Kolom

Tetap Aman Saat "Emergency Brake"

Mustofa Noval - detikNews
Rabu, 16 Sep 2020 12:00 WIB
Pasar dan pusat perbelanjaan dapat beroperasi dengan menetapkan batasan kapasitas paling banyak 50 persen pengunjung. Begini penampakannya.
Jakarta PSBB lagi, mall beroperasi dengan 50% pengunjung (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Jakarta mulai awal pekan ini resmi menerapkan kembali PSBB seperti sebelum berlaku new normal. Hal ini karena melihat tren jumlah kasus yang terus meningkat per harinya --rata-rata mencapai di atas 1000 kasus baru. Jakarta sigap, agar dapat menekan penyebaran kasus dalam jumlah yang lebih tinggi lagi.

Langkah kebijakan menarik tuas rem mendadak jelas sudah dipertimbangkan secara matang, dan berdasarkan masukan para ahli tentu saja. Hal ini mengingat jumlah kasus yang terus meningkat pada satu sisi dan mutasi virus yang semakin ganas, dan vaksin yang belum dapat dipastikan efektivitasnya, sehingga pemberlakuan kembali PSBB, tiada lain sebagai pilihan yang paling rasional.

Langkah ini bisa dipelajari dari Jerman yang menutup salah satu distrik di negara bagiannya, North Rhine-Westphalia yang menerapkan rem darurat (emergency brake) ketika terjadi peningkatan kasus. Jerman memiliki kebijakan setelah pembukaan lockdown pada akhir April 2020, pemerintah menetapkan bagi negara bagiannya yang mengalami peningkatan kasus 50 dari 100 ribu penduduknya akan diberlakukan rem darurat. Artinya, wilayah tersebut akan ditutup kembali.

Sementara di dua distrik di negara bagian Nort Rhine-Westphalia, yakni Gusterloh dan Coesfeld terjadi peningkatan kasus yakni mencapai 61 dari 100 ribu penduduk. Saat itu terjadi klaster penyebaran baru dari rumah potong hewan yang menginfeksi 1500 pegawainya. Pemerintah setempat memberlakukan emergency brake hingga berakhir 30 Juni 2020. Rem darurat ini efektif menekan penyebaran kasus baru di negara bagian Nort Rhine khususnya dan German umumnya.

German memperlakukan kali pertama lockdown pada 21 Maret, kemudian perlahan mulai dilonggarkan pada awal Juni. Namun setelah terjadi penyebaran di klaster baru di negara bagiannya, kebijakan pemerintah setempat menerapkan emergency brake dengan menutup lagi kegiatan seluruh warganya.

Saat ini program penutupan sementara itu kembali efektif, berhasil menekan penyebaran virus lebih luas. Jerman kasus hariannya semakin menurun. Per 6 April sebanyak 6156 kasus, kemudian terus mengalami penurunan per 1 Mei 1639 kasus, terus 1 juni 333 kasus, dan 13 Juli 159 kasus.

Meski secara grafik harian ada kenaikan pada September, namun secara akumulatif grafiknya terus melandai. Tak berlebihan bila Forbes pada 5 Juni mengutip lembaga riset global Deep Knowledge Group yang menetapkan Jerman sebagai negara yang sukses dan aman kedua dalam menangani Covid, dari 100 negara. Yang pertama adalah Swiss. Sementara Indonesia berada di urutan 97.

Perhatikan Mobilitas Warga

Langkah yang paling rasional memang rem mendadak. Namun paling tidak ada tiga yang patut diperhatikan dalam penerapan kebijakan ini. Pertama, kemampuan kapasitas APBD DKI Jakarta untuk membantu meringankan biaya warga yang dipaksa harus berhenti kembali dengan PSBB. Bansos dan bantuan lainnya tidak boleh berhenti.

Kemampuan APBD DKI Jakarta penting menjadi pertimbangan untuk bisa meng-cover warganya dalam jangka beberapa pekan ke depan. Jangan sampai kemudian yang terjadi tidak cukup APBD, yang dikorbankan adalah warganya.

Kedua, respons pejabat sangat penting untuk secara antisipatif dan lebih responsif terhadap keadaan terjadi. Respons itu adalah kapan waktunya tekan gas atau injak rem. Saat kali pertama PSBB berlaku di Jakarta pada awal 7 April dan diperpanjang hingga 22 Mei terjadi kasus yang rendah. Yaitu pada 9 Mei pernah hanya 57 kasus, dan tertinggi pada 14 Mei 180 kasus.

Namun setelah berlaku new normal atau PSBB transisi dalam istilah DKI Jakarta, yang berlaku awal Juni 2020, angkanya per hari justru mengalami lonjakan cukup tajam. Saat ini, dari 30 Agustus hingga September 2020 kasus hariannya terus meningkat. Pada 30 Agustus tercatat ada 1114 kasus baru, melonjak jadi 1053 kasus pada 2 September dan 1406 kasus pada 3 September. Rata-rata saat ini kasus harian positif di Ibu Kota selama dua pekan terakhir adalah 1.029 dengan catatan tujuh kali penambahan kasus positif di atas angka 1.000.

Yang paling penting juga diperhatikan adalah koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah penyangga lainnya (Bodetabek). Seperti disebutkan oleh Gubernur DKI Jakarta sendiri bahwa pasien Covid-19 yang dirawat di DKI Jakarta, 10-15 persen bukanlah warganya --bahkan pernah sampai 30 persen. Itu artinya, rem mendadak perlu diinjak, namun juga perhatikan mobilitas warga dari daerah lain yang berpotensi menjadi klaster baru.

Ketiga, faktor kedisiplinan dari warga DKI Jakarta khususnya dan warga daerah penyangga pada umumnya. Pengalaman 6 bulan menghadapi pandemi sudah seharusnya menyadarkan semua warga betapa bahayanya ancaman ini dan nyata. Betapapun, emergency brake hanya bersifat antisipatif, namun efektifivitasnya paling utama dimulai dari kebiasaan hidup setiap warganya. Yaitu untuk bersama-sama disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Tiga langkah tersebut penting diterapkan dalam waktu yang bersamaan. Semua pihak bertanggung jawab.

(mmu/mmu)