Pustaka

Wisata Pemikiran Al-Ghazali

Muhammad Najib - detikNews
Sabtu, 19 Sep 2020 10:00 WIB
jika tuhan
Jakarta -

Judul Buku: Jika Tuhan Mahakuasa, Kenapa Manusia Menderita?: Memahami Akidah Islam bersama Al-Ghazali; Penulis: Ulil Abshar Abdalla; Penerbit: Buku Mojok, Yogyakarta, Juni 2020; Tebal : viii + 186 halaman

Di tengah pagebluk yang melanda manusia seperti saat ini, muncul deretan pertanyaan skeptis: Masih adakah Tuhan? Bila Tuhan Mahaada, apakah Tuhan "rela" melihat manusia meregang nyawa karena pandemi Covid-19 yang hingga kini belum ditemukan vaksin untuk mengobatinya? Sebegitu kejamkah Tuhan? Bukankah Tuhan yang menyebut dzat-Nya dengan asmaul husna rahman rahim itu bersikap welas asih kepada makhluk-Nya?

Bagi Ulil Abshar Abdalla, pertanyaan skeptis tersebut merupakan pertanyaan lumrah dan manusiawi. Sebab, manusia adalah makhluk bertanya yang mempertanyakan banyak hal dan tidak terbatas. Berbekal pengetahuan yang dimilikinya, manusia justru terdorong untuk bertanya lebih jauh. Dalam keadaan disergap kemalangan dan kesengsaraan bertubi-tubi, manusia tidak jarang bertanya eksistensi Tuhan dan welas asih-Nya. Karena itu, dibutuhkan respons bijaksana, bukan hardikan dan sumpah serapah yang meragukan iman penanya.

Ulil yakin bahwa Tuhan tidak murka terhadap deretan pertanyaan 'nakal' yang meragukan eksistensi dan welas asih-Nya (hal. 20). Pertanyaan tentang Tuhan telah menjadi salah satu objek penting dalam pemikiran filsafat ketuhanan di awal abad modern (Suseno, 2006). Terinspirasi dari bapak filsafat modern Rene Descartes yang meyakini bahwa keraguan adalah jalan pertama menuju keyakinan, modernitas mengusung skeptisme adanya Tuhan.

Jauh sebelum skeptisme Rene Descartes, Al-Ghazali telah mengintrodusir metode filsafat keraguan. Keraguan, menurut Al-Ghazali, merupakan peringkat pertama keyakinan. Kemiripan ungkapan skeptisme Rene Descartes dan Al-Ghazali memunculkan dugaan bahwa Rene Descartes 'menjiplak' Al-Ghazali (Zaqzuq, 1987).

Terlepas dari itu, teologi Islam (kalam) yang telah muncul sejak abad ke-7 M memang telah membahas tentang Tuhan jauh sebelum filsafat modern muncul. Sekalipun dikenal sebagai sufi dan filsuf, Al-Ghazali termasuk intelektual muslim yang menaruh besar dalam persoalan teologis. Nurcholish Madjid (1994) menyebut Al-Ghazali sebagai pemikir paling hebat dan paling orisinal tidak saja dalam Islam, tapi dalam sejarah intelektual manusia.

Bahkan, dalam pandangan sarjana muslim dan non-muslim, Al-Ghazali merupakan orang yang terpenting sesudah Nabi Muhammad dalam kaitannya dengan pengaruh dan peranan mengukuhkan kembali ajaran Islam. Kontribusi itulah yang menabalkan julukan Hujjatul Islam di belakang namanya.

Keyakinan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang baru. Tidak ada peradaban besar yang tidak berketuhanan. Pertanyaannya, bagaimanakah jalan memahami eksistensi Tuhan? Berbeda dengan teolog yang mengajukan argumen kosmologis, ontologis, dan teleologis untuk meyakini keberadaan-Nya, Al-Ghazali mengajak wisata memahami The Great Unknown kepada persoalan pokok teologis. Bagi Al-Ghazali, Tuhan itu mawjud (ada) tidak melalui tubuh dan substansi yang terbatas (hal. 11).

Dalam konteks tersebut, tampak Al-Ghazali sebagai penganut Asy'ariyah, mazhab teologis yang banyak dianut Islam Nusantara. Asyariyah memandang eksistensi Tuhan sebagai kayfa, yang tidak dapat digambarkan dengan apapun. Ulil menyebutnya dengan menggunakan idiom bahasa Jawa: Tuhan yang tan kinaya ngapa (hal. 7). Sekalipun demikian, wujud Tuhan adalah wujud yang paling paripurna. Manusia, binatang, dan segala yang ada berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Inna lillahi wa inna ilayhi rajiun. Selaras dengan itu, dalam budaya Jawa, Tuhan dipahami sebagai sangkan paraning dumadi.

Bila Tuhan itu tan kinaya ngapa, bagaimanakah manusia dapat mengetahui-Nya? Tuhan tajalli (menampak diri-Nya) melalui asma, sifat, dan perbuatan-Nya. Manusia mengetahui Tuhan bukan melalui dzat-Nya, melainkan melalui ayat-Nya. Dalam konteks inilah, Tuhan yang menyebut diri-Nya kanzan makhfiyyan (perbedaharaan yang tersembunyi) dipahami manusia.

Sebagai wujud yang paripurna, Tuhan memiliki kekuasaan yang sempurna pula. Keyakinan ini kadang menyembulkan tanda tanya yang mempertanyakan keadilan Tuhan (teodisi). Dengan mengutip Al-Ghazali, dunia saat ini merupakan bentuk dunia yang paling sempurna dan terbaik (hal. 21). Penderitaan, kesengasaaraan, dan sejenisnya merupakan bagian yang terpisahkan dari dunia. Di balik semua itu, ada hikmah besar bagi kehidupan. Welas asih Tuhan kepada manusia tidak berkurang lantaran penderitaan yang menyergap manusia.

Berbarengan dengan pagebluk Covid-19 yang menimbulkan penderitaan bagi manusia, terselip pula hikmah seperti pengembangan pembelajaran jarak jauh, tumbuhnya pertemuan virtual, dan kepedulian sesama yang luar biasa. Di samping itu, Covid-19 menguak problem infrastruktur kesehatan dan perekenomian yang menuntut pembenahan secara menyeluruh. Hikmah harus ditangkap agar pagebluk ini tidak hanya menyisakan penderitaan. Barangkali hal ini selaras dengan pernyataan Presiden Jokowi yang menyebut krisis akibat Covid-19 sebagai momentum untuk lompatan besar.

Dalam segala keadaan, termasuk ketika didera penderitaan, manusia hanya dituntut tawakal dan husnuzan kepada Tuhan (hal. 49). Terkesan fatalisme memang, namun dengan cara semacam itu manusia menyadari kelemahannya sekaligus membiarkan kehendak Tuhan yang Mahabaik berlangsung.

Buku ini merefleksikan aktualitas teologi Al-Ghazali, khususnya teodisi. Dengan bahasa yang bernas dan ilmiah-populer, Ulil mengajak menikmati keindahan panorama pemikiran Al-Ghazali. Lebih dari itu, pengampu ngaji online Kitab Ihya' Ulumuddin tersebut menuliskannya bukan sekadar menghidupkan kembali turats Islam, melainkan sebagai bagian dari pergumulan iman dan perjalanan ruhani.

Muhammad Ainun Najib dosen IAIN Tulungagung

(mmu/mmu)