Kolom

Menanti Nasib "Negara Diktator Terakhir" di Eropa

Giftson Ramos Daniel - detikNews
Jumat, 25 Sep 2020 14:03 WIB
Protes Belarusia Berlanjut, Lukashenko Tuduh NATO Kerahkan Pasukannya
Aksi demonstrasi di Belarusia (Foto: Getty Imges/AFP/S. Gapon)
Jakarta -

Situasi dan kondisi negara tetangga Rusia, yaitu Belarusia tengah memanas. Demonstrasi terjadi sebagai wujud penolakan terhadap hasil pemilu yang memenangkan Presiden Alexander Lukashenko. Kemenangan ini sekaligus menandakan bahwa Lukashenko sudah berkuasa selama 26 tahun. Alhasil situasi ini membuat dirinya disebut sebagai rezim diktator terakhir yang berada di Eropa.

Keberhasilannya dalam mengungguli perolehan suara atas calon presiden dari oposisi yaitu Svetlana Tikhanovskaya menjadi awal momentum aksi demonstrasi besar yang dilakukan para aktivis pro-demokrasi. Dugaan kecurangan atas hasil pemilu tersebut menjadi alasan utama dari terjadinya aksi demonstrasi. Suasana semakin tidak kondusif karena terjadi penahanan terhadap sejumlah demonstran.

Uni Eropa menjadi salah satu aktor yang berasal dari luar yang mendorong adanya pemeriksaan terhadap hasil pemilu di Belarusia. Uni Eropa menduga telah terjadi kecurangan, sehingga Lukashenko bisa memenangi pemilu untuk yang ke-6 kalinya. Namun, keinginan Uni Eropa ditentang oleh sekutu Belarusia, yaitu Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin mengingatkan "Barat" agar tidak mencampuri permasalahan internal di Belarusia.

Meski ada tekanan dari Rusia, namun Uni Eropa tetap pada pendiriannya untuk menolak hasil pemilu dan bersiap untuk memberikan sanksi terhadap Belarusia. Selain Uni Eropa, AS juga menyatakan penolakannya terhadap hasil pemilu Belarusia. Penolakan AS-Uni Eropa terhadap hasil pemilu di Belarusia semakin memperlihatkan adanya keinginan "Barat" untuk ikut campur dalam geopolitik di kawasan Eropa Timur.

Dukungan dari Barat terhadap aksi demonstrasi oleh pihak oposisi Lukashenko semakin memperlihatkan adanya campur tangan Barat secara tidak langsung di dalam fenomena yang terjadi di Belarusia. Meskipun, adanya dugaan keterlibatan Barat terhadap kondisi yang terjadi di Belarusia tidak serta merta menjadikan suatu kesimpulan bahwa Belarusia serta Rusia akan dengan mudah menjalin kesepakatan bersama.

Hubungan kedua negara bukanlah sebuah hubungan yang sudah terjalin dengan harmonis terutama pada saat Belarusia menolak Rusia untuk memperkuat integrasi ekonomi. Namun, ketika kondisi domestik Belarusia mengalami gejolak, Rusia menyatakan akan membantu dalam menangani aksi protes terhadap hasil pemilu yang memenangkan Lukashenko.

Lahan "Proxy War"

Tarik-menarik antara Rusia yang dianalogikan sebagai Blok Timur dengan serta Blok Barat yang dianalogikan dengan Uni Eropa dan AS telah menjadikan Belarusia sebagai lahan proxy war. Konflik kepentingan dari aktor negara dan non-negara yang terjadi di dalam suatu negara dilatarbelakangi oleh adanya beberapa kepentingan. Geraint Hughes menegaskan bahwa proxy war merupakan sebuah peristiwa militer dalam suatu negara yang dipengaruhi oleh kekuatan pihak eksternal.

Kekuatan dari pihak eksternal tersebut mengacu pada adanya suatu kepentingan yang ingin dicapai. Maka, untuk mencapai kepentingan tersebut melibatkan lebih dari satu negara yang memiliki kepentingan yang sama. Sedangkan menurut Chris Loveman, terjadinya sebuah proxy war yaitu apabila dalam negara tersebut sudah terlihat adanya sebuah letusan konflik di dalam internal negara tersebut.

Sementara itu munculnya aksi demonstrasi dari pihak oposisi di Belarusia menimbulkan tensi yang semakin panas sehingga konflik tidak terelakkan. Sejumlah massa yang merupakan pihak oposisi yang pro-demokrasi ditangkap oleh aparat keamanan, dan pimpinan dari pihak oposisi yaitu Svetlana Tikhanovskaya juga tidak luput dari upaya penangkapan. Situasi inilah yang dikecam oleh dunia Barat yang diwakili oleh Uni Eropa dan AS.

Uni Eropa bahkan mengeluarkan ultimatum agar Presiden Alexander Lukashenko menghentikan aksi represif terhadap kelompok demonstran. Lithuania selaku salah satu negara anggota Uni Eropa akhirnya memberikan tempat berlindung sementara bagi Svetlana Tikhanovskaya.

