Analisis Zuhairi Misrawi

Akankah Arab Saudi Normalisasi Hubungan dengan Israel?

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 17:31 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Kabarnya, Sudan sedang bersiap-siap untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, menyusul langkah mengejutkan yang diambil Uni Emerates Arab (UEA) dan Bahrain. UAE menjadi pihak ketiga yang mendorong akselerasi hubungan diplomatik antara Sudan dan Israel. Dan semua memaklumi keterlibatan Arab Saudi dalam realisasi hubungan diplomatik Bahrain dan Israel berlangsung begitu cepat.

Lalu, pertanyaan yang muncul ke permukaan, akankah Arab Saudi akan menyusul normalisasi dengan Israel, seperti UAE dan Bahrain? Pertanyaan ini muncul karena sejumlah indikator menginsyaratkan Arab Saudi akan menyusul normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. AS terlihat sedang menekan Raja Salman bin Abudl Aziz dan Muhammad bin Salman (MBS) untuk segera mengumumkan normalisasi hubungan dengan Israel.

Trump ingin momentum tersebut digunakan sebagai bahan kampanye Pilpres. Trump secara terbuka menyatakan telah melakukan komunikasi dengan Raja Salman bin Abdul Aziz. Ia juga menegaskan kalau akan terjadi sesuatu yang luar biasa terkait hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Israel. Itu artinya, komunikasi di antara orang nomor satu AS dan Arab Saudi berlangsung sangat intensif.

Arab Saudi menjadi salah satu aktor penting dalam beberapa peristiwa politik di Timur-Tengah, termasuk dalam isu-isu Palestina. Resolusi perdamaian 2002 yang menjadi pijakan negara-negara Arab dan Timur-Tengah justru ditandatangani di Arab Saudi yang menandakan betapa pentingnya negara minyak itu sebagai mediator dalam memecahkan kebuntuan dalam formulasi dan formalisasi damai antara Israel dan Palestina.

Setelah 18 tahun penandatanganan resolusi damai tersebut, Arab Saudi sepertinya memilih jalan baru untuk tidak menjadi mediator lagi, melainkan sebagai pihak yang secara terang-terangan menegaskan keberpihakannya terhadap Israel. Hal tersebut dapat dilihat dalam normalisasi hubungan diplomatik yang diambil UAE-Bahrain dan Israel. Kedua negara tidak menyampaikan sikapnya terhadap Palestina. Keduanya hanya fokus pada kepentingan domestik negara masing-masing.

Arab Saudi tanpa malu dan tidak lagi menyembunyikan keputusannya untuk membuka jalur lintas udaranya untuk dilintasi pesawat komersial Israel. Perjalanan udara dari UAE ke Israel yang sebelumnya bisa ditempuh sekitar 6 jam hanya akan menjadi 3 jam setelah adanya kelenturan sikap Arab Saudi.

Sikap yang diambil tersebut semakin menguatkan asumsi bahwa Arab Saudi sangat membutuhkan Israel untuk menjaga stabilitas politik dan pertahanan dari ancaman yang mungkin saja datang dari negara-negara kawasan, khususnya Iran. Padahal Arab Saudi bisa saja memperbaiki hubungan dengan Iran karena keduanya sama-sama negara yang penduduknya Muslim. Namun, sayang seribu sayang, negara kaya minyak itu memilih untuk bekerja sama dengan Israel daripada dengan Iran.

Membuka jalur lintas udara untuk Israel akan membuka kotak pandora yang selama ini disimpan rapat-rapat. Arab Saudi telah memilih Israel sebagai mitra strategisnya. Informasi yang teranyar, Arab Saudi telah memasukkan kurikulum baru dalam pendidikan tentang Yahudi dan Kristen. Wajib hukumnya bagi warga Arab Saudi untuk menghormati dan membangun toleransi dengan umat Yahudi dan Kristiani.

Tidak hanya itu, para ulama dan cendekiawan juga menyuarakan hal yang sama agar warga Arab Saudi bersikap ramah terhadap umat Yahudi dan Kristiani. Syaikh Abdurrahman Sudais, Imam Masjidil Haramain, dalam salah satu khutbahnya menyampaikan hubungan harmonis antara Nabi Muhammad dan umat Yahudi di Madinah.

