Aryo adalah salah seorang guru saya.

Hari hari pertama menjadi staf khusus menteri, Mas Aryo adalah tempat saya bertanya. Penjelasannya selalu clear. Sederhana. Kalau saya tanya tentang satu permasalahan, Mas Aryo akan kembali merespons dengan setumpuk jawaban komplet, berbagai sumber buku-buku, serta jurnal-jurnal yang terkait sehingga saya pun menjadi mengerti.

Dia tidak rela ada satu celah pun saya gagal paham tentang reason academic, pijakan sains suatu kebijakan. Apalagi soal laut dan perikanan yang super-complex dan luas ini.

Saya saking semangatnya tidak sempat mencari tahu siapa dia itu. Ya, karena sudah staf ahli menteri, bagi saya pasti ahli. Tidak biasanya saya begitu. Tapi itulah yang terjadi. Sampai pada suatu hari saya baru kebagian tugas mempersiapkan bahan-bahan untuk kegunaan panitia seleksi pejabat utama di KKP.

Saya harus kumpulkan resume siapa saja yang potensial mengisi jabatan-jabatan kosong kala itu. Saya membaca resume Dr Aryo Hanggono. Syok saya. Ini orang ternyata luar biasa! Ph.D Nantere Paris X bidang penginderaan jauh. Natrere ini kampus extension-nya Sorbone, Prancis. Kampusnya pemimpin-pemimpin dan saintis dunia dari Prancis. S1-nya Planologi ITB.

Berawal dari peneliti di BPPT, kemudian bergabung ke KKP sebagai assabikunal awwalun, orang-orang pertama yang membangun KKP setelah spin off dari Kementerian Pertanian. From the beginning of first day di KKP Mas Aryo dipercaya negara memegang amanah-amanah penting.

Kalau diibaratkan KKP itu sebagai suatu organisme makhluk hidup, maka pos-pos penting yang diduduki Mas Aryo adalah pos-pos "otak"-nya. Sebelum menjadi Dirjen, dia staf ahli menteri bidang ekologi dan sumber daya laut. Equiblirium antara pemanfaatan sumber daya laut dan keberlanjutan lingkungan hidup di dalamnya adalah domain dia untuk memikirkannya.

Sebelumnya lagi dia Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan. Hitung-hitungan berapa ikan yg bisa dimanfaatkan, mana yang harus diproteksi, mana yang kita harus genjot urusan dia kala itu. Apa yang harus dibahas di RFMO terkait perikanan kita dipikirkan di sana. Direktorat yang mengurusi diplomasi internasional tentang pemanfaatan sumber daya ikan.

Setelah itu sembari menjadi staf ahli menteri, Mas Aryo didapuk menteri menjadi Plt. Dirjen Pengelolaan Ruang Laut yang kosong karena pejabat sebelumnya pindah ke instansi lain. Diskusi saya menjadi lebih fokus dan intens. Concern-nya sangat tinggi terhadap rencana zonasi tata ruang laut, mengatasi sampah laut dan polutan lainnya, marines spatial management, bagaimana laut yang merupakan 70 persen dari NKRI ini, diatur sedemikan rupa zonasi dan pengelolaannya. Mencari keseimbangan antara mendapatkan dampak ekonomi yang maksimal dari setiap jengkal laut, namun harus mengutamakan keberlanjutan lingkungan laut beserta isinya tersebut.

Selama 20 tahun belakangan ini amanah negara kepada Mas Aryo: Kepala Sub Direktorat Usaha Jasa Kelautan, Kepala Bidang Teknologi Eksplorasi dan Eksploitasi, Kepala Bidang Pemantauan dan Perlindungan, Kepala Bidang Pelayanan Teknis, Kapus Pusat Riset Teknologi Kelautan, Kapus Pusat Pengkajian dan Perekayasaan --seluruhnya di bawah naungan Badan Penelitian dan pengembangan KKP.

Dari sini kita bisa melihat dia malang-melintang di badan riset dan benar-benar konsisten meniti karier sebagai saintis yang terlibat aktif secara teknokratis dan bertungkus lumus di birokrasi untuk memberikan judgment sains dalam setiap perumusan pengambilan kebijakan di KKP.

