Kolom

Suga Yoshihide dan Dinamika Politik Jepang

Syahrur Marta - detikNews
Jumat, 25 Sep 2020 15:30 WIB
Yoshihide Suga, putra petani yang hampir dipastikan akan menjadi perdana menteri baru Jepang
Suga Yoshihide (Foto: BBC World)
Jakarta -

Menteri Sekretaris Negara Suga Yoshihide terpilih sebagai Ketua partai berkuasa LDP (Liberal Democratic Party/Jiminto) sekaligus juga dipastikan akan menduduki jabatan sebagai Perdana Menteri Jepang mendatang. Sebelumnya paling tidak disebut tiga nama kandidat kuat dari lingkungan partai dan kabinet selain Suga Yoshihide, yakni Ishiba Shigeru (mantan Sekjen LDP), Kishida Fumio (Ketua Biro Kebijakan Politik LDP), dan Kono Taro (Menteri Pertahanan).

Dari hasil perolehan suara yang didapat dalam pemilihan internal partai, Kishida Fumio berada di urutan dua dan disusul oleh Ishiba Shigeru. Dilihat dari calon-calon yang berkompetisi maupun dari hasil dari pemilihan tersebut ada beberapa fenomena menarik yang menandai arah perubahan politik Jepang yang patut dicermati.

Dalam satu dasawarsa terakhir ini kondisi panggung politik Jepang banyak dihiasi dengan kemunculan politisi-politisi muda yang dikenal dengan istilah Koizumi Children. Istilah ini mengacu pada politisi yang dibesarkan oleh mantan PM Koizumi Junichiro yang terdiri dari para anak-anak muda dari partai-partai konservatif termasuk LDP. Koizumi Junichiro sendiri dari LDP yang lama berkuasa (2001-2006) dan dikenal memiliki basis dukungan yang besar serta populer dengan gaya mudanya.

Pemunculan politisi muda oleh partai-partai besar merupakan konsekuensi logis dari upaya untuk menarik partisipasi politik anak muda Jepang yang sebagian besar kehilangan minat ke politik dan memilih menjadi golput. Kelompok yang sering disebut juga sebagai Mutohaso (Golongan Non Partai) ini, dari survei pada 2019 oleh beberapa media massa besar di Jepang mencapai jumlah 30-40%. Cukup besar untuk dapat menjadi penentu kemenangan partai di dalam pemilihan anggota parlemen pusat maupun daerah.

Selain itu, politisi wanita juga banyak dimunculkan LDP di panggung politik Jepang yang puncaknya kesuksesan Koike Yuriko sebagai Gubernur Tokyo. Hal ini juga bagian dari upaya untuk mendorong peran perempuan Jepang di ranah-ranah publik. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa secara tradisional, perempuan Jepang lebih menyukai berkecimpung di ranah domestik setelah mereka menikah, dan menjadikan suami sebagai satu-satunya penyokong perekonomian keluarga.

Tapi dalam kondisi ekonomi Jepang yang terus melemah dan jumlah populasi terutama usia produktif terus menurun, mobilisasi sumber daya tanpa mengenal gender menjadi pilihan yang tidak dihindari. Oleh karena itu kemunculan para politisi perempuan diharapkan akan menjadi penggerak dari partisipasi perempuan di dalam aktivitas ekonomi di Jepang.

Pada masa pemerintahan Abe Shinzo, pemulihan ekonomi masih menjadi isu sentral, di mana salah satu kebijakan Abenomic yang banyak menimbulkan perdebatan rakyat adalah kenaikan pajak konsumsi 8%. Meskipun pada awal 2020 perbaikan ekonomi terlihat, kebijakan ini dianggap tidak berpihak pada aspek kesejahteraan kaum lemah, terutama kaum pensiunan dan orang tua yang banyak hidup di daerah-daerah.

Seiring dengan merebaknya wabah Covid-19, perekonomian Jepang kembali mengalami krisis cukup parah dan data survei NHK menunjukkan dukungan terhadap Kabinet Abe pun terus menurun sampai hanya tersisa 34% pada Agustus. Dan puncak dari itu semua adalah pengunduran diri Abe Shinzo sebagai Perdana Menteri Jepang.

Pada masa post-Abe ini, LDP sepertinya menyadari perlunya kembali menarik dukungan dari daerah yang relatif rendah mengalami dampak dari penyebaran Covid-19. Hal ini tampak dari keempat calon yang dimunculkan dalam pemilihan Ketua LDP di mana dua di antaranya Suga Yoshihide dan Ishiba Shigeru merupakan figur-figur yang populer di mata politisi daerah.

Sejak PM Tanaka Kakue yang dijuluki sebagai Dekasegi Seijika (politisi migran kampung) yang berkuasa pada 1972-1974, hampir tidak ditemukan kembali politisi dari sayap kanan yang memiliki basis konstituen dan dukungan daerah yang kuat. Kemenangan Suga Yoshihide ini juga merupakan kemenangan daerah, selain juga menandai semakin lemahnya kekuatan sistem klan/grup politik (Habatsu) di dalam LDP yang pernah tumbuh subur setelah melemahnya kekuatan oposisi kiri (sosialis dan komunis) di Jepang pada 1970-an.

Suga Yoshihide selain dekat dengan politisi daerah juga selama ini dikenal sebagai politisi yang relatif independen dan tidak berafiliasi pada klan/grup politik di dalam tubuh LDP. Punahnya sistem Habatsu ini seperti menjadi era baru dari sistem politik Jepang yang lebih terbuka bagi partisipasi dan mobilisasi seluruh kekuatan politik Jepang terutama yang di daerah.

Meskipun demikian, ke depan Suga Yoshihide akan menghadapi permasalah ekonomi Jepang yang tidak hanya dilatarbelakangi isu global pandemi, tapi juga terkait permasalahan pelik seperti menuanya masyarakat Jepang (Koreika) serta menyusutnya populasi penduduk di Jepang. Selain itu dalam isu perbaikan ekonomi, sebelumnya Kabinet Abe juga banyak dikritik dengan lambatnya perkembangan digital ekonomi dibanding negara tetangganya yaitu China dan Korea, yang menjadi menjadi basis perkembangan industri 5.0 Jepang.

Abe Shinzo sendiri di bidang politik juga masih meninggalkan banyak pekerjaan rumah seperti masalah amandemen konstitusi, Perpanjangan Traktat Perjanjian Keamanan dengan Amerika. Perjanjian yang ditandatangani pertama kali oleh kakek Abe Shinzo, yaitu PM Kishi Nobusuke pada 1960 itu banyak ditentang oleh di kalangan mahasiswa --dikenal dengan istilah Anpo Toso dan memakan korban cukup besar dan berbuntut pemberangusan aktivitas gerakan mahasiswa pada saat itu.

Di lain pihak, amandemen konstitusi juga memunculkan kekhawatiran kembalinya kekuatan fasisme militer seperti di era Perang Pasifik. Sejak 2015 demonstrasi besar-besaran di Jepang terus berlanjut terkait dengan revisi Amandemen UU maupun Perpanjangan Perjanjian Keamanan dengan Amerika. Yoshihide tampaknya akan masih terus dibayangi isu-isu yang dilatarbelakangi dengan trauma sejarah di ranah politik tersebut dan tantangan pemulihan ekonomi yang berat ke depan.

(mmu/mmu)