Kolom

Kecakapan Literasi Jangan Memicu "Pergi"

Lukman Solihin - detikNews
Jumat, 25 Sep 2020 11:28 WIB
Butet Manurung di Sokola Rimba, Bukit Dua Belas, Jambi (Foto: Lukman Solikin)
Jakarta -

Di tengah perayaan Hari Aksara Internasional yang jatuh pada 8 September lalu, saya merenungkan perkataan Butet Manurung, pendiri Sokola Rimba yang telah dua puluh satu tahun mendampingi berbagai komunitas adat dalam meraih kecakapan literasi.

"Hati-hati dengan buku, sebab ia dapat memicu perubahan. Hati-hati dengan penyeragaman, sebab dapat menyamaratakan kecakapan, juga imajinasi tentang konsep kemajuan, yang pada akhirnya mengancam kemandirian komunitas."

Kalimat bertenaga itu saya ringkas ketika mengikuti acara Ngobrol Online Antropologi yang diselenggarakan Jaringan Kekerabatan Antropologi Indonesia (JKAI), Jumat (11/9) malam, di mana Butet menjadi salah satu pemantik diskusi.

Gerakan literasi yang ditaja oleh komunitas, menurutnya, lebih banyak terjebak pada usaha untuk meningkatkan minat baca, tanpa berupaya sungguh-sungguh memahami persoalan dan kebutuhan komunitasnya. Padahal gerakan literasi seharusnya tidak hanya mengupayakan melek aksara, melek baca, tetapi terutama melek masalah.

Begitu pula, buku-buku seharusnya diklasifikasi berdasarkan kebutuhan dan relevansinya dengan persoalan komunitas sebelum disebarluaskan. Butet sepakat bahwa semua buku pada dasarnya baik, tetapi maslahatnya tidak dapat dilepaskan dari konteks masyarakat pembacanya.

Para pembaca jangan buru-buru salah tangkap. Saya pun ketika mendengar pernyataan itu sempat mengernyitkan dahi: apa salahnya menyediakan buku, bukankah ia adalah jendela dunia? Ternyata, tepat pada bayangkan kita perihal "jendela dunia" itulah pangkal masalahnya. Bacaan menawarkan kebaruan, memicu refleksi, juga kritik atas suatu kondisi, dan di sinilah pokok soalnya. Buku adalah jendela menuju wawasan dan perubahan. Tetapi, perubahan seperti apa?

Pengetahuan yang Mencerabut Akar

Dalam diskusi malam itu Butet berkisah, ketika mulai mendampingi orang rimba di Jambi sekira dua puluh satu tahun lalu, dia sempat menertawakan keyakinan anak-anak Rimba yang percaya bahwa bumi berbentuk datar dan mataharilah yang mengelilingi bumi. Sebagai kaum terpelajar yang mendampingi anak-anak itu belajar membaca, dia "mengoreksi" pemahaman yang "keliru" tersebut.

Tanpa dinyana, esok harinya dia didatangi orangtua yang protes karena pengetahuan baru yang disampaikan Butet tidak hanya bertentangan, tetapi memicu perdebatan, bahkan pembangkangan anak-anak terhadap kepercayaan leluhur mereka. Pengalaman ini menjadi semacam titik balik bagi Butet. Pengetahuan yang dibawa dari luar, meskipun benar secara universal, belum tentu tepat bagi konteks sosial masyarakat yang didampinginya.

Ini bukan soal benar-salah, tetapi perihal tergerusnya identitas, jati diri, dan keyakinan kolektif. Jika jati diri komunitas tak lagi dihayati, maka perubahan yang ditawarkan tentu akan mencerabut anak-anak dari akar budayanya. "Hati-hati dengan buku" adalah pernyataan waspada yang lahir dari pengalaman menjumpai komunitas-komunitas yang mendapatkan layanan pendidikan dan buku yang tidak relevan bagi kehidupan mereka.

Pendidikan dan buku mungkin saja membuka cakrawala dan pengetahuan baru, tetapi yang tak terelakkan ialah melalui itu terbentuk imajinasi kemajuan yang jauh berbeda dengan ideal komunitas. Pada akhirnya, seperti juga pendidikan formal, buku-buku dapat memantik mereka untuk "pergi". Secara harfiah itu dapat berarti urbanisasi, atau secara simbolik bermakna meninggalkan nilai dan norma bersama.

Pendidikan, gerakan literasi, juga buku, pertama-tama seharusnya meneguhkan identitas kolektif komunitas, sebelum kemudian menjadi perkakas untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi. Jika pendidikan, gerakan literasi, dan buku hadir dalam konsep yang seragam, maka pengetahuan, kecakapan, dan imajinasi tentang kemajuan pun hanya akan satu macam, yakni kehidupan modern, kehidupan urban.

Anggota komunitas bisa saja tercerabut dari akar komunalnya bukan karena sumber daya alamnya diserobot perusahaan HPH, tetapi justru melalui "penjajahan pikiran" yang secara halus diinternalisasi melalui pendidikan, gerakan literasi, juga buku. Kritik serupa ini sebetulnya pernah dilontarkan pada Balai Pustaka pada era kolonial.