Bukan saintis di menara gading menatap dari kejauhan tentang fenomena dan berkhotbah tentang benar dan salah, baik dan buruk suatu kebijakan. Bukan! Dia ilmuwan yang ikut merumuskan kebijakan. Tidak sekadar menulis di jurnal Q1 belaka, tapi mempertarungkan gagasan tersebut dalam debat dengan parlemen misalnya, mengadunya dengan ahli, mendiskusikannya dengan sektor usaha, dan melemparnya dengan kritis ke media dan civil society. Ilmuwan yang turun ke bawah. Rausan fikr, kata Ali Shariati. Mas Aryo adalah intelektual organik itu.

Ketika mengikuti seleksi untuk jabatan dirjen, dia menduduki ranking pertama dari semua jenis ujian yang dilakukan TPA yang dibentuk oleh Menteri. Mas Aryo meraih nilai paling tinggi bobotnya di semua pos di atas aplikan lain, dan tertinggi dari seluruh peserta seleksi.

Maka dengan tak ragu Menteri menetapkan Mas Aryo Hanggono, dengan latar pendidikan Planologi, yang menguasai ilmu penginderaan jarak jauh tersebut menjadi Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut secara penuh.

***

Mas Aryo bersama saya mewakili Menteri KKP dalam High Level Panel on Ocean Economic di New York. Saya, Pak Des Alwi dari Kemenlu, dan Mas Made Andi dari UGM. Kami menginap bersama di Wisma PTRI New York. Mas Aryo sebagai Ketua Delegasi RI, kami anggotanya.

Selanjutnya kami menjajaki kerja sama dengan University of Maryland untuk menyusun program peningkatan kapasitas akademik decision makers di KKP dalam sebuah rencana program pendidikan. Baik kursus singkat dalam jangka pendek maupun ke depan kemungkinan mengirimkan karyawan KKP untuk tugas belajar di tingkat pascasarjana, master, hingga doktoral di kampus bagus di Amerika sana. Kemudian juga ke Google HQ, merumuskan kerja sama antara KKP dan Google dalam rangka pemanfaatan teknologi dalam pengawasan sumber daya kelautan. Hal kedua-ketiga belum berhasil dilanjutkan karena tertunda pandemi Covid.

Namanya bermalam bersama lebih dari tiga hari, segala tingkah polah keluarlah. Saya punya kesempatan waktu yang cukup panjang selama perjalanan mengkonfirmasi rasa syok saya membaca resume dia tempo hari.

Mas Aryo menceritakan kepada kami perjalanan hidupnya dari anak gaul SMA 3 Bandung sampai menjadi mahasiswa Planologi ITB angkatan 1983. Malang-melintang dengan segala romansa anak Bandung masa itu. Kemudian dia masuk BPPT. Pak Indroyono Susilo memanggilnya suatu hari.

"Yo, lu sekolah gih, ini ada peluang sekolah ke Prancis."

"Gue mah main iya iya aja ke Mas Indroyono."

Maklum sama senior. Dan ikutlah Mas Aryo semua seleksi, rupanya keterima. Sampai di Paris bengong ini orang --bahasa apa? Mas Aryo berjuang terus dari nol sampai akhirnya fluent atas bahasa Prancis yang seksi itu dan mampu menulis karya ilmiahnya dalam bahasa paling unik sedunia tersebut.

Di Paris X Nanterre tersebut Mas Aryo dibimbing dan diuji oleh Muriel Charras dan Charles Goldblum, dua scholars yang sangat mengerti tentang geografi Indonesia dan berkaliber internasional. Akhirnya dia berhasil menamatkan master Diplome d Etute Approfondir (1993/1994) dan Ph.D di sana dan dalam sidang sautenance ujian promosi doktor dengan judisium Tres Honorable Avec Felicitation, nilai tertinggi untuk ujian doktor (1994 - 1998).

