Mimbar Mahasiswa

Berhenti Menjadi Orangtua Helikopter

Miccha Pujiyanti - detikNews
Rabu, 09 Sep 2020 15:25 WIB
Angry mother is scolding at her son.
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Pola asuh yang diterapkan orangtua pada anak sangat berpengaruh besar bagi kesehatan mental sang anak di kemudian hari. Pola asuh yang baik dapat menghasilkan anak dengan kepribadian yang baik juga. Namun, pola asuh yang salah secara tidak langsung dapat membahayakan kehidupan sang anak. Tentunya tidak ada orangtua yang ingin mencelakai anaknya; semua orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya karena rasa sayang yang begitu besar.

Namun, rasa sayang yang berlebihan pada anak terkadang membuat orangtua tanpa sadar menerapkan pola asuh yang salah. Salah satu contoh pola asuh yang salah yang sering diterapkan oleh banyak orangtua adalah over protektif atau helicopter parenting. Yakni perilaku mengasuh anak yang cenderung terlalu mengekang anak demi menjaga keamanan dan menghindarkan anak dari celaka atau sesuatu yang buruk.

Pola asuh ini memiliki kecenderungan seperti helikopter yang melayang-layang di atas kepala anak, terlalu mengatur kehidupan anak dan tidak akan membiarkan anak merasa sedih, kecewa, marah, atau merasakan kegagalan serta akan langsung menukik untuk menyelamatkan anak ketika terjadi masalah.

Over protektif atau helicopter parent ini tidak akan berhenti ketika anak masih balita atau anak-anak. Bahkan ketika anak sudah menginjak remaja atau dewasa pun mereka akan tetap menerapkan pola asuh ini. Apabila tidak dihentikan, pola asuh ini dapat membuat anak tidak mandiri dan selalu bergantung pada orangtua.

Ada beberapa tanda dari pola asuh over protektif atau helicopter parenting. Pertama, ingin tahu segalanya tentang anak. Wajar ketika orangtua ingin mengetahui apapun yang dilakukan oleh anak, tetapi tidak dengan privasi anak. Jika hal ini tidak segera dihentikan, maka anak akan berpikir jika orangtuanya tidak memiliki kepercayaan kepadanya dan menimbulkan kesan buruk kepada orangtua.

Kedua, mengatur segalanya. Orangtua selalu berusaha mengatur segala hal yang terkait dengan kebutuhan dan aktivitas anak. Termasuk tentang cara berpakaian, cara berdandan bahkan dalam pergaulan. Tentu saja dengan maksud baik, takut anak terluka atau "kenapa-napa". Tapi ini membuat anak tidak dapat menyalurkan ekspresinya, tidak bebas berimajinasi dan jadi anak yang kikuk atau serba kebingungan bila tidak ada orangtua.

Ketiga, melarang ini-itu. Orangtua akan terus melarang anak melakukan hal yang menurutnya "berbahaya". Kalau orangtua tidak mengizinkan anak terjatuh, bagaimana anak belajar untuk berdiri? Jika terus dilakukan, anak akan tumbuh menjadi penakut dan tidak berani mencoba hal baru.

Keempat, selalu mengatasi masalah yang dihadapi anak. Mungkin orangtua merasa khawatir jika anaknya disakiti atau ditekan oleh orang lain. Tetapi anak juga perlu belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.

Kelima, melarang anak pergi sendiri. Orangtua selalu menganggap jika anaknya belum bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Orangtua tidak akan membiarkan anaknya pergi sendiri atau bermain dengan teman-temannya dan memilih untuk selalu mengantar jemput ke mana pun anaknya pergi.

Dampak Negatif

Dampak negatif dari pola asuh ini adalah; pertama, anak lebih terburu-buru dalam mengambil keputusan. Peneliti dari University of Vermont menyebut orang yang terlalu mengontrol membuat anak rentan merasa cemas dan stres. Hal ini menjadikan mereka lebih kasar dan tidak sopan kepada teman-teman dan membuat mereka lebih sering mengambil keputusan secara terburu-buru dan lebih mudah marah akibat hal sepele. Hal ini berlanjut bahkan ketika mereka dewasa.

Kedua, anak tidak mandiri. Anak tidak terbiasa mengambil keputusan dan menyerahkannya ke orangtua. Hal ini sangat berbahaya karena kepribadian anak menjadi tidak berkembang dan memiliki kemampuan mengambil keputusan yang lemah.

Ketiga, tidak percaya diri. Intervensi orangtua yang terus-menerus membuat anak menjadi tidak percaya diri. Hal ini terjadi karena anak tidak diberikan tanggung jawab atas diri. Ketidakpercayaan orangtua kepada anak inilah yang sebenarnya membuat anak menjadi tidak percaya pada dirinya sendiri.

Keempat, anak menjadi pemberontak. Seorang anak mungkin akan diam jika menerima orangtua yang otoriter dan terlalu protektif. Mereka akan menuruti setiap perintah dan larangan yang kita sampaikan pada mereka serta patuh tanpa perlawanan. Tetapi suatu saat mereka akan menjadi pemberontak karena merasa tidak tahan dengan sikap orangtuanya.

Ketika balita anak belum mampu bertanya mengapa mereka dilarang dan diperintah, tetapi seiring bertambahnya usia pertanyaan di dalam pikiran mereka pun akan semakin besar dan ketika orangtua tetap tidak dapat memberikan penjelasan yang dapat diterima oleh akal mereka, maka mereka akan menjadi sosok pemberontak yang liar dan sukar dikendalikan.

