Pustaka

Kematian, Kehilangan, dan Kenangan

Muhammad Khambali - detikNews
Sabtu, 12 Sep 2020 11:03 WIB
jika kucing
Jakarta -

Judul Buku: Jika Kucing Lenyap dari Dunia; Penulis: Genki Kawamura; Penerbit: Baca, 2020; Tebal: v + 225 hlm

Barangkali ketika menyebut kucing dan penulis Jepang, maka yang lekas terlintas adalah Haruki Murakami. Para pembaca Murakami tentu mengakrabi cerita-cerita tentang kucing dalam novel maupun cerpennya. Misalnya dalam novel The Wind-up Bird Chronicle (sudah diterjemahkan dengan judul Kronik Burung Pegas), dan salah satu cerpennya Man Eating Cat. Dalam ceritanya, Murakami banyak memakai hubungan antara manusia dengan kucing sebagai metaforis belaka.

Tapi buku Sekai Kara Neko Ga Kieta Nara ini, yang diterjemahkan oleh Ribeka Ota dengan judul Jika Kucing Lenyap dari Dunia bukan ditulis oleh Murakami, melainkan penulis Jepang lain, Genki Kawamura. Ketimbang penulis, Kawamura duluan dikenal sebagai produser dari film-film apik Makoto Shinkai, Your Name dan Weathering With You. Dan sebelum diterjemahkan, pembaca kita mungkin sudah lebih dulu mengenal novel ini dalam bentuk filmnya dengan judul yang sama, If Cats Disappered from the Word (2016).

"Jika kucing tiba-tiba lenyap dari dunia. Bagaimana dunia ini tampak berbeda dan bagaimana hidupku akan berubah?" demikian Kawamura membuka novelnya, sama seperti dalam versi filmnya yang diperankan oleh Takeru Satoh. Kalimat itu adalah isi surat wasiat tokoh "aku", seorang tukang pos, yang divonis mengidap kanker dan umurnya tinggal sebentar lagi. Lalu, ia didatangi oleh iblis yang menyerupai dirinya. Iblis itu menawarinya untuk bisa menyambung nyawa lebih lama dengan syarat menghilangkan satu hal penting di hidupnya.

"Untuk memperoleh sesuatu, harus kehilangan sesuatu," ujar si Iblis. Ungkapan ini mudah mengingatkan kita dengan ungkapan yang serupa dalam rantai kehidupan: untuk hidup, spesies memakan spesies yang lain. Untuk melanjutkan hidup, kita harus mengambil kehidupan yang lain. Tawaran dari iblis kepada tokoh "aku" itu semacam godaan. Dalam novel, secara tersurat premis tersebut memang mengambil dari cerita Kitab Kejadian, ketika iblis menggoda Adam dan Hawa untuk memakan buah apel.

Begitulah, untuk memperoleh sesuatu, harus kehilangan sesuatu. Ternyata apa yang diungkapkan oleh iblis itu pernah diungkapkan pula oleh ibunya. Menurut ibunya, manusia cenderung menginginkan sesuatu tanpa kehilangan sesuatu. Tapi itu artinya perbuatan merebut. Saat seseorang memperoleh sesuatu, seseorang lain mengalami kehilangan. Kebahagiaan seseorang terbentuk di atas kemalangan orang lain. Itulah aturan dunia menurut ibunya.

Cerita bergerak dengan premis tersebut. Si "aku", untuk dapat menunda kematiannya mesti kehilangan hal-hal yang kemudian ia sadari begitu penting dalam hidupnya. Pertama adalah telepon, benda yang menghubungkannya dengan mantan kekasihnya. Ia adalah tokoh introver yang sedikit bicara, termasuk dengan kekasihnya. Namun itu berbeda ketika sedang berbicara lewat telepon, ia dapat membicarakan banyak hal selama berjam-jam. Maka ketika telepon lenyap, ia akhirnya menyadari alasan-alasan mengapa ia akhirnya putus dengan kekasihnya itu.

