Kolom

Pandemi dan Ruang yang Mengecil

Safitri Ahmad - detikNews
Rabu, 23 Sep 2020 13:00 WIB
poster
Ruang yang kita gunakan untuk berkegiatan semakin mengecil (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Sejak Maret, kita terpaksa berada di rumah karena pandemi Covid-19. Bagi yang sehat, mereka masih dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, ke pasar tradisional, ke warung, ke minimarket, dan ke bank yang berada di sekitar rumah. Bagi yang dicurigai terdampak virus, harus mengisolasi diri di rumah selama 14 Hari. Selama 14 hari mereka harus di rumah dan tidak boleh keluar. Semua kebutuhan sehari-hari termasuk makanan disediakan oleh tetangga, saudara, atau orang lain (food delivery).

Bagi pasien Covid-19 yang sudah sembuh, mereka harus mengisolasi diri di rumah dan harus menggunakan ruang yang berbeda dengan anggota keluarga yang lain, misalnya ruang makan, kamar mandi, kamar tidur, dan ruang kerja.

Ruang yang kita gunakan untuk berkegiatan semakin mengecil dan dengan ruang yang terbatas itu segala kegiatan untuk hidup harus terpenuhi (terutama di perkotaan). Secara fisik tidak ada penambahan atau pengurangan ruang. Pergerakan menjadi terbatas dan frekuensi penggunaan ruang menjadi lebih tinggi.

Ruang terkotak-kotak berdasarkan teritori wilayah dan penyebaran Covid-19. Ruang saya ruang kamu. Ruang kita vs ruang mereka. RT kita vs RT mereka. Kampung kita vs kampung mereka. Kota saya vs kota kamu, sehingga pendatang yang berasal dari luar teritori dicurigai. Apalagi jika mereka berasal dari kota zona merah. Ada batasan yang terbentuk pada saat berpapasan dengan orang lain di ruang publik (bukan rumah). Jaga jarak. Ada batasan fisik dengan membuat pagar antarwilayah.

Re-Domestikasi

Sebuah webinar diselenggarakan oleh Yayasan Profesor Gunawan Tjahjono bertajuk Arsitektur Vernakular, Domestikasi, dan Pandemi, menghadirkan tiga orang pembicara yaitu Gunawan Tjahjono, Indah Widiastuti, dan Revianto Budi Santosa. Diungkapkan bahwa pandemi memaksa terjadinya proses re-domestikasi, dan apa hubungannya dengan arsitektur vernakular.

Jika dirunut ke belakang, maka pola domestikasi merupakan pola yang berulang. Awalnya manusia mendapat makanan dengan berburu di hutan dan membawanya ke selter atau tempat berlindung (menurut para ahli pada masa itu belum ada kata "rumah"). Kemudian peradaban berkembang dan mereka mendomestikasi hewan dan tumbuhan liar untuk kebutuhan pangan. Hewan dan tanaman dibudidayakan di sekitar permukiman.

Secara perlahan, proses domestikasi ini menyebabkan manusia berevolusi secara fisik (tubuh) dan secara sosial (mulai mudah bertoleransi, welas kasih, kerja sama, dan memiliki rasa malu). Semua itu agar dapat mencapai keseimbangan dalam hidup bersama.

Pertumbuhan kota dan transportasi ternyata mengembalikan manusia untuk untuk pergi jauh dari rumah untuk bekerja. Banyak di antara mereka yang bekerja di luar kota atau melakukan perjalanan komuter dari kantor ke tempat tinggal yang jaraknya cukup jauh.

Pandemi memaksa mereka menggunakan ruang yang ada di dalam rumah untuk bekerja dan melakukan berbagai kegiatan lain. Semua urusan yang dulu memaksa kita harus keluar rumah, sekarang harus diselesaikan di rumah dengan terhubung smartphone atau komputer. Tentu dampaknya banyak ruang atau infrastruktur kota yang tidak digunakan, ruang yang terlanjur disediakan, menjadi sia-sia.

Menurut kamus Webster, arsitektur adalah ilmu dan seni merancang dan membangun bangunan. Bangunan adalah susunan ruang yang mengakomodasi berbagai kegiatan. Ilmu dan seni tidak terlihat secara visual (tidak kasat mata), tapi karya arsitektur mempunyai wujud, sehingga kita dapat menikmati karya arsitektur dengan berbagai bentuk.

Asal kata vernakular berasal kata Latin vernae yang berarti budak. Ketika awal terbentuk kota (membangun kekuasaan) di Roma (Eropa), muncul manusia yang menguasai manusia lain karena faktor ekonomi. Ini melahirkan perbudakan yang berlangsung lama sampai akhirnya perbudakan dihapus secara resmi. Tetapi, ada "nilai" perbudakan yang tidak akan pernah terhapus dari masa ke masa terutama pada kelompok yang tertindas (secara ekonomi dan sosial).

Arsitektur vernakular adalah kepandaian kaum "budak" yang membangun untuk diri dan kelompoknya. Secara mudah, arsitektur vernakular yang tercipta tidak dari hasil rancangan arsitek. Ini menyebabkan bangunan yang dibangun oleh kelompok tersebut tidak mungkin berlebihan, karena ia dibangun spontan sesuai kebutuhan (tidak berdasarkan keinginan dengan dana yang tidak terbatas) dengan menggunakan bahan yang tersedia di sekitar mereka, dan mampu diperoleh, tanpa bantuan tenaga ahli.

Lalu apa hubungan antara domestikasi dengan arsitektur vernakular? Domestikasi telah memaksa individu atau kelompok untuk memanfaatkan ruang yang mereka punya semaksimal mungkin. Ruang yang digunakan tidak hanya di dalam rumah, tapi juga di luar rumah (halaman dan jalan di depan rumah). Arsitektur vernakular dibangun secara spontan oleh kelompok yang tertindas untuk memenuhi kebutuhannya. Ini merupakan dampak dari ancaman dan tekanan lingkungan, sehingga muncul kerja sama dan saling membantu.

Mereka secara kreatif menggunakan ruang-ruang yang ada di dalam rumah ataupun di luar rumah untuk berbagai kegiatan yang terkadang fungsinya tidak sesuai (multifungsi) dengan fungsi awal pembentukan ruang, misalnya ruang makan menjadi ruang kerja. Dapur, ruang makan, dan ruang keluarga menjadi ruang produksi makanan/minuman (untuk dijual), dan taman atau teras rumah menjadi tempat menanam sayur-sayuran atau beternak ikan (urban farming). Di berbagai kampung, jalur jalan perumahan beralih fungsi menjadi tempat Salat Idul Fitri dan ruang berkumpul bagi warga (antara lain untuk rapat RT/RW).

Sampai kapan pandemi berakhir? Tidak ada yang mampu menjawab, tetapi secara perlahan akan terjadi perubahan pada bentukan ruang dalam skala rumah dan kota. Bangunan harus dirancang dengan multifungsi, atau sewaktu-waktu dapat beralih fungsi (industri rumahan tumbuh) sesuai dengan kebutuhan terkini. Ruang produksi dan gudang bertambah, sebaliknya kantor dan pusat perbelanjaan menyusut, karena produsen langsung memasarkan produknya ke konsumen. Lalu lintas jejaring akan semakin besar dan ini berdampak pada lalu lintas kendaraan (jalan raya) yang tidak akan banyak lagi dilalui pengendara.

Safitri Ahmad, S.T, MsiP arsitek lansekap dan urban planner, pengurus Yayasan Profesor Gunawan Tjahjono (Arsitektur Vernakular)

(mmu/mmu)