Kolom

Memulihkan Pariwisata Labuan Bajo

Andri Rahmat - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 14:30 WIB
Labuan Bajo
Labuan Bajo (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -
Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi pariwisata premium turut merasakan dampak dari pandemi Covid-19. Praktis selama masa pandemi ini, terhitung sejak Maret lalu semua destinasi wisata ditutup. Tidak ada lagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang datang berkunjung.

Tempat-tempat wisata yang sebelumnya ramai menjadi sepi. Situasi ini tentunya membuat berbagai sektor, pelaku-pelaku usaha jasa wisata atau juga industri kreatif dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari masyarakat lokal yang selama ini menggantungkan harapan pada pariwisata terkena imbasnya. Salah satunya adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala yang masif terhadap para pekerja di sektor pariwisata.

Lesunya sektor pariwisata juga berdampak besar bagi pendapatan asli daerah (PAD). Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat Agustinus Rinus dalam pernyataannya yang dimuat dalam Pos-Kupang.com (11/7), pandemi Covid-19 mengakibatkan pemerintah daerah Manggarai Barat kehilangan pendapatan sebesar Rp 5 miliar dari sektor pariwisata. Ini tentunya tidak sejalan dengan yang diinginkan pemerintah daerah yang semula menargetkan pendapatan sebesar Rp 30 miliar, dan evaluasi kembali menjadi Rp 9 miliar saja. Jika pandemi terus berkepanjangan bukan tidak mungkin pariwisata di Labuan Bajo akan mengalami kehancuran.

Ketika pemerintah pusat kembali mengeluarkan kebijakan bahwa destinasi-destinasi wisata bisa dibuka kembali, sejumlah pihak baik pemerintah daerah dan para pelaku usaha di bidang pariwisata menyambut positif kebijakan tersebut. Dengan mematuhi berbagai protokol kesehatan, pariwisata Labuan Bajo siap menyambut para wisatawan. Sistem digital untuk registrasi online juga dibangun untuk mempermudah para wisatawan. Nantinya para wisatawan yang datang dapat melakukan registrasi secara online sebelum datang berkunjung.

Tidak hanya itu, Badan Otoritas Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLF) yang menjadi badan khusus yang berada di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga mengambil beberapa langkah strategis dalam menggenjot pengembangan dan memulihkan kembali sektor pariwisata yang lesu akibat hantaman pandemi yang masih melanda hingga saat ini. Adapun upaya strategis yang dilakukan oleh BOPLF; pertama, memperkuat sumber daya manusia (SDM) dari kelompok masyarakat lokal.

Dalam menunjang aspek tersebut, BOPLF menggelar berbagai macam kegiatan pelatihan kepada masyarakat di berbagai bidang. Misalnya pelatihan berkebun hidroponik untuk pemula, dan pelatihan properti sanggar tari kepada beberapa kelompok seni (sanggar budaya) yang ada yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas industri kreatif lokal. Kegiatan-kegiatan ini diharapkan bisa memperkuat kapasitas masyarakat melalui pembentukan, penambahan, serta penguatan keterampilan masyarakat lokal.

Langkah tersebut juga mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Koperasi dan UKM dengan memacu sektor UMKM di beberapa destinasi wisata superprioritas termasuk Labuan Bajo. Kementerian Koperasi melalui Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia-nya beberapa waktu yang lalu menggelar berbagai pelatihan bagi masyarakat yang memang bersentuhan langsung dengan pariwisata seperti pemandu wisata, pengerajin lokal, usaha kuliner, sektor pertanian dan perikanan, serta kewirausahaan.

Pelatihan tersebut diharapkan dapat memberikan bekal pengetahuan bagi masyarakat tentang bagaimana strategi agar bisa bertahan di masa pandemi, dan juga pengetahuan tentang e-commerce sehingga bisa melakukan pemasaran secara digital. Masyarakat dibekali pengetahuan dan keterampilan agar segala potensi wisata alam dan budaya yang ada dapat dimaksimalkan dengan baik, juga UMKM dan industri kreatif menjadi semakin berkembang.

Kedua, memperkuat konten lokal sebagai modal dalam pengembangan pariwisata di Labuan Bajo. Hal ini terkait dengan upaya BOPLF dalam mengembangkan produk wisata dengan memaksimalkan unsur budaya serta konten lokal yang autentik sebagai suatu kekuatan. Salah satu contohnya penandatanganan kerja sama dengan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) tentang pengolahan komoditas lokal unggulan yaitu kopi.

Menurut Direktur BOPLF Shana Fatina (halaman Facebook BOP Labuan Bajo, 8/9) penandatanganan kerja sama tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi, distribusi, dan pemasaran kopi Flores, serta mendorong pengembangan sektor agrowisata dan ekonomi kreatif dengan kualitas yang sangat bagus.

Ketiga, mendukung pengembangan desa wisata seperti Batu Cermin, Liang Dara, dan juga desa-desa lainnya untuk mengeksplor segala potensi wisata yang ada baik alam maupun budayanya. Dalam beberapa bulan terakhir terdapat sejumlah destinasi wisata baru yang mulai dikenal luas masyarakat yaitu Cunca Jami, Cunca Lolos, Gua Liang Panas, Cunca Wohe, dan Cunca Perlamping yang tersebar di sejumlah titik.

Keempat, melakukan kegiatan Bersih, Indah, Sehat, dan Aman (BISA) di sejumlah destinasi wisata yang ada di Flores seperti di Kabupaten Sikka, Ende, Pantai Watu, Wae Rebo, Pulau Komodo, dan Kampung Air Labuan Bajo. Gerakan BISA yang digalakkan oleh BOPLF ini bertujuan untuk memberikan edukasi bagi masyarakat di sekitar destinasi wisata akan pentingnya penerapan protokol kesehatan.

Kelima, melakukan promosi melalui media dengan mengadakan kegiatan familiarization trip (famtrip) bagi para insan media seperti media online, cetak, dan televisi. Melalui famtrip ini pelaku media diajak untuk melihat secara langsung bagaimana konsep dan pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Labuan Bajo.

Kehadiran para pelaku media di Labuan Bajo tentunya sangat diharapkan sebagai upaya dalam menaikkan branding pariwisata. Promosi-promosi melalui media saat ini menjadi sangat penting untuk menarik minat para wisatawan untuk kembali berkunjung ke Labuan Bajo setelah sempat ditutup akibat pandemi.

Felisianus Novandri Rahmat peminat isu pariwisata

(mmu/mmu)