Kolom

"Gunjan Saxena" dan Inspirasi Keadilan Gender

Nur Sholikhin - detikNews
Jumat, 18 Sep 2020 15:04 WIB
gunjan
Film "Gunjan Saxena"
Jakarta -

Pada 10 September lalu, saya menjadi admin webinar "Pribumisasi Islam dan Keadilan Gender" yang diselenggarakan Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian. Ada hal yang menarik dari pemaparan para narasumber, khususnya cerita yang disampaikan oleh Kalis Mardiasih tentang perempuan Bajo.

"Di Indonesia ini ada jutaan perempuan nelayan, tetapi sampai hari ini nelayan didefinisikan sebagai laki-laki. Ketika negara memberikan bantuan kapal kepada nelayan, perempuan-perempuan nelayan ini tidak bisa mengakses bantuan kapal dan bantuan lainnya, karena nelayan didefinisikan laki-laki," cerita Kalis Mardiasih dalam mengisahkan perempuan-perempuan tangguh di Indonesia.

Bahkan bagi Kalis, nelayan perempuan memiliki keunggulan tersendiri. Nelayan perempuan bisa mengolah ikan-ikan hasil tangkapannya menjadi berbagai ikan olahan yang memiliki nilai jual dan produk lebih tinggi. "Perempuan Bajo ini bisa bawa kapal sendiri, menangkap ikan sendiri, dan pulang membawa ikan ke rumah," lanjutnya.

Cerita Kalis terkait perempuan Bajo menarik kita simak dan dibagikan. Ada banyak perempuan-perempuan tangguh yang menjadi nelayan, mencari nafkah untuk keluarga. Cerita-cerita semacam ini harus diperbanyak, agar stereotip terkait perempuan yang dianggap sebagai orang yang lemah tidak terus-menerus terjadi. Pun dengan cerita nelayan perempuan yang tidak bisa mengakses bantuan dari pemerintah, tidak terjadi lagi.

Kita harus memperluas pandangan, khususnya bagi laki-laki, bahwa ada kenyataan perempuan-perempuan tangguh yang bisa mengerjakan aktivitas yang biasanya dikerjakan oleh laki-laki. Kalau kenyataan tersebut bisa diterima, maka diskriminasi terhadap perempuan di ruang sosial, politik, agama dan bidang lainnya tidak terjadi.

Perjuangan untuk mendobrak stereotip masyarakat yang menganggap perempuan itu lemah dan kelas dua perlu dikisahkan. Ada banyak kisah para perempuan yang mampu untuk berkontribusi untuk keluarga, masyarakat, atau bangsa. Seperti halnya kisah perempuan Bajo tersebut, di tengah pandangan masyarakat bahwa nelayan adalah laki-laki, perempuan Bajo membuktikan bahwa mereka juga mampu menjadi nelayan.

Mendengarkan kisah perempuan Bajo tersebut, saya teringat dengan sebuah film perjuangan perempuan yang melawan stereotip masyarakat. Film tersebut berjudul Gunjan Saxena: The Kargil Girl yang rilis pada 12 Agustus 2020. Film tersebut terinspirasi dari kisah Mrs Kristi Saxena.

Di dalam film tersebut, ia merupakan opsir pertama wanita di Angkatan Udara India. Sebagai perempuan pertama yang menapaki karire di Angkatan Udara India, ia tentu mengalami banyak tantangan baik itu dari keluarga, masyarakat dan lingkungannya. Walaupun film tersebut tidak menggambarkan secara keseluruhan kisah hidup Gunjan Saxena dan mengandung cerita fiksi, namun cerita stereotip masyarakat terhadap perempuan dalam fil tersebut perlu diangkat.

Bagi saya, yang menarik dari Gunjan Saxena bukanlah kisah seorang anak yang berhasil mengejar impiannya. Lebih dari itu, Gunjan Saxena mendobrak stereotip masyarakat India pada era tahun 1980-an terhadap perempuan. "Aku ingin jadi pilot," kata Gunjan kecil kepada kakaknya. Gunju, begitulah keluarga dan teman-temannya memanggil. Ia mengutarakan mimpinya tersebut selepas ia naik pesawat bersama kakaknya.

"Perempuan tidak jadi pilot. Tahu, perempuan jadi apa?" ucap kakaknya merespons impian Gunju sambil memberikan sayur kepadanya. Perempuan, bagi kakaknya sudah selayaknya di rumah memasak dan melayani laki-laki. Namun, beruntunglah Gunju memiliki ayah yang mempunyai pandangan yang luas. "Entah itu pria atau wanita yang menerbangkan pesawat, keduanya disebut pilot," kata ayahnya yang ikut bergabung obrolan antara Gunju dan kakaknya.

"Jika pesawat tidak peduli siapa yang menerbangkannya, kenapa kau peduli?" ucap ayahnya kepada kakak Gunjan.

