Mimbar Mahasiswa

Ospek dan Praktik Senioritas

Dimas Wira Adiatama - detikNews
Senin, 21 Sep 2020 11:00 WIB
Praktik Senioritas
Jakarta -
Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) merupakan salah satu kegiatan yang khas ketika memasuki masa-masa penerimaan mahasiswa baru di berbagai kampus. Untuk program sarjana, tujuan pengadaan kegiatan tersebut adalah untuk menjelaskan perubahan orientasi studi dari tingkat menengah menuju tingkat yang lebih tinggi. Maksudnya adalah pola studi yang akan ditempuh oleh mahasiswa baru akan sangat berbeda dengan fase studi sebelumnya di tingkat menengah (SMA/SMK/MA).

Di sinilah fungsi kampus untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan tersebut. Mulai dari sistem atau pola pembelajaran, durasi pelaksanaan studi, karakteristik dosen, sistem penilaian, dan sebagainya. Selain itu, kegiatan tersebut juga berusaha mengenalkan suasana, kondisi, dan berbagai macam fasilitas yang ada di kampus kepada mahasiswa baru, sehingga ketika kegiatan perkuliahan dimulai, mahasiswa baru dapat dengan mudah melakukan adaptasi. Ketika mahasiswa baru cepat dalam beradaptasi, mereka akan dengan mudah menjalani aktivitas studi dan mengembangkan minat serta bakatnya masing-masing.

Pelaksanaan OSPEK seringkali dikaitkan dengan praktik senioritas yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa lama (senior) yang tergabung dalam sebuah kepanitiaan. Meskipun dalam KBBI senioritas didefinisikan—salah satunya—sebagai keadaan lebih tinggi dalam pangkat, pengalaman, dan usia, namun maknanya tidak sesederhana itu. Praktik senioritas seringkali bermakna praktik atau tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh para senior dengan maksud—baik implisit maupun eksplisit—mempermalukan, menindas, memaksa, ataupun memelonco junior (mahasiswa baru) dalam sebuah kegiatan.

Tentu praktik tersebut dibenarkan secara simbolik oleh kesenioran beberapa individu, sehingga merasa berhak untuk melakukannya. Perwujudan dari praktik senioritas dapat berupa penugasan yang tidak wajar, memberatkan, dan cenderung mempermalukan --membentak, berkata kasar, menghina, atau bahkan dalam beberapa kasus terjadi kekerasan fisik.

Eratnya kaitan antara istilah OSPEK dengan praktik senioritas membuat beberapa kampus menggunakan varian istilah yang lain, seperti Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB), Pelatihan Pembelajaran Sukses Mahasiswa Baru (PPSMB), Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK), dan sebagainya. Langkah tersebut bisa diapresiasi sebagai sebuah upaya untuk menampilkan wajah kampus yang lebih ramah dan humanis kepada mahasiswa baru, meskipun praktik senioritas masih tetap eksis.

Terjadinya pandemi Covid-19 yang memaksa perguruan tinggi untuk melaksanakan semua kegiatan secara daring memberikan semacam harapan atas hilangnya praktik senioritas dalam pelaksanaan OSPEK. Namun ternyata praktik tersebut masih terjadi meskipun tidak ada interaksi primer (langsung) antara senior dan junior, serta pelaksanaan OSPEK yang menggunakan platform digital. Salah satu kasusnya terjadi di PKKMB Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), di mana beberapa senior membentak mahasiswa baru yang dianggap tidak menggunakan perlengkapan yang sesuai dengan tata tertib.

Apa yang terjadi di UNESA hanya salah satu contoh kasus, tentu dimungkinkan terjadinya kasus yang sama di beberapa kampus—baik negeri maupun swasta—hanya saja belum terekspos. Menjadi sebuah pertanyaan yang menarik, mengapa praktik senioritas masih terjadi, bahkan ketika kegiatan OSPEK dilakukan secara daring?

Normalisasi Kekuasaan


Fenomena masih eksisnya praktik senioritas dapat ditinjau menggunakan teori sosial milik sosiolog asal Prancis, yaitu Michel Foucault mengenai normalisasi kekuasaan. Menurut Foucault, kekuasaan selalu menghasilkan pengetahuan/episteme dan pengetahuan/episteme menjadi basis dari kekuasaan. Kekuasaan tersebut dijalankan dengan praktik normalisasi, bukan kontrol represif atau penghukuman. Inilah yang membuat individu tidak merasa bahwa dirinya sedang dikuasai, melainkan merasa bahwa dirinya sedang melakukan hal yang normal.

Normalisasi dilakukan dengan mengendapkan dan menginternalisasi episteme-episteme—yang sebelumnya telah dihasilkan—melalui pembiasaan tubuh untuk kemudian mempengaruhi sikap dan perilaku individu. Dalam konteks praktik senioritas, alasan—atau lebih tepatnya dalih—atas praktik tersebut adalah untuk membentuk karakter, kepribadian, dan mental yang tangguh, sehingga terciptalah mahasiswa-mahasiswa yang berkualitas. Ini merupakan sebuah episteme yang berusaha diendapkan dan diinternalisasikan kepada mahasiswa baru dalam kegiatan OSPEK.

Narasi bahwa praktik tersebut pada dasarnya bertujuan demi kebaikan mahasiswa baru, menjadi sebuah rasionalisasi dan legitimasi tersendiri. Ujung dari praktik senioritas jika dilihat dalam perspektif Foucault adalah lahirnya anggapan bahwa praktik tersebut bersifat normal. Tanpa sadar para mahasiswa baru membenarkan dan memaklumi praktik tersebut karena merasa hal tersebut normal dalam kegiatan OSPEK dan bertujuan untuk kebaikan mereka sendiri.

Normalitas inilah yang terus dijaga oleh senior agar posisinya tetap langgeng setiap kali pelaksanaan OSPEK berlangsung. Ketika mahasiswa baru telah menjadi senior, praktik senioritas yang sama tetap dilakukan karena hal tersebut merupakan sebuah kenormalan. Justru ketika praktik senioritas tidak dilakukan ketika OSPEK, hal tersebut dianggap sebagai ketidaknormalan.

Menurut Foucault, kehidupan sosial merupakan kontestasi antar-episteme. Artinya, meskipun sebuah episteme telah langgeng dan melembaga, ia tetap berpotensi untuk digeser atau diganti dengan episteme yang lain. Oleh karena itu, meskipun praktik senioritas telah menjadi sebuah kenormalan dalam kegiatan OSPEK, bukan berarti praktik ini tidak bisa dihentikan atau diganti dengan praktik lain yang dianggap jauh lebih baik.

Di sinilah perlunya individu-individu yang berani masuk dalam kontestasi antar-episteme dan memutus rantai praktik senioritas. Ketika praktik ini telah diputus, maka dapat dibangun praktik lain yang lebih ramah, humanis, beradab, dan mendidik, sehingga OSPEK menjadi salah satu aktivitas yang menyenangkan dan menggembirakan bagi mahasiswa baru.

Dimas Wira Adiatama mahasiswa Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta

(mmu/mmu)