Kolom

Penguatan Literasi Covid-19

Milastri Muzakkar - detikNews
Kamis, 10 Sep 2020 15:20 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -
Hingga 8 September, 197 ribu orang di Indonesia positif Corona. Peningkatan kasus positif ini terjadi setiap harinya. Ironisnya, peningkatan itu seolah berbanding lurus dengan menurunnya kekhawatiran dan kedisiplinan sebagian besar masyarakat. Atau, dalam bahasa lainnya, semakin banyak orang yang menjalani kehidupan di luar rumah seperti sebelum masa pandemi dengan legalisasi "kenormalan baru". Tak heran, bukan penurunan tingkat penularan Covid-19 yang terjadi, tapi malah lompatan kasus yang melaju.

Persoalannya, masa pandemi tak hanya bicara soal orang positif dan negatif terkena penyakit saja. Implikasinya sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Masa pandemi juga dibarengi dengan kepanikan, kecemasan, ketakutan, hingga keputusasaan yang berujung pada kekerasan dalam berbagai bentuk, bahkan bunuh diri. Menurut laporan Perhimpunan Dokter Spesial Kedokteran Jiwa, setidaknya 1552 orang telah mengalami gangguan kesehatan mental selama pandemi.

Sedikitnya 1.401 konten hoaks dan disinformasi Covid-19 beredar di berbagai media sosial (Tim AIS Ditjen Aptika+Kominfo). Cyberbullying meningkat karena peningkatan stres. Intensitas bermain gadget tak terkontrol. Sebuah lembaga nirlaba di Amerika, National Center for Missing and Exploited Children melaporkan, kejahatan dan eksploitasi seksual pada anak di internet mencapai 4,2 juta kasus. Kekerasan di dalam rumah tangga pun ikut melonjak. Sekitar 319 kasus telah dilaporkan semasa pandemi (Komnas Perempuan, 2020)

Kepolisian Republik Indonesia melaporkan meningkatnya kriminalitas sebanyak 38,45%. Konflik hingga terorisme juga makin merajalela. Tampaknya hal ini juga dampak dari meningkatnya kemiskinan hingga 26,42 juta orang selama pandemi (BPS, 2020).

Proses Literasi

Peristiwa-peristiwa di atas mestinya tak perlu terjadi, atau setidaknya tidak seburuk itu, jika kita memiliki budaya literasi yang baik, khususnya literasi Covid-19. Yakni kemampuan mengetahui apa sebenarnya Covid-19 itu, memahami bagaimana sebaiknya kita menyikapinya, merefleksikan hikmah di balik pandemi ini, serta mempraktikkan kehidupan yang lebih cerdas, kritis, serta penuh empati dan humanis selama masa pandemi.

Apa yang perlu diketahui dari Covid-19? Ada banyak hal. Namun setidaknya kita membaca secara mendalam atau mendengar dari berbagai sumber yag terpercaya secara mendasar bahwa Covid-19 adalah salah satu virus yang bahaya dan mematikan sehingga harus dicegah, dihindari, dan diobati jika telanjur terpapar. Namun kita tak perlu takut berlebihan menyikapinya. Jangan lupa, virus adalah bagian dari kehidupan manusia. Sepanjang sejarah manusia pernah pula terjadi wabah virus mematikan, seperti pada 1918-1919, yakni wabah Spanish Flu yang membunuh sekitar 50 juta orang. Jauh sebelumnya, pada 1347-1351, wabah Black Death membunuh sekitar 200 juta orang.

Setelah memahami informasi yang jelas tentang Covid-19 tentu akan memudahkan kita mengetahui bagaimana sebaiknya menyikapinya. Hemat saya, sikap yang perlu kita kedepankan selama pandemi; pertama, tidak panik dan gunakan nalar kritis dalam melihat, mendengar, dan membaca informasi tentang Covid-19. Kedua, mencari tahu secara mendalam bagaimana cara mencegah, menghindari, dan mengobati jika kita terkena gejala atau bahkan positif. Ketiga, tetap ramah, peduli, dan empati pada dokter, tenaga medis, pekerja harian yang tak bisa tinggal di rumah, termasuk kepada pasien dan jenazah positif Covid.