Kelima, masa depan anak tak bahagia. Dr Mai Stafford dari University College London melakukan penelitian kepada 5.000 orang yang lahir pada tahun 1946. Dr Stafford melakukan survei terhadap pola asuh orangtua dan bagaimana kehidupan anak bertahun-tahun kemudian. Penelitian Dr Stafford menemukan bahwa orangtua yang mengedepankan kehangatan dan responsif memiliki anak yang lebih bahagia, lebih sehat secara mental, dan lebih puas menjalani hidup ketika dewasa.

Sebaliknya, orangtua yang mengekang anak ternyata membuat anak tidak bahagia dan tidak puas akan hidupnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perasaan ini, antara lain ketergantungan yang tinggi terhadap oran tua dan tak bisa mengambil keputusan itu sendiri.

Keenam, ketakutan orangtua akan menular ke anak. Ketika orangtua terlalu protektif pada anak, keinginan untuk melindungi anak dengan alasan takut pada hal-hal negatif pada anak tanpa disadari ditularkan orangtua pada anak. Perilaku orangtua yang terlalu takut justru akan membentuk anak menjadi pribadi yang penakut dan pengecut dalam mencoba sesuatu yang baru.

Ketujuh, tidak dapat mengambil keputusan sendiri. Bertanya pada orangtua ketika akan memutuskan sesuatu itu tidak masalah karena artinya anak menghargai keberadaan orangtuanya sebagai penasihat hidupnya. Tetapi anak yang dididik dengan pola asuh ini akan selalu bertanya bahkan untuk hal-hal sepele dalam hidupnya. Hal ini dapat dikarenakan anak ragu karena tidak memiliki kepercayaan pada diri sendiri atau takut apabila anak mengambil keputusan yang tidak dapat diterima oleh orangtuanya.

Kedelapan, kecemasan anak meningkat. Sejumlah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Minnesota, Amerika Serikat membuktikan bahwa orangtua yang terlalu protektif terhadap anak-anaknya dapat menyebabkan ketidakstabilan emosi dan perilaku yang menyimpang pada anak. Hal ini memicu tingkat depresi dan kecemasan pada anak.

Kesembilan, life-skill tidak berkembang. Jika orangtua selalu membantu anak menyelesaikan masalah hal ini membuat anak tidak berkembang karena kesempatannya untuk mempelajari sesuatu yang baru menjadi terbatas.

Menghindari dan Menghentikan

Orangtua tentu tidak ingin anak menjadi pribadi yang manja dan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Oleh sebab itu, berhentilah menerapkan pola asuh over protektif atau helicopter parenting sejak saat ini. Berikut cara menghindari atau menghentikan tipe parenting ini:

Pertama, meredam rasa khawatir yang berlebih. Salah satu alasan utama mengapa orangtua secara sadar atau tidak sadar menerapkan helicopter parenting adalah karena rasa khawatir dan rasa bersalah orangtua yang berlebihan. Kebanyakan orangtua menyesali kegagalan yang mereka buat di masa lalu dan tidak ingin hal itu terjadi pada anak. Rasa bersalah itulah yang pada akhirnya menimbulkan kecemasan yang berlebih saat mengasuh anak.

Kecenderungan orangtua untuk melarang dan membatasi gerak gerik anak membuatnya jadi tidak berkembang. Oleh sebab itu, berusahalah meredam rasa khawatir dan coba memberikan kepercayaan kepada anak.

Kedua, berhenti selalu membantu anak. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda untuk menyelesaikan suatu persoalan. Jika ia mengalami kegagalan, percayalah bahwa suatu saat ia kan berhasil dengan caranya sendiri. Jika orangtua terus menerus membantu anak, ia tidak akan belajar dari kegagalannya dan terus bergantung pada orangtuanya. Jadi, sebaiknya ganti kata 'membantu' dengan 'mengamati', karena dengan begitu orangtua telah memberikan ruang gerak pada anak tanpa meninggalkannya sendirian saat mengalami kesulitan.

Ketiga, hargai usaha dan keputusan anak. Tumbuhkan rasa percaya diri dalam diri anak dengan menghargai tiap usaha dan keputusan yang ia ambil. Tidak perlu dibantu apalagi dikomentari, orangtua hanya perlu meyakinkan anak untuk terus berusaha menjalani apa yang sudah dipilihnya. Jika pada akhirnya keputusannya salah, jangan menyalahkan atau memarahinya. Akan lebih baik jika orangtua menanyakan bagaimana perasaannya dan menyemangatinya untuk berusaha lagi di lain kesempatan.

Khawatir kepada anak adalah salah satu bentuk rasa sayang orangtua. Tetapi jangan karena rasa sayang yang berlebihan, anak menjadi kehilangan aturan dan tanggung jawab atas dirinya sendiri serta selalu bergantung dengan orangtua. Jadilah orangtua yang bijak dalam mendidik anak.

Berikan anak kesempatan untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Jangan terlalu memaksa untuk selalu masuk dalam kehidupan anak, dan jangan jadikan penyesalan atas kegagalanmu menjadi patokan dalam mendidik anak, karena anakmu bukan kamu dan setiap anak memiliki caranya sendiri dalam melakukan dan mencapai segala sesuatu serta memiliki cara yang beragam dalam menyelesaikan segala masalah.

Miccha Pujiyanti mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

(mmu/mmu)