"Penjajahan Pikiran" via Buku

Sejarah gerakan literasi di negeri ini tidak dapat dilepaskan dari peran Balai Pustaka. Lini penerbitan dan pembakuan buku bacaan oleh pemerintah kolonial ini lahir pada 1908 guna mendukung Politik Etis bidang pendidikan. Tumbuhnya kaum terpelajar perlu ditopang oleh bahan bacaan bermutu dan tentu saja sesuai dengan selera penguasa kolonial.

Peran Balai Pustaka dalam mencerdaskan kaum bumiputra tak dapat dikesampingkan. Namun Hilmar Farid (dalam Kolonialisme dan Budaya, Prisma No. 10, November 1991) melihatnya dengan cara lain. Menurutnya, lembaga ini juga turut menjalankan "penjajahan pikiran".

Balai Pustaka menerjemahkan berbagai karya dari khazanah peradaban Barat ke dalam bahasa daerah, mulai dari ilmu pengetahuan hingga kecakapan teknis seperti merawat kesehatan dan bercocok tanam. Imaji modernitas, seperti rajin, hemat, dan tepat waktu menjadi nilai-nilai yang diperkenalkan melalui buku-buku. Ngelmoe Kesoegihan misalnya, diterbitkan untuk mengajarkan orang Jawa mengoptimalkan waktu dan uang.

Melalui bacaan, penduduk Hindia Belanda disiapkan untuk menjelang tata ekonomi pasar dan kehidupan modern ala Barat. Tinjauan serupa juga tampak pada kasus India. Clare Talwalker (2005) dalam Colonial Dreaming: Textbooks in the Mythology of Primitive Accumulation menunjukkan bagaimana buku pelajaran pada masa kolonialisme Inggris berupaya menyiapkan warga India untuk siap menerima modernitas dan sistem kapitalisme kolonial.

Nilai-nilai baru yang diintroduksi melalui buku berupaya mengubah imajinasi tentang kemajuan agar selaras dengan sistem kolonial. Berkaca dari kasus di era kolonial ini, gerakan literasi dan penyediaan buku jangan sampai menjadi peranti kolonialisme baru. Pemerintah dan para pegiat literasi perlu berhati-hati agar penyediaan buku tidak hanya tepat dari segi usia dan jenjang, tetapi juga konteks sosial pembacanya.

Buku yang Kontekstual

Jamak dipahami bahwa buku yang dibaca harus tepat. Namun, definisi tepat di sini umumnya baru mencakup kesesuaian dengan usia dan jenjang pendidikan, aspek keterbacaannya, maupun kegrafikaannya yang menarik. Aspek konten hanya diteropong apakah sesuai dengan usia pembaca, dan tidak begitu jauh dipersoalkan apakah topiknya sinkron dengan kondisi sosio-kultural pembacanya.

Mempersoalkan topik yang harus sesuai dengan konteks sosial pembaca ini tentu cukup problematis. Di satu sisi, produksi buku di negeri ini masih cukup terbatas, sekitar 68.000 judul buku dalam setahun menurut data IKAPI pada 2018, dan di sisi lain sebagian besar buku tersebut diproduksi para penerbit di Pulau Jawa.

Dari segi jumlah buku yang terbit dan dominasi penerbit di Jawa itu dapat dilihat ketidakberimbangan pengetahuan yang ditawarkan ke publik melalui bacaan. Topik yang ditawarkan pun tentu yang dianggap akan laku di pasaran alias marketable.

Di sinilah pentingnya lini produksi buku untuk turut menyediakan kebutuhan bacaan yang sesuai dengan konteks sosial pembaca. Penerbit-penerbit arus utama yang biasa bermain di ranah buku-buku best-seller tentu tak mau ambil risiko menekuni topik spesifik yang audiensnya mungkin dianggap terlampau sedikit.

Tetapi, di tengah keringnya upaya penyediaan bacaan yang kontekstual, para pegiat literasi rupanya tidak tinggal diam. Jika semula kerja-kerja sosial mereka fokus pada penyediaan akses bacaan, sebagian dari mereka kini juga menekuni kerja memproduksi bacaan. Berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan komunitas literasi lainnya tumbuh di banyak daerah dan mereka berupaya menjadi bidan bagi lahirnya para penulis muda.

Meskipun dari segi jumlah masih relatif sedikit, namun upaya untuk menerbitkan karya dari aras lokal ini patut mendapat apresiasi. Semakin banyak buku terbit dari komunitas literasi tidak hanya akan memperkaya topik-topik pengetahuan dari khazanah lokal, tetapi juga menunjukkan bahwa kecakapan literasi yang mereka peroleh justru digunakan untuk menuliskan pengetahuan dan kekayaan lokalitas mereka. Proyek literasi seperti ini agaknya perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Buku, sebagaimana pepatah Latin verba volant scripta manent, dapat merekam dan mengawetkan pesan, pengetahuan, dan imajinasi penulis untuk dibaca dan memicu tanggapan audiensnya. Buku yang ditulis para pegiat literasi dapat memperkaya dan meneguhkan jati diri dan identitas komunal agar bacaan tidak hanya memicu imajinasi untuk "pergi", melainkan terutama untuk "tinggal" dan memberdayakan kecakapan literasi yang dikuasai guna menghadapi dan menyelesaikan masalah komunitas.

Lukman Solihin peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Balitbang Kemendikbud, penulis buku Gemar Membaca Terampil Menulis: Transformasi Gerakan Komunitas Literasi di Indonesia (2019)

(mmu/mmu)