Selanjutnya, proses literasi adalah merefleksikan konsep atau kejadian langsung yang kita hadapi untuk menemukan hikmah di baliknya. Dalam konteks literasi Covid-19, sebetulnya ada banyak hikmah yang bisa kita ambil. Hampir seluruh manusia di dunia mengalami pandemi, namun tak semua orang punya kemampuan merefleksikan pengalaman yang dijalaninya.

Hal-hal yang bisa direfleksikan dalam menghadapi pandemi antara lain memahami bahwa masa pandemi adalah momen untuk meningkatkan kualitas diri kita sebagai manusia --dengan berbagai tantangan, seperti manajemen yang baik saat melakukan semua aktivitas di rumah; belajar mengelola kesehatan pikiran, emosi, dan mental agar tetap positif; lebih produktif dan kreatif dalam berkarya, sebab banyak waktu mengasah ide dan keterampilan.

Di masa pandemi, kita juga cenderung lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Lebih mengenal kekurangan dan kelebihan diri yang mungkin selama ini belum terungkap. Termasuk lebih menyayangi diri sendiri, keluarga, teman, dan lingkungan. Begitulah cara kerja literasi dalam membentuk generasi yang literat, yaitu orang-orang yang cerdas dan berbudi pekerti yang luhur. Karena itulah mengapa literasi Covid-19 di masa pandemi ini sangat penting.

Strategi dan Kolaborasi

Lalu bagaimana menggelorakan budaya literasi di tengah pandemi? Di salah satu webinar yang diadakan oleh Perpustakaan Nasional dan Generasi Literat pada Hari Literasi Sedunia bertema Darurat Penguatan Literasi Masa Pandemi, banyak yang menanyakan ini kepada saya (sebagai salah satu narasumber). Memang tak mudah. Sebelum pandemi saja, budaya literasi kita masih kurang, terlebih di tengah keterbatasan ruang dan waktu karena pandemi.

Namun, orang-orang literat memiliki kemampuan dan kreativitas dalam memanfaatkan keadaan. Mau tak mau, kita mesti memaksimalkan proses edukasi literasi melalui seluruh platform media sosial. Pemerintah dan masyarakat idealnya bersinergi. Saya membayangkan, Kementerian pendidikan mewajibkan membaca dan menulis sebagai bagian dari pelajaran utama. Siswa bisa menulis pengalaman mereka sehari-hari selama pandemi atau membuat "jurnal kebaikan". Di awal, reward untuk siswa pun harus ada sebagai bentuk apresiasi dan motivasi.

Perpustakaan di berbagai daerah perlu memasifkan lomba baca, tulis, dan video-video kreatif yang berisi pesan edukatif. Lomba vlog atau video Tiktok bisa dicoba untuk menyasar Generasi Z. Untuk mengimbangi gadget yang sudah menjadi teman sehari-hari anak, pemerintah sudah perlu membuat atau bekerja sama dengan platform gaming untuk membuat game edukatif, menyenangkan, dan seru sebagaimana game umumnya. Di tengah derasnya serbuan konten-konten yang cenderung tidak mendidik, kita yang masih "waras" juga perlu mengencangkan ikat pinggang, menyerbu dengan konten edukatif.

Keluarga, komunitas, dan masyarakat umum juga perlu aktif mengambil peran. Keluarga bagaimana pun adalah pusat pertama dan utama budaya literasi itu dibangun. Budaya literasi bukan sesuatu yang atau muncul tiba-tiba. Ia lahir dari proses pembiasaan sejak dini, dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, hingga menjadi budaya. Orangtua bisa memulai dari membacakan buku, mengajak anak ngobrol tentang isi buku sambil bermain.

Di daerah, para pegiat literasi secara berkala bisa mengantar pinjaman buku ke rumah-rumah warga. Sebab salah satu hambatan di daerah adalah akses internet yang baik. Komunitas anak-anak muda membuat program kreatif di berbagai media sosial agar menjadi tontonan anak muda lainnya. Akhirnya, seluruh pihak perlu melakukan perannya dengan prinsip sinergi. Bukan berjalan sendiri-sendiri.
Literasi adalah fondasi dalam membangun bangsa yang beradab. Pandemi boleh saja menyerang, namun kita tak akan tumbang, tapi justru kuat dan bisa melewatinya dengan positif, jika masyarakat kita terliterasi.

Milastri Muzakkar founder Generasi Literat, penulis buku "Kapan Selesai? Jurus Bahagia, Produktif, dan Hebat di Masa Corona"

(mmu/mmu)