Mimbar Mahasiswa

Menyoal Ospek dan Hegemoninya

Mochammad Naufal Rizki - detikNews
Senin, 21 Sep 2020 10:18 WIB
Jakarta -
Saya akan memulai tulisan ini dengan pengalaman saya dua tahun lalu saat menjadi peserta ospek. Saya tidak akan merincikan apa-apa yang saya alami, tetapi saya akan lebih banyak bicara soal perasaan yang muncul selama dan sesudah mengikuti rangkaian ospek tersebut. Saat itu, dalam banyak kesempatan saya merasa praktik-praktik kekerasan sedang diperlakukan dan saya sedang ditindas. Namun, ketika perasaan tertindas itu muncul, saya selalu membatalkannya.

Saat perasaan itu muncul, saya selalu teringat pesan-pesan yang disampaikan senior: semua rangkaian kegiatan ini dilakukan untuk membantu proses pengembangan diri saya sebagai mahasiswa baru. Atau, bahwa kegiatan ini adalah jalan masuk saya untuk secara sah diakui sebagai anggota keluarga di kampus. Beberapa waktu setelah saya melalui itu semua, saya berusaha memahami kembali praktik-praktik yang terjadi di dalam acara itu. Saya terus memikirkannya.

Tapi, saya tidak pernah sekalipun mendapatkan pemahaman yang rasional tentang itu. Saya cukup jengkel, tetapi lagi-lagi pikiran saya selalu kembali terarah kepada ucapan-ucapan senior: semua ini akan berguna bagi saya.

Berbulan-bulan kemudian, ketika mencoba merefleksikan kembali, barulah saya sadar bahwa memang perasaan tertindas itu benar dan valid. Praktik-praktik perpeloncoan serta kekerasan memang diperlakukan, dan saya betul-betul dikibuli!

Sekarang, saya melihat hal yang sama terulang. Beberapa hari kemarin, media sosial ramai setelah seseorang di Twitter menyebarkan potongan video PKKMB (OSPEK) yang dilaksanakan di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya. Video itu banyak diperbincangkan sebab di dalamnya terekam adegan yang dinilai sebagai tindak kekerasan verbal. Tindakan itu dilakukan oleh beberapa orang senior kepada salah seorang mahasiswa baru.

Saya tidak akan banyak mengomentari kejadian itu; yang menarik buat saya adalah peristiwa yang terjadi setelah video itu menjadi viral. Ketika ramai-ramai orang melayangkan kritik, bahkan hujatan terhadap tindakan itu, respons berbeda justru muncul dari peserta atau mahasiswa baru yang mengikuti acara tersebut.

Mereka secara serentak memberikan argumen pembenaran terhadap apa yang dilakukan oleh para seniornya. Argumennya persis, bahwa seniornya hanya melakukan tugas untuk mendidik dan mengembangkan diri para mahasiswa baru dengan cara-cara yang diperlukan, termasuk tindakan yang terekam dalam video.

Apa yang saya alami, dan mungkin juga para mahasiswa baru ini alami, adalah hasil dari apa yang disebut oleh Antonio Gramsci sebagai hegemoni. Sederhananya, hegemoni adalah dominasi yang dilakukan oleh suatu kelompok melalui penanaman nilai, norma, dan persepsi tertentu yang nantinya akan dianggap sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan menguntungkan.

Ciri utama dari hegemoni adalah kelompok penguasa (rulling party) menjalankan dominasinya dengan amat subtil dan natural, sehingga subjek-subjek yang menjadi sasaran dominasi itu tidak menyadari bahwa kekuasaan sedang beroperasi atas dirinya. Bahkan, dalam tingkat tertentu, subjek tidak akan menyadari bahwa nilai-nilai, persepsi, keyakinan, ideologi yang tertanam pada dirinya adalah buah produksi dari kelas penguasa.

Subjek seolah bersukarela untuk membiarkan dominasi dan kekuasaan berlangsung terhadap dirinya. Dalam ospek, ketika praktik kekerasan dan perpeloncoan dilakukan., para senior biasanya membawa dalih atau justifikasi seperti berikut:

"Ini untuk melatih mental kalian!"

"Ini adalah bentuk solidaritas."

"Kami lelah bekerja untuk kalian agar siap menjalani kehidupan sebagai mahasiswa!"

