Sentilan Iqbal Aji Daryono

Kemewahan-Kemewahan yang Tak Lagi Sama

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 08 Sep 2020 16:57 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Saya menuliskan huruf-huruf ini dalam rasa gelisah dan terburu-buru. Lima jam lagi saya harus berangkat ke Surabaya, naik bus malam, untuk selanjutnya dengan pesawat melompat ke Mataram. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan di sana. Dan tiba-tiba, saya merasa perjalanan kali ini tak senyaman biasanya.

Sebelum-sebelumnya, saya selalu bepergian dengan riang gembira. Saya sangat doyan jalan-jalan. Saya sering menabung keras cuma buat agenda jalan-jalan. Bahkan berkali-kali, ketika ke luar kota apalagi ke luar pulau, komposisi waktu yang saya alokasikan adalah satu banding dua. Misal dua hari mengurus pekerjaan, maka empat hari kemudian saya harus berjalan-jalan.

Tapi, hari ini beda. Apa lagi kalau bukan karena korona?

Dua hari yang lalu saya sudah ambil rapid test sebagai syarat penerbangan. Disusul dengan bekal segepok vitamin dan sanitizer dari istri, berlembar-lembar masker dari ibu saya, juga pengukur kadar oksigen tubuh dari adik saya. "Ati-ati beneran lho, Pak jangan seenak-enaknya sendiri. Ingat protokol. Mau pakai face shield? Mau ya?" kata istri saya. Tampak sorot tak ikhlas mengintip dari sudut matanya.

Perjalanan ini tampaknya memang bakalan menegangkan. Belum lagi, saya tak kebagian kursi kereta, sedangkan bus adalah moda transportasi antarkota yang, se-eksekutif apa pun, tetap bisa dibilang paling sudra; tak ada distancing-distancing-an di sana.

Tiba-tiba saya merasa, perjalanan, piknik, tamasya, melancong ke tempat-tempat jauh, akan segera kehilangan nuansa luxury-nya. Ia bukan lagi aktivitas untuk bersenang-senang. Ia akan merosot derajat kemewahannya, sampai ke beberapa level di bawah sepedaan keliling kompleks, atau mendekam seharian nonton Netflix.

"Lho, tapi kan nanti selepas korona semua akan kembali seperti semula!" kata Anda.

Oh, keren, Anda memang tipe manusia yang sangat optimistis dan percaya diri. Saya salut sekali. Selepas korona? Kapan? Apakah hari itu memang akan datang?

***

Orientasi hidup manusia sangat dipengaruhi oleh konsep kemewahan yang ada dalam diri dan pikiran-pikirannya. Orientasi itulah yang menggerakkan segenap tindakan penting dalam hidupnya.

Seorang pemuda desa memilih merantau ke kota karena baginya yang mewah-mewah itu ada di kota. Dari kota, dia bisa memimpikan mobil sekinclong punya Raffi Ahmad, juga rumah semegah milik Atta Halilintar. Dia mungkin tak pernah membayangkan bahwa tinggal di desa tanpa mobil mahal, dengan sawah yang menguning dan air di parit yang bening adalah juga satu jenis kemewahan.

Makan daging juga jenis kemewahan. Boleh jadi ada peran cita rasa di sini, namun jangan lupa bahwa selera yang dibentuk dalam masa yang sangat panjang adalah juga bentukan konfigurasi tren-tren di ranah sosial, bukan melulu perkara realitas objektif yang ngendon di lidah. Maka harga daging pun jadi mahal, orang membelanjakan banyak uang untuk membeli daging, dan hajatan-hajatan perkawinan yang minim menu daging akan membuat para tetangga sibuk bergunjing.

(Saya jadi ingat seorang kawan saya, orang India beragama Sikh, vegetarian total, yang dengan berbinar-binar menyebutkan menu favoritnya dengan sorot mata yang seolah yakin bahwa saya pasti satu selera juga dengannya: "I love pumpkin!")

Seorang kawan yang desainer hebat dengan karya-karya desain yang berkali-kali memenangi lomba level nasional, bahkan tak sedikit yang dengan mudah menembus pasar desain internasional, memilih menutup biro desainnya. Dia banting setir mendaftar jadi abdi negara.

"Bagaimana pun bapakku lebih bangga kalau aku jadi pegawai negeri, Bro. Bapak bisa menjawab dengan jelