Jeda

Kemandirian, Pandemi, dan Pemberdayaan

Muhammad Arif - detikNews
Minggu, 13 Sep 2020 11:37 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Adakah individu normal yang hidupnya tidak ingin mandiri? Dengan kata lain, menjadi pribadi yang selamanya bergantung pada bantuan orang lain untuk memenuhi hal-hal paling mendasar dalam hidupnya seperti pangan, sandang, dan papan? Jika ada, mungkin mereka adalah anomali dalam sistem bermasyarakat.

Saya cukup yakin bahwa banyak orang ingin menjadi individu yang mandiri. Jika tidak sampai bisa membantu orang lain, paling tidak untuk membantu dirinya sendiri dan tidak merepotkan orang lain.

Untuk menjadi individu mandiri, kita memerlukan modal dasar yang baik seperti akses yang terbuka lebar dan berkeadilan, finansial, atau pendidikan (keterampilan). Itu semua bisa bersumber dari usaha sendiri, bantuan orang lain, atau pemerintah. Namun, bagaimana pun seseorang bisa mengusahakannya sendiri, tetap saja tidak akan pernah terlepas dari bantuan orang lain. Sehingga, kemandirian yang sifatnya individual hanyalah kemandirian yang semu.

Belakangan, saya menyadari bahwa ada yang keliru dari nilai-nilai adiluhung kemandirian. Dengan kata lain, terjadi kegagalan dalam pemaknaan dan pelaksanaan dari konsep kemandirian. Bahkan secara kolektif dilakukan secara terus-menerus. Padahal, ada tanggung jawab besar atas kemandirian yang diperoleh untuk membantu orang lain memperoleh kemandirian hidup serupa.

***

Dulu, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, orangtua saya selalu mendidik anak-anaknya untuk mandiri. Berdasarkan cerita orangtua saya, mereka juga dididik untuk mandiri semenjak kecil oleh nenek saya. Hal ini kemudian diturunkan juga ke anaknya dengan memotivasi saya untuk berani jualan apa saja yang bisa dijual selagi halal di komplek di belakang rumah.

Meskipun dengan tanpa jualan itu saya masih bisa hidup dari gaji yang diterima orangtua saya, namun entah bagaimana motivasi yang diberikan begitu merasuk hingga saya mau melakukannya. Saya pun mulai berjualan dengan berjalan kaki membawa baskom kecil di atas kepala berisi dagangan yang dibuat oleh orangtua sendiri, dipetik langsung dari ladang, hingga dagangan yang saya cari di sawah-sawah untuk pakan bebek bersama teman.

Singkat cerita, lama-kelamaan tanpa bantuan orangtua, saya mulai berani berdiri sendiri untuk urusan mengubah barang menjadi uang. Pengajaran yang telah mereka berikan membuat saya tahu lebih dari sekadar mengerti tentang membelanjakan uang, tapi mengerti tentang konsep uang, nilai barang, bagaimana ekonomi berputar, dan yang terpenting menyisihkan sebagian keuntungan untuk sedekah.

Cerita tentang kemandirian masih berlanjut hingga ke bangku perkuliahan. Kali ini saya tidak lagi jualan keliling untuk mencukupi kebutuhan sebagai mahasiswa tingkat akhir ketika itu. Pekerjaan seperti menjadi pelayan restoran dan operator warnet pernah saya lakoni. Dengan penghasilan yang tidak seberapa, tapi masih lebih baik daripada bergantung sepenuhnya pada orangtua.

Hingga berjalan beberapa bulan, ternyata semangat itu mulai memudar karena gaji yang kecil cukup untuk menyurutkan niat dan menimbulkan pikiran macam-macam seperti 'ketidakadilan', 'ketertindasan', dan lain sebagainya. Itu membuat saya berpikir ulang untuk mencari jalan penghidupan lain yang lebih menjanjikan. Namun saya cukup sadar diri belum memiliki cukup keterampilan bertahan hidup di tengah kerasnya hidup.

Berbekal privilese internet gratis sebagai operator, saya mulai 'berselancar' mencari peluang. Lalu sebuah pamflet pelatihan kerja di sebuah Balai Latihan Kerja (BLK) milik pemerintah datang menghampiri beranda media sosial. Dengan embel-embel 'makan siang gratis' pada pamflet, membuat saya tidak berpikir panjang untuk segera mendaftar.