"Semua ada manfaatnya, kalian akan merasakannya di dunia perkuliahan!"

Dan sebagainya.

Nilai-nilai dan keyakinan yang termaksud dalam ujaran itu secara masif ditanamkan sejak awal, bahkan sebelum masa OSPEK dimulai. Para senior secara terus-menerus menggaungkan jargon-jargon, dalih-dalih, pesan-pesan itu kepada para mahasiswa baru hingga pada tingkat tertentu ketika mahasiswa baru ini menerima dan menginternalisasikannya secara penuh. Dengan cara itu, para senior mengoperasikan kekuasaan dan dominasinya.

Dengan cara itu pula, kekerasan dan perpeloncoan menjadi sah. Selain nilai-nilai yang orientasinya berlandas pada masa yang akan datang seperti disebutkan di atas, para senior juga biasanya memperkenalkan nilai-nilai yang berlaku saat ini, juga masa lalu. Dalam istilah Gramsci, biasanya rulling party menggunakan semacam folklore untuk mengesahkan hegemoninya. Dalam ospek, para senior biasanya berkata:

"Ini sudah tradisi, dulu kami melakukan hal yang sama, bahkan lebih keras!"

"Inilah budaya kami!"

"Di sini [menyebut jurusan/fakultas] itu keras, kalian nggak boleh lembek!"

Dan sebagainya.

Ujaran-ujaran itu juga nantinya akan tertanam dalam alam pikiran mahasiswa baru, sehingga mereka berpikir bahwa apa-apa yang mereka terima adalah wajar, karena memang seharusnya seperti itu. Maka, status-quo akan terjaga.

Dengan jalan itulah hegemoni terbangun. Mahasiswa baru, sebagai subjek yang didominasi, perlahan akan menerima tindakan-tindakan yang dilakukan seniornya, bahkan ketika mereka merasa tidak nyaman dan terganggu dengan tindakan itu. Dalam tingkatan tertentu, dominasi yang dibangun begitu kuat sehingga mahasiswa baru yang menerima tindak kekerasan dan perpeloncoan akan membenarkan dan membelanya.

Menurut Gramsci, nilai-nilai, keyakinan, serta prinsip yang membangun hegemoni itu akan begitu meresap, sehingga subjek yang mendominasi maupun didominasi, seolah bersepakat untuk menjadikannya sebagai common sense. Buktinya, kita biasa menemukan kalimat-kalimat ini:

"Alah, Ospek memang harus seperti ini!"

"Lah, ini sudah wajar, dari dulu kita memang keras!"

"Masa gini doang protes? Ini kan biasa!"

Dan sebagainya.

Dan itu pula yang saya lihat dalam peristiwa beberapa hari lalu. Para mahasiswa baru yang seharusnya berpihak pada orang-orang yang mengkritik tindak kekerasan dalam OSPEK justru malah menunjukkan posisi sebaliknya. Mereka ramai-ramai membela tindakan kekerasan yang dipertontonkan oleh seniornya. Mereka beralasan bahwa apa yang dilakukan oleh seniornya memang diperlukan untuk persiapan diri mereka sebagai mahasiswa.

Di tingkat ini, barangkali para mahasiswa baru tidak sadar bahwa kekuasaan dan dominasi telah merasuk dalam dirinya bahwa tindakan kekerasan telah menyerangnya, bahwa perpeloncoan sudah mengenainya. Di titik inilah, saya mulai curiga relasi hegemoni telah sebegitu kokohnya terbangun dalam kultur kampus kita. Dan ini jelas ironi. Kampus yang seharusnya memerdekakan justru menjadi tanah bagi suburnya pengekangan, opresi, kekerasan, perundungan, dan perpeloncoan.

Anehnya, persoalan ini seolah tidak pernah selesai meski berbagai pihak telah turun tangan. Saya semakin curiga, jangan-jangan relasi hegemoni yang menyuburkan kekerasan ini tidak sesederhana seperti yang saya sebutkan. Jangan-jangan opresi dan kekerasan menjadi common sense, tidak hanya dalam relasi senior-maba, tetapi lebih luas lagi. Jangan-jangan hegemoni ini hanyalah 'turunan' dari kultur dominan yang ada.
Mochammad Naufal Rizki mahasiswa

(mmu/mmu)