Kedua adalah film, yang membuatnya memiliki sahabat seorang pencinta film. Sahabatnya itu selalu merekomendasikan film-film untuknya. Dan sebelum mati, dirinya menjumpai sahabatnya untuk memilihkan film terakhir untuk ditonton sebelum ia mati. Film itu adalah Limelight (1952). Film itu membuatnya dapat menyadari bagaimana ia mesti memandang hidupnya. Seperti dikatakan Charlie Chaplin, "Jika dilihat dari dekat, hidup manusia itu tragedi, tapi jika dilihat dari jauh, itu merupakan komedi."

Sekalipun begitu, menghadapi kematian bukan perkara mudah. Kecemasan akan kematian membuatnya berharap. "Seandainya hidupku ini sebuah film, aku berharap film itu menyisakan sesuatu di dalam hati orang, bahkan setelah kredit film berakhir. Sekecil apa dan sesederhana apa pun film itu, aku berharap ada seseorang yang merasa hidupnya terselamat dan hatinya dibesarkan dengan menonton film itu."

Ketiga adalah jam. Bagaimana dunia tanpa jam? Kita tidur, bangun, bekerja, makan, bahkan kencan berdasarkan ketentuan yang disebut waktu. Dengan kata lain, manusia hidup sesuai dengan jam, dan tanpa sadar itu mungkin membatasi manusia sendiri. Karena jam, manusia tidak lagi benar-benar memiliki kebebasan. Manusia menggantungkan ketidakbebasan itu di dinding, dan meletakkannya di dalam kamar, melilitkan waktu pada pergelangan tangan sendiri.

Ayah si "aku" adalah seorang tukang reparasi jam. Pekerjaannya membetulkan waktu. Ironisnya, karena pekerjaannya itu pula ia tidak dapat menyediakan waktu untuk keluarganya sendiri, untuk istrinya yang sedang sakit. Jam pula yang mengingatkan pada hubungan buruk dengan ayahnya. Namun, kalau jam lenyap dari dunia, toko jam pun tidak diperlukan lagi. Kehilangan jam berarti kehilangan ayahnya.

Terakhir, ia diminta untuk kehilangan kucing kesayangannya. Kucing bernama Selada itu menghubungkannya dengan kematian ibunya. Demikianlah, novel ini berbicara banyak tentang kematian dan kehilangan. Orang baru menyadari apa yang penting baginya setelah kehilangan. Termasuk, orang mungkin baru menyadari betapa berharganya hidup ketika mendekati kematian.

Kematian sering kali menjadi ketakutan manusia karena tidak ingin adanya penyesalan. Impian yang tidak dicapai, tempat yang ingin dituju, atau dosa yang belum termaafkan. Pada saat yang sama, kematian menjadi semacam batas yang menghubungkan seseorang dengan orang lain dalam hidupnya. Setelah mati, apakah kita masih akan terus diingat atau dilupakan. Novel ini mempertanyakan itu dan mengingatkan kita pada film Coco (2017).

Dalam film Coco, arwah Lullaby akan menghilang selamanya tatkala Coco berhenti mengingatnya dan tak ada lagi orang yang menyimpan fotonya. Kehilangan benda-benda seperti telepon, jam, dan kucing kesayangan menjadi cara Kawamura dalam novel ini untuk mengingatkan sebuah hal penting yang kerap kita lupakan, yaitu dokumentasi.

Kita sering tidak menyadari bahwa kenangan kita dengan orang lain diikat oleh benda-benda, seperti album foto, video, barang-barang kesayangan, dan buku catatan harian. Pada benda-benda tersebut kita juga menitipkan ingatan orang lain tentang diri kita, bahkan ketika kita telah mati. Setelah kita mati, kita mungkin akan tetap hidup dalam benda-benda yang menyimpan kenangan tentang diri kita. Sampai orang-orang akhirnya tak menyimpannya lagi.

Muhammad Khambali penulis dan pengajar; menulis cerita, esai, dan ulasan

(mmu/mmu)