"Kau bisa jadi apa pun yang kau suka," ujar ayahnya kepada Gunju. Berbekal dari dorongan ayahnya tersebut, Gunju bertekad untuk menjadi seorang pilot. Ia tumbuh menjadi orang yang cerdas. Ia bahkan menjadi siswi terbaik ketika menginjak Kelas 10. Keluarganya membuat perayaan atas prestasinya Gunju. Pada waktu itu, Gunju ingin segera masuk ke sekolah pilot. Justru Gunju gelisah karena harus berhadap-hadapan dengan stereotip masyarakat.

Gunju mengutarakan keinginannya untuk masuk ke sekolah pilot kepada kakaknya. Dan ternyata keinginan Gunju terdengar oleh tamu-tamu perayaan pesatanya. Mendengar maksud Gunju, Pak Khanna salah seorang tamu berkata, "Anak-anak tidak boleh diberikan kebebasan seperti itu. Tak ada yang mengerti itu lagi."

Bukan hanya orang luar yang menolak mimpi Gunju, melainkan juga kakak dan ibunya sendiri. Gunju akhirnya terus melanjutkan pendidikannya agar bisa masuk ke sekolah pilot. Namun, impiannya gagal ketika harus membayar terlalu mahal untuk masuk ke sekolah tersebut. Akhirnya ayahnya memberikan kabar kepada Gunju bahwa Angkatan Udara India membuka kesempatan pertama pilot wanita.

Singkat cerita, Gunju diterima sebagai sebagai opsir pertama perempuan di Angkatan Udara Udhampur. Cerita menarik dari film Gunjan ini pun dimulai.

Tantangan pertama sebagai perempuan yang bergabung di Angkatan Udara pertama adalah soal toilet. Tidak ada toilet khusus perempuan di sana. Ketika Gunju bertanya terkait dengan keberadaan toilet perempuan, justru Dileep komandan penerbangan di pangkalan tersebut merespons dengan negatif. "Karena tempat ini bukan untuk perempuan," katanya.

Karena tidak memiliki kamar mandi khusus perempuan, Gunju kesulitan untuk mendapatkan ruang ganti sehingga ia selalu terlambat latihan. Efeknya ia mendapatkan kemarahan dari komandannya. Padahal kedisiplinan seorang opsir tidak bisa ditawar. Selain itu, ia belum diterima oleh teman-temannya. Ia tidak bisa bergabung dalam obrolan para pria di sana.

Itulah hari-hari sulit Gunju. Setiap kali hendak latihan menerbangkan helikopter, temannya selalu menolak. Menganggap Gunju sebagai seorang perempuan yang lemah dan mudah menangis. Beberapa kali latihannya Gunju ditolak oleh teman-temannya. "Aku tak mau mati saat latihan karena seorang perempuan," kata salah seorang temannya yang sedang melobi Dileep agar latihan bersama Gunju dibatalkan.

Hidupnya dalam kesendirian dan diremehkan oleh teman laki-lakinya hanya sebatas karena perempuan. Perempuan dianggap tidak bisa menyetir dan hanya menjadi objek seksual. Terbukti sebelum kehadiran Gunju, ruang santai dipenuhi gambar-gambar perempuan. Melihat kenyataan tersebut Gunju tidak tinggal diam. Dia membuat ruang ganti sendiri dan akhirnya ia menjadi opsir terbaik dalam satu kesempatan.

Hingga akhirnya ia juga diberikan kesempatan untuk memimpin formasi terbang, memberikan pengarahan terbang tinggi. Apakah prestasinya Gunju diterima oleh teman-temannya? Tidak semudah itu. "Jika terus begini, kita akan segera terima perintah dari perempuan," ujar salah seorang temannya yang melihat prestasinya Gunju.

Tibalah hari ketika ia akan memimpin pengarahan latihan terbang. Ketika ia baru membuka pengarahan untuk formasi terbang, kemudian Dileep salah seorang komandan terbang datang, dan meminta Shekar (terbaik kedua setelah Gunju) untuk menggantikan posisi Gunjan dalam memberikan pengarahan.

"Ada masalah, Pak?" tanya Gunju. "Tidak," kata Dileep. Gunju terus bertanya, apa masalahnya sehingga ia tidak bisa memberikan pengarahan. Dengan emosional, Dileep kemudian meminta Gunju dan Shekar untuk adu panco. Selama 7 kali panco, Gunju kalah.

Kemudian Dileep bilang kepada Gunju, "Kau lemah, Gunjan. Di pertahanan tidak boleh lemah," katanya. "Butuh yang berani, bukan yang cengeng. Wajah polos dan mata besar tak mengubah pikiran musuh. Kau harus melawan. Tugas kita adalah melindungi negara, bukan memberimu kesempatan setara. Mengerti?" ucap Dileep dengan penuh emosi.

Malamnya, teman-temannya sedang pesta dengan nada musik yang sangat keras. Kemudian Gunju marah dan menyabut aliran listrik dari alat musik, sehingga tidak terdengar lagi alunan musik India. "Gunjan, hentikan! Apa kau sudah gila?" ujar Dileep yang siang tadi sedang marah kepada Gunju.

"Ya, saya sudah gila. Bahkan aku sudah gila sejak awal. Aku gila berpikir jika bekerja keras dan menjadi pilot yang baik, aku bisa jadi bagian unit ini. Bukan hanya aku, ayahku juga gila. Dia selalu bilang, gender tak penting di kokpit, pria dan wanita disebut pilot. Itu bohong. Ayah gila. Dia tak tahu, aku harus adu panco untuk membuktikan kemampuanku. Aku tak mau jadi begitu. Aku mau terbangkan pesawat, bukan bawa pesawat," ujar Gunju kepada Dileep dan opsir lainnya yang sedang pesta.

"Gunjan, hentikan!" kata Dileep yang terdiam bersama opsir lainnya.

"Pak, hari ini kau yang dengarkan. Aku paham masalahnya. Masalahnya bukan kelemahanku, tetapi ketakutanmu. Kau takut jika aku menjadi superior, semua harus memberi hormat. Benar? Itu akan menjadi akhir kejantananmu. Pak, menghormatiku bukan berarti tak menghormatimu. Aku janji! Lupakan pak! Selamat atas kepicikanmu, ketakukanmu, pesta ini, dan harga diri lelakimu yang kosong."

Akibat kekesalan atas perlakuan teman-temannya pada dirinya, Gunju mengajukan cuti dan pulang ke rumah. Singkat cerita, ia tidak diperbolehkan untuk mengambil cuti. Pada saat itu juga sedang ada perang India dan Pakistan. yang berlangsung di atas Srinagar di Bukit Kargil. Gunju ikut dalam misi tersebut. Misi pertamanya, Gunju selamat. Namun, perbincangan terkait pilot perempuan menjadi fokus utama masyarakat India, hingga akhirnya Gunju akan dipulangkan ke Udhampur.

"Apa kita kekurangan pria sehingga kita menugaskan wanita?" suara itu terdengar di salah satu wawancara televisi yang sedang didengarkan Gunju dan Dileep.

Dileep dan banyak opsir di sana merasa tertekan akibat pemberitaan mengenai Gunju. Termasuk kakaknya yang ikut bertugas di sana. "Semua di sini tertekan. Pahamilah," kata kakaknya. "Yang kutahu, aku di sini karena kemampuanku. Bukankah seharusnya kemampuanku menentukan apa aku bisa tinggal?" kata Gunju kepada kakaknya.

"Itu pendapatmu, bukan dunia. Dunia tak akan ubah cara berpikirnya" kata kakaknya menasehati Gunju. "Lupakan dunia, Kak," kata Gunju. "Ubah dirimu, mungkin dunia juga berubah," lanjut Gunju. Belum sempat kembali ke Udhampur, karena ada misi penyelamatan yang mendesak, akhirnya Dileep memberikan kesempatan kepada Gunju untuk ikut dalam misi penyelamatan bersamanya. Gunju dan Dileep berbeda helicopter.

Helikopter yang dibawa oleh Dileep diserang oleh musuh. Kemudian Gunju disuruh untuk kembali, karena dianggap tidak mampu. Namun, Gunju membuktikan dan melakukan misi penyelamatan dan akhirnya berhasil.

Gunjan Saxena terus mengabdi selama perang Kargil pad era tahun 1999-an. Dia berkontribusi pada kemenangan India dalam Perang Kargil dengan menjalankan lebih dari 40 misi. Dia bertugas mengevakuasi korban, mengirimkan suplai ke pasukan India dan mencari pasukan Pakistan di bukit Kargil. Gunjan berusia 24 tahun saat bertugas perang di Kargil. Ia membuka jalan bagi kesetaraan di langit. Gunjan merupakan opsir pertama wanita, dan kini di India 1.625 opsir wanita di Angkatan udara India.

Kisah Gunju dalam perjuangannya tersebut melawan stereotip masyarakat yang menganggap perempuan itu lemah. Terkadang orang yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki, misalnya untuk memimpin, karena ada ketakutan-ketakutan. Orang yang menolak dipimpin perempuan, terkadang memiliki perasaan merasa lemah karena dipimpin oleh perempuan.

Padahal bukan demikian; perempuan memiliki kesempatan dan kemampuan yang sama dengan laki-laki. "Menghormatiku bukan berarti aku tak menghormatimu," kata-kata Gunju ini menegaskan bahwa adanya kesalingan antara perempuan dan laki-laki. Mereka bisa bersama-sama berkreativitas tanpa ada yang terdiskriminasi.

Ada satu pesan penting juga dalam dialog Gunju dengan kakaknya. Jika ingin mengubah keadaan, maka ubahlah dirimu terlebih dahulu, dunia akan berubah, termasuk dalam menerapkan keadilan gender. Memang diperlukan banyak pihak yang bersama-sama untuk mewujudkan keadilan gender di masyarakat. Namun, yang lebih penting untuk kita lakukan adalah menerapkan keadilan gender dari diri kita sendiri.

Apabila kita bersama-sama sudah berubah, maka masyarakat, negara, atau dunia juga akan ikut berubah.

Nur Sholikhin fasilitator GUSDURian Network Indonesia

(mmu/mmu)