Sembari sekolah ke Prancis, Mas Aryo menjadi supir taksi untuk menambal beasiswa yang kurang kala itu --perjuangan hidup mahasiswa pascasarjana di negeri orang. Dalam pertemuan di New York itu, saya menyaksikan bagaimana Mas Aryo lebih cakap berbahasa Prancis daripada Inggris. Jika tahu peserta lain adalah french speaking country, dia langsung switch. Kami pun delegasi lain jadi alien jika Mas Aryo sudah ber-"French French ria".

Disertasi yang ia tulis mengenai penginderaan jauh dan penggunaan satelit dalam pengelolaan dan pengawasan sumber daya alam. Waktu itu ilmu ini masih sangat langka. Mas Aryo termasuk generasi pertama expert di bidang ini yang Indonesia miliki.

Selepas kembali dari studi dan bertugas di KKP, ilmu dia ini sangat bermanfaat. Station satelit milik KKP yang ada di perancak Bali adalah buah dari pemikirannya bersama mentornya Dr Indroyono Susilo kala itu.

Dari pemaparan ilmu yang dia sampaikan kepada saya nyaris tidak mungkin bisa ada IUU Fishing di Indonesia dari segi monitoring. KKP sudah punya semua. Tinggal bagaimana kita dibekali armada dan aparatus yang cukup untuk mengawal laut kita dari para pencoleng baik dalam dan luar negeri. Secara saintifik semua kita sudah punya alatnya.

Maka tiga hari itu saya dibuat melongo oleh Mas Aryo. Sejak saat itu saya tidak lagi memanggil Mas. Tapi Kang Aryo. Karena sudah tahu dia adalah penjaga kegaulan kota Bandung sejak muda hingga sekarang. Anak gaul SMA 3 Bandung, insinyur ITB, Ph.D Nanterre Paris X menjadi salah seorang pejabat utama di KKP. Pejabat murah senyum nan baik hati. Putranya sekarang juga lanjut ke ITB.

Mas Aryo mahir bermain piano. Segala jenis aliran musik ia kuasai. Sembari jalan di dinginnya New York dia suka bersiul-siul. Jadi tidak hanya otak kiri yang kuat dalam sains, otak kanannya juga seimbang. Lazim saya melihat beberapa tokoh besar menjaga keseimbangan kecerdasan dengan musik. Mas Aryo benar-benar anak ITB sejati yang di kampusnya tertulis kawah candradimuka bagi "sains, tekonologi, dan art". Pribadi yang lengkap dengan otak yang seimbang.

***

Selepas kunjungan kerja ke Ambon akhir Agustus lalu, Menteri, dan dua anggota rombongan lain mendapati hasil swab positif Covid-19. Inilah yang namanya pandemi. No matter who you are, siapapun bisa kena. Covid tidak mengenal jabatan. Di sisi yang lain amanah mengurus sektor kelautan dan perikanan tidak mungkin 100 persen diurus dari balik meja.

Ini sektor yang sangat teknis mengurus laut dan para nelayan. Pejabatnya mau tidak mau harus turba, turun ke bawah. Blusukan. Maju ke fron depan meskipun pandemi virus di mana-mana. Nelayan harus terus melaut untuk menghasilkan protein bagi masyarakat. Bukankah makin pandemi kebutuhan protein jadi lebih tinggi supaya imunitas tubuh kita tetap terjaga?

Namun tidak dengan Kang Aryo. Dia hasil swab-nya negatif sepulang kunker tersebut. Kang Aryo tancap gas langsung ke DPR bolak-balik mewakili kementerian, konsolidasi dengan internal, dan menjadi narasumber di beberapa webinar. Terakhir saya bersama dia saat dia mengisi webinar tentang pengelolaan Arwana.

Dari balik layar komputer saya lihat wajah Kang Aryo sedikit lelah. Ada yang sedikit lucu; dia memimpin webinar berkacamata dengan frame merah. Beberapa peserta dari berbagai sektor sempat meledek, gaul sekali Kang Aryo. Dia tersenyum. Sebelum menutup webinar, dia mengatakan akan mengirim tim ke Papua untuk memastikan kembali beberapa data yang disampaikan pengusaha yang klaimnya berbeda dengan temuan peneliti dari KKP. Sekarang baru sadar kacamata frame merah yang eksentrik tersebut adalah tanda-tanda beliau akan pergi.