Sontak komentar berseliweran di seantero kawasan Timur-Tengah, bahwa ceramah sosok yang mempunyai kedekatan dengan kerajaan tersebut merupakan kode keras dukungan Arab Saudi terhadap Israel. Apalagi normalisasi hubungan diplomatik yang diambil oleh UAE dan Bahrain dengan Israel menggunakan istilah "Kesepatan umat Nabi Ibrahim".

Pada Februari lalu, MBS juga sudah menjamu seorang rabi, pemuka Yahudi, David Rosen sebagai bagian dari komitmennya untuk mewujudkan normalisasi hubungan dengan Israel. Dalam memuluskan babak-baru normalisasi hubungan dengan Israel, MBS sedang mengambil langkah yang tidak setengah-setengah. Ia melakukan penangkapan terhadap sejumlah penceramah dan guru besar yang menentang langkah menuju normalisasi tersebut.

Maklum, Arab Saudi masih dibayang-bayangi oleh Wahabisme yang mempunyai pandangan eksklusif, bahkan ekstremis terhadap Yahudi dan Kristen. Mengubah sikap dari ekstremis ke moderat tidak semudah membalikkan kedua belah tangan. Diperlukan sebuah argumen yang sungguh-sungguh tulus, dan bukan hanya karena sikap politik yang ingin diambil untuk kepentingan kekuasaan semata.

Di satu sisi, Arab Saudi sedang menuju jalan baru moderasi dan toleransi dengan umat Yahudi dan Kristiani. Tetapi semua juga mencermati bahwa langkah MBS hanya sebagai justifikasi atas keinginannya untuk normalisasi kerjasama politik dengan Israel.

Ia ingin agar saat diambil sebuah sikap yang pasti di kemudian hari, ia tidak berhadapan secara keras dengan kaum fanatis Wahabi yang secara ideologis menolak bekerja sama dengan Yahudi dan Kristen. Dalam alam pikiran Wahabisme, umat Yahudi dan Kristen adalah kafir.

Letak problematis selanjutnya adalah Arab Saudi sangat ramah terhadap umat Yahudi dan Kristen, tetapi mereka justru tidak ramah terhadap kalangan umat Islam lainnya. Mereka kerapkali menyesatkan mereka yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah, Syiah, dan Ahmadiyah. Ini sebuah kegelian tersendiri, bagaimana mungkin mereka bersikap ramah terhadap umat Yahudi dan Kristiani, sementara mereka masih bersikap keras terhadap umat Islam yang tidak memedomani Wahabisme.

Tidak terbayangkan bagaimana sikap para pengasong Wahabisme di seantero dunia, termasuk pengikut Wahabisme di negeri ini, yang selama ini dalam ceramah-ceramahnya sangat keras terhadap Yahudi dan Kristen.

Terlepas dari pemandangan dan indikator di atas, akankah Arab Saudi melakukan normalisasi hubungan dalam waktu dekat, sebelum Pilpres AS yang akan digelar akhir Novermber nanti? Pertanyaan ini sebenarnya sudah tidak relevan lagi, karena faktanya Arab Saudi merupakan aktor utama dalam normalisasi yang sedang berlangsung antara UAE-Bahrain dengan Israel.

Selain itu, Arab Saudi diam-diam sudah melakukan kerja sama dengan Israel dalam bidang militer, intelijen, dan teknologi informasi untuk meredam suara-suara kritis di dalam negeri. Arab Saudi, terutama MBS tidak bisa menghindar dari tekanan AS menyusul kasus pembunuhan Kashoggi yang sangat mengganggu posisinya.

Arab Saudi sedang menghadapi tantangan serius dari kawan dan lawan politiknya di kawasan. Begitulah cara memahami sikap Arab Saudi paling mutakhir dalam membangun normalisasi dengan Israel, baik yang sedang berlangsung secara diam-diam maupun yang akan berlangsung secara formal nantinya.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute Jakarta

(mmu/mmu)