Penolakan Uni Eropa terhadap hasil pemilu serta mendukung pergerakan oposisi seakan menjadi sebuah akumulasi dari beberapa upaya yang dilakukan oleh Uni Eropa terhadap Belarusia. Namun Uni Eropa cukup kesulitan mengontrol otoritas Belarusia karena besarnya pengaruh Rusia. Kremlin berusaha melindungi Belarusia dari gejolak internal akibat proxy yang disokong oleh Barat. Bahkan, Rusia juga akan membantu Belarusia dengan tenaga militer bila diperlukan.

Upaya untuk melindungi Belarusia salah satunya tidak lepas dari kontribusi negera tersebut di organisasi ekonomi Eurasian Economic Union (EEU). Menurut informasi dari harian Belarusia yaitu BelTa, arus perdagangan di EEU sekitar 45% merupakan sumber daya ekspor yang berasal dari Belarusia. Selain itu, ketergantungan Belarusia terhadap minyak dari Rusia juga menjadi salah satu faktor yang cukup menguntungkan bagi Rusia untuk mengendalikan Belarusia.

Meski bergantung pada EEU dan Rusia, namun masa depan Belarusia dipertaruhkan bila terus menjalin hubungan ekonomi dengan Rusia serta EEU karena perekonomian kedua aktor tersebut dalam kondisi tidak stabil. Situasi ini menjadi "angin segar" bagi Blok Barat terutama Uni Eropa.

Ketidakstabilan Belarusia di EEU dan hubungannya dengan Rusia akhirnya menjadi momentum bagi Uni Eropa untuk melancarkan kepentingan proxy di Belarusia. Selain Uni Eropa, AS melalui NATO juga sudah memantau situasi yang terjadi di Belarusia dengan membangun pangkalan militer di Polandia dan Lithuania. Kondisi ini membuat otoritas Belarusia semakin terdesak.

Sudah Pernah Terjadi

Bila menoleh ke belakang, tentu kondisi ini seperti tidak asing atau sudah pernah terjadi sebelumnya di negara Eropa Timur bekas pecahan Uni Soviet, yaitu Ukraina. Pergerakan aktivis di wilayah Krimea yang menginginkan Krimea bergabung ke Federasi Rusia memicu terjadinya aneksasi Rusia ke dua wilayah Ukraina yaitu Krimea dan Sevastopol. Tindakan Rusia dinilai ilegal oleh PBB, sehingga Rusia harus menerima sanksi ekonomi sejak 2014.

Salah satu bentuknya yaitu perusahaan-perusahaan Eropa dilarang untuk bertransaksi dagang dalam bidang keuangan, energi hingga pertahanan dengan beberapa perusahaan Rusia. Keputusan sanksi ini berdampak cukup signifikan bagi perekonomian Rusia, sehingga Rusia harus lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan pada fenomena kali ini yang melibatkan Belarusia.

Saya menilai, proxy yang terjadi di Belarusia merupakan implikasi dari ketidakpuasan "Barat" atas pencaplokan Krimea oleh Rusia. Tindakan ilegal tersebut dinilai telah merugikan Barat yang selama ini cukup bergantung pada minyak Rusia yang melintas dari Ukraina. Akibatnya, perekonomian Uni Eropa terdampak terutama di sektor minyak. Terlebih bila mengingat bahwa wilayah Krimea tergolong strategis karena mayoritas wilayahnya dikelilingi oleh Laut Hitam yang kaya akan minyak.

Situasi ini tentunya menekan Barat, sehingga perlu ada tindakan yang bisa menekan Rusia dan salah satunya melalui Belarusia. Wujudnya adalah Uni Eropa tidak mengakui hasil pemilu dan mengecam aksi represif otoritas Belarusia. Hal ini berujung pada seruan untuk memberikan sanksi ekonomi oleh Uni Eropa kepada Belarusia karena adanya dugaan kecurangan pemilu.

Seruan Uni Eropa untuk memberikan sanksi ekonomi mendapatkan penolakan dari Belarusia, sehingga tensi antara dua poros tersebut semakin panas. Kondisi Belarusia yang semakin mendapat tekanan dari Barat berpotensi memancing Rusia untuk bereaksi. Namun, bila melihat situasi Rusia saat ini, yang perekonomiannya terguncang akibat sanksi ekonomi dari Barat, akan memberatkan Rusia untuk terlibat lebih jauh dalam permasalahan ini.

Maka, dalam fenomena ini, saya menilai bahwa tekanan berbentuk aksi demonstrasi oleh massa dari pro-demokrasi merupakan imbas dari proxy Barat, utamanya Uni Eropa, dengan tujuan utama untuk menekan Rusia. Barat berharap upaya ini mampu menekan Rusia agar menarik pasukannya dari Krimea, meski sejauh ini Rusia masih bersikukuh untuk tidak mendengarkan permintaan dari Barat yaitu menyerahkan Krimea pada otoritas Ukraina.

Sementara itu, posisi Belarusia semakin terhimpit antara persaingan dua poros kekuatan. Apabila tarik-menarik kepentingan terus terjadi, maka konflik di internal Belarusia diprediksi bisa terus bergejolak.

(mmu/mmu)