Saya bilang: Kang Aryo, jangan terlalu diforsir kerja. Daya tahan tubuh perlu di tengah pandemi ini. Kang Aryo bilang: Aman, Bro.

Sampailah beberapa hari kemudian dia WA: Badan gw ga enak nih, mau ke MMC mau cek dulu.

Saya bilang: Kang, kalau positif segera saja minta dirawat karena memang minggu itu Jakarta spiking sekali angka positif Covid-19-nya. Hasil swab dari Kang Aryo keluar dan kali ini positif. Dia segera dirawat di RS Polri. Hampir tiap hari di RS Polri ber-WA dan kami beberapa kali video call. Dia update hasil lab-nya oke. Masih bisa makan. Penciuman juga oke. Selama tiga hari dia update terus. Sengaja kami berkomunikasi supaya at least dia bisa happy dan imun menjadi baik.

Sampailah kemudian dia dipindah ke RSPAD supaya mendapatkan perawatan yang lebih serius di sana. Saya terputus kontak. Selanjutnya saya tidak bisa lagi berkabar. Update mengenai dia saya dapat dari keluarga dan tim KKP.

Kondisi Kang Aryo terus memburuk. Masuk ICU dan dipasangi ventilator. Kami se-KKP terus merasa risau dan khawatir. Satu-dua teman yang awal positif sudah kembali pulang ke rumah dan ada yang sudah kembali bekerja. Tapi Kang Aryo masih saja di ICU. Kondisi pasang-surut. Nyaris hampir setiap hari seluruh KKP terutama di Ditjen PRL update dan mendoakan.

Belakangan kami mendapatkan informasi bahwa rupanya Kang Aryo memiliki diabetes --ada penyakit penyerta yang dia idap, tapi selama ini karena tidak mau merepotkan kolega, tidak terlampau mengekspos gula dia tersebut. Hanya beberapa orang dekat saja yang mengetahui ini. Diagnosis dari tim yang merawat di RS, sehingga dia menjadi lebih struggle dari yang lain.

Pagi ini seluruh KKP ramai. Kang Aryo, Dirjen nan baik hati itu pun pergi meninggalkan kita. Dari seberang Pasifik saya menerima video Salat Jenazah Kang Aryo di pelataran RSPAD oleh para ASN KKP. Kemudian iring-iringan mobil Kang Aryo melintas KKP. Sampai hormat terakhir tim KKP melepas Kang Aryo di Pemakaman Pondok Rangon. Saya langsung mengambil wudu dan melaksanakan Salat Ghaib dari sini.

Sepanjang menulis ini mata saya berkaca-kaca. Anggaplah ini suatu catatan pribadi. Sebuah eulogi dari sahabat, adik, dan mungkin teman yang baru setahun dikenal, tapi saya merasa sudah lama sekali kita bersahabat.

Pesan duka dari berbagai penjuru dunia datang terus sembari saya mencatat eulogi ini, menandakan Kang Aryo sosok Dirjen kaliber dunia. Kolega dari World Bank, Pusat Oceanografi di Brest Prancis menyampaikan duka mendalam. Pesan dari USAID menggetarkan hati, menyebutnya "a champion of the ocean, a leader in conservation and a friend to development partner."

Tiba-tiba saja saya didorong oleh sebuah kekuatan kebaikan Kang Aryo untuk menulis eulogi ini. Energi kebaikan Kang Aryo yang menembus batas hayat dia sendiri. Setidaknya, ini bisa dibaca oleh para generasi muda pembuat kebijakan di KKP bahwa Kang Aryo adalah seorang policy maker yang baik dalam segala bidang, capaian akademis, dan karakter personal teladan.

Miftah Sabri Juru Bicara Menteri Kelautan dan Perikanan, sedang tugas belajar di Amerika

(mmu/mmu)