Sentilan Iqbal Aji Daryono

Hari Ketika Ucapan Duka Tinggal Di-"Copas" Saja

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 14:17 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Naga-naganya, kita sedang merayap ke situasi batin yang melihat kematian sebagai sesuatu yang, yahhh, biasa-biasa saja. Normal. Rutinitas harian.

Mungkin kita tak akan lagi menangis. Tak akan lagi terpekik kaget mendengar satu-dua kabar duka. Dan kalimat "Innalillahi wainna ilaihi rojiun, turut berduka sedalam-dalamnya" yang kita sampaikan di kolom komentar Facebook atau di grup Whatsapp pun sudah kita sediakan template-nya. Tinggal pencet copy, pencet paste, simpel, dengan segenap kehambarannya.

Ini sungguh mengerikan. Tapi, bukankah segala hal bisa menjadi mengerikan hanya ketika ia terkait dengan sesuatu yang istimewa, sedangkan yang istimewa-istimewa itu biasanya langka, jarang terjadi, dan tak setiap saat kita jumpai? Kalau setiap hari kita menjumpai sesuatu dengan mudah, apakah sesuatu itu masih akan kita anggap istimewa?

Saya jadi ingat external hard disk saya yang rusak beberapa bulan lalu. Delapan tahun silam, benda itu pernah saya tangisi. Ia lenyap entah ke mana. Padahal di dalamnya ngendon segala artefak kehidupan saya sejak awal mula berkeluarga sampai punya anak pertama.

Ya, foto-foto. Puluhan ribu foto. Harta dunia yang waktu itu saya anggap paling berharga untuk saya. Maka ketika saya menyadari makhluk itu tak lagi ada, saya lunglai. Hancur sekali hati saya waktu itu. Tak ada yang bisa menggantikan rekaman peristiwa-peristiwa bersejarah di sana, bukan?

Syukurlah, akhirnya barang itu memang ketemu lagi, dalam sebuah cara yang agak ajaib. Foto-foto itu pun selamat. Lalu saya merawatnya baik-baik, dengan segala jenis kelembutan yang saya mampu. Setahun. Dua tahun. Delapan tahun. Dan ternyata, delapan tahun sejak ditemukan lagi, ia justru menjumpai ajalnya. Dengan keras kepala ia menolak dibuka.

Apakah kali ini saya lunglai dan kembali hancur hati? Ternyata tidak. Entah kenapa. Tapi mungkin karena saya sudah merasa bahwa selama delapan tahun yang telah berlalu, foto-foto di hard disk itu tetap saja tidak saya cetak, dan hard disk-hard disk baru bermunculan, dengan ratusan ribu atau bahkan jutaan foto baru yang juga sama-sama tidak kunjung saya cetak.

Saking mudahnya sekarang kita membuat foto-foto, ternyata bukan berarti kita semakin mengistimewakan momen-momen kenangan. Kita justru semakin menganggapnya remeh, dan tak lagi terlalu peduli jika yang remeh-remeh itu hilang.

"Ini adalah masa-masa yang sangat berbahaya. Belum pernah begitu banyak orang memiliki begitu banyak akses ke begitu banyak pengetahuan, tetapi sangat enggan untuk mempelajari apa pun."

Saya tercenung membaca kalimat Tom Nichols di buku Matinya Kepakaran itu. Baru saja kemarin saya mulai membacanya, dan sederet huruf di bagian pendahuluan itu malah membuat saya teringat rentetan tragedi pada hari-hari ini, termasuk terkenang akan foto-foto di hard disk yang tak bisa dinyalakan lagi.

Tom tentu saja benar (kalau saya bilang dia tidak benar, bisa-bisa saya dituduh melawan kepakaran). Sekarang, saking mudahnya mengakses informasi, kita malah jadi terlalu abai dengan informasi, lebih-lebih lagi dengan kualitas informasi. Kenapa? Ya karena terlalu mudah itu tadi.

Pernah suatu malam saya menyimak cerita dari seorang penulis zaman koran cetak. Dulu kala, tiap kali mau menulis, dia harus bersepeda berkilo-kilo menuju perpustakaan daerah. Tiba di sana dia akan menuju deretan rak buku dengan tema yang ia perlukan, memilah buku-buku dalam waktu berjam-jam. Setelah ketemu dengan buku yang ia cari, ia masih harus membacanya, halaman demi halaman, selama berjam-jam lagi. Begitu repotnya jadi penulis pada masa itu.

Sekarang, saya yang meneruskan laku hidupnya dengan menjadi penulis tidak perlu menggeser pantat semilimeter pun hanya untuk memburu informasi. Lantas, apakah artinya saya lebih menguasai informasi dibanding Mas Penulis Senior itu? Ternyata tidak sama sekali. Bahkan bisa-bisa dalam hal penguasaan informasi saya jauh lebih goblok daripada dia.

"Dulu itu," kata Mas Penulis Senior, "Tantangan seorang penulis adalah menemukan informasi. Nah, sekarang tantangan seorang penulis adalah memilih mana yang paling baik, yang paling kuat, yang paling akurat di antara limpah ruah informasi."

Hoho, sekilas terdengar sebagai satu teori yang keren, tapi kok saya tidak setuju dengannya. Tantangan di zaman ini bukan memilih informasi, Mas. Tetapi menumbuhkan keinginan untuk benar-benar mengakses informasi. Sebab, kita sudah terlalu bosan akibat saking derasnya air bah informasi. Hasilnya, informasi yang dulu sangat mahal itu sekarang jadi nyaris tak ada harganya. Murah sekali. Dan, diabaikan sekali.

Memang kita bisa tersenyum sinis campur geli ketika yang dibicarakan cuma foto-foto dan keping-keping informasi. Tapi hari-hari ini, ada sesuatu yang sama gampangnya dan sama seringnya kita jumpai: jasad-jasad yang mati.

Hanya dalam seminggu terakhir, entah sudah berapa kabar kematian yang saya dapatkan. Beberapa orang saya kenal. Beberapa yang lain namanya sering saya dengar. Sisanya adalah kawan karib dari teman saya, kemudian sahabat dekat dari saudara saya. Saya merasa dikepung puting beliung yang mengirimkan kabar kematian bertubi-tubi. Banyak sekali. Sering sekali.

Sampai hari ini, saya masih ikut menangis pilu mendengar kabar-kabar itu. Kematian-kematian yang mengejutkan dan memedihkan. Namun, rasanya berita-berita itu berembus semakin kencang. Nyawa-nyawa bertumbangan dengan begitu gampang.

Wabah terkutuk ini memang mendatangkan kematian demi kematian. Tapi ketika nantinya kita semakin sering mendengarnya (jika bukan kematian kita sendiri yang menjadi kabar itu), bisa jadi kita akan semakin abai, semakin merasakan kematian sebagai hal enteng sehari-hari yang biasa-biasa saja, yang normal-normal saja, yang bisa kita hadapi sekadar dengan "copas" kalimat template: "Innalillahi wainna ilaihi rojiun, turut berduka sedalam-dalamnya."

Sepertinya, pada hari itulah muncul tragedi kemanusiaan yang sesungguhnya.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)