Sejak saat itu berbagai pelatihan teknis formal atau non formal saya ikuti dan pelajari mulai dari instalasi jaringan internet, instalasi listrik, perakitan komputer, aplikasi olah visual, kearsipan (sekretaris), mencukur rambut, dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, keterampilan tersebut memang banyak membantu saya dalam berhemat. Untuk sekadar mengedit foto wisuda, mencukur rambut, menginstal ulang komputer tidak perlu lagi ke ahli di luar sana karena saya sendiri bisa melakukannya.

***

Ketika virus corona secara 'resmi' melanda Indonesia kira-kira awal Maret lalu, ekonomi nasional menjadi gonjang-ganjing hingga saat ini. Di mana-mana terjadi pemutusan hubungan kerja karena perusahaan berusaha menekan beban biaya produksi. Dampak berantai dari hilangnya pekerjaan adalah hilangnya pendapatan dan membuat permintaan barang dan jasa menurun. Secara langsung membuat sektor usaha lain mulai dari yang besar, menengah, hingga kecil tertekan, merugi, hingga gulung tikar.

Mereka yang kemudian kehilangan pekerjaan atau masih memiliki penghasilan namun pas-pasan lebih memilih menyimpan uang yang tersisa untuk mengantisipasi masa depan yang tidak pasti. Otomatis, ekonomi tidak berputar sebagaimana mestinya. Banyak kemudian para pelaku usaha kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. Akibatnya, terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi secara umum di Indonesia.

Dalam rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) disebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen pada kuartal kedua 2020. Sampai pada tahap ini, saya mulai berpikir ulang tentang banyak hal dari apa yang sudah dilakukan dan kontribusi saya terhadap tidak bergeraknya roda perekonomian. Jangan-jangan bahwa penyebab ekonomi tidak bertumbuh adalah karena konsep kemandirian sebagai individu yang saya pikir sebagai kebaikan?

Jika pengertian kemandirian yang dimaksud adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri tanpa butuh banyak bantuan orang lain, di saat pandemi seperti ini, maka pengertian itu sungguh celaka bagi pertumbuhan ekonomi ke depan.

Bagaimana tidak? Ketika hendak memotong rambut, dengan keterampilan yang saya miliki, saya tidak perlu lagi pergi ke tukang pangkas. Saya bisa membeli alat potong rambut sendiri dan menjalin simbiosis mutualisme bersama teman sehingga pengeluaran cukup sekali yakni untuk membeli alat.

Jika saya adalah satu di antara ribuan atau jutaan penduduk Indonesia yang melakukan tindakan itu, bisa Anda banyangkan besarnya nilai ekonomi yang berkurang terhadap usaha pangkas rambut. Lebih parahnya lagi alatnya pun juga impor sehingga devisa dalam negeri lari ke luar.

***

Lain lagi cerita di kampung halaman kami di nagari kecil di Sumatera. Bisa dikatakan hampir setiap keluarga memiliki lebih dari satu kendaraan bermotor untuk keperluan masing-masing anggota keluarga. Angkutan umum hampir tidak laku lagi dengan alasan tidak efisien dan efektif.

Di satu sisi, hal itu bisa dilihat sebagai sebuah kemandirian sekaligus meningkatnya kesejahteraan sehingga setiap orang mampu membeli kendaraan. Namun, dalam skala yang lebih luas, negara sebenarnya menanggung beban defisit neraca perdagangan pada sektor migas yang nilainya tidak sedikit setiap tahunnya.

Jadi, demikiankah konsep kemandirian yang ingin kita bangun? Sebagai alumni BLK saya merasa telah mengkhianati semua makan siang gratis yang diberikan negara terhadap saya. Pun kesadaran ini mestinya juga menjadi kesadaran kita bersama bahwa bangsa ini, terlebih saat ini, membutuhkan bantuan kita bersama untuk tetap bertahan di situasi yang sulit ini.

Jika benar bahwa sebagian besar Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) Indonesia ditopang oleh sektor konsumsi dalam negeri, maka kontribusi paling gampang untuk menyelamatkan perekonomian yang dapat dilakukan adalah belanja produk dalam negeri. Dengan begini, uang kembali ke fungsinya yang sejati, selain sebagai alat tukar dan alat penumpuk kekayaan juga sebagai sebuah tanggung jawab sosial.

Ibarat arisan, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk menerima uang baik lewat jalur hibah, sedekah, dan semacamnya, atau lewat jual-beli. Alhasil, jika semua orang yang cukup beruntung di masa pandemi ini melakukannya, maka kita tidak hanya mandiri secara individual, tapi juga memberdayakan individu lain untuk mandiri. Ini baru mulia.

Muhammad Arif guru


(mmu/mmu)