Kolom

Sengketa Mediterania: Rivalitas Turki-Yunani

Firmanda Taufiq - detikNews
Kamis, 10 Sep 2020 10:44 WIB
Yunani Bantah Akan Duduk Satu Meja dengan Turki Bahas Konflik di Timur Laut Tengah
Foto: DW (News)
Jakarta -

Hubungan Turki-Yunani kembali memanas. Setelah persoalan alih status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid, kini dua negara tersebut tengah bersengketa atas hak dan sumber daya di Mediterania. Turki dan Yunani bersikeras untuk mengeksplorasi dan mengelola ladang gas lepas pantai di Laut Mediterania timur. Masing-masing negara tersebut saling mengklaim perihal garis kontinental mereka.

Persoalan sumber daya alam selalu menjadi awal terjadinya pertikaian dan sengketa antarnegara. Apalagi terkait dengan gas alam ataupun minyak yang memiliki daya jual tinggi dan menguntungkan. Turki ingin mengeksplorasi Laut Mediterania timur, tempat ladang gas lepas pantai di sana melimpah dan mampu menambah pendapatan bagi negara dua benua tersebut. Tetapi, hal ini tentu membuat Yunani berang. Mereka mengklaim bahwa Turki telah melanggar garis kontinental mereka. Kondisi ini menjadi awal mula terjadinya sengketa tersebut.

Ketegangan antara Turki-Yunani memang tidak lepas dari permasalahan politik dan ekonomi. Beberapa alasan dan faktor yang membuat Yunani menentang Turki akan sangat ditentukan oleh kebijakan politik pemerintah Erdogan yang tidak sepaham dengan pemerintah Yunani.

Sebenarnya antara kedua belah pihak tengah menempuh jalan perundingan untuk menyelesaikan permasalahan sengketa Mediterania. Tapi, Turki-Yunani juga siap melakukan perang terbuka jika memang perundingan tidak menyelesaikan masalah. Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan, pihaknya telah memperingatkan Yunani untuk permasalahan Mediterania. Tetapi, jika Yunani tidak mengindahkan peringatan itu, maka pihaknya siap apapun yang terjadi di lapangan nanti.

Bagi Yunani, apa yang telah dialamatkan Turki kepadanya membuat mereka tak terima dan marah. Yunani menganggap Turki telah melakukan tindakan ilegal dan hal tersebut dinilai hanya upaya Turki untuk mengurangi ketegangan. Sedangkan, Eksekutif Uni Eropa dan Siprus juga mendukung adanya dialog antarkedua negara terkait kasus di Laut Mediterania timur.

Persoalan eksplorasi sumber daya di Laut Mediterania timur ini memang sangat berarti bagi Turki dan Yunani. Kedua negara akan mempertahankan argumen dan klaim mereka atas Mediterania, karena posisi yang strategis dan memiliki sumber daya gas yang melimpah. Tentu hal tersebut menjadi alasan kedua negara tak mau kalah untuk mengeksplorasi kawasan tersebut.

Di tengah ketegangan antara Turki dan Yunani, Prancis bakal memasok 18 jet unit tempur Dassault Rafale untuk melawan tetangga Mediteranianya tersebut. Berdasarkan laporan media Yunani, Eurasiantimes, Selasa (1/9), kesepakatan kontrak jual beli antara pemerintah Prancis dan Yunani sedang dalam tahap lanjut, yang akan membuat Angkatan Udara Hellenic menambahkan skuadron Rafale ke armada Lockheed F-16 Fighting Falcons, Dassault Mirage 2000, dan McDonnell-Douglas F-4 Phantom II mereka.

Kesepakatan tersebut dilaporkan akan selesai pada akhir tahun ini. Tetapi, laporan lain menyebutkan bahwa kesepakatan itu akan berlanjut dalam dua bagian; pertama, pembelian 10 unit jet tempur Rafale baru, dan tahap kedua sisanya yang akan diberikan sebagai hadiah untuk Athena. Bahkan, delapan Rafale di antaranya yang hendak dijual Prancis ke Yunani tersebut adalah jet yang sama jenisnya dengan jet tempur yang membom fasilitas Turki di pangkalan udara al-Watiya di Libya.

Erdogan menyebut bahwa Yunani dan Prancis rakus atas persoalan eksplorasi ladang gas alam di Laut Mediterania timur. Ia akan menggunakan segala cara untuk mensukseskan upaya eksplorasi ladang gas alam di Laut Mediterania timur tersebut. Tetapi, ia juga membuka jalur perundingan damai dengan Yunani untuk permasalahan sengketa sumber daya alam ini.

Saat ini, Yunani dan beberapa negara lainnya juga tengah melangsungkan latihan militer. Kapal-kapal dari Siprus, Italia, dan AS juga ikut serta dalam latihan Yunani, sementara AS dan Italia juga telah mengadakan latihan dengan unit Turki. Meski hal ini disinyalir bukan karena ketegangan yang terjadi antara Turki dan Yunani. Tetapi, dalam hal sengketa sumber daya, kemungkinan apapun bisa terjadi di tengah pertikaian antarnegara. Kita tunggu saja apa langkah selanjutnya antara kedua negara dalam mencari solusi mengatasi persoalan ini.

(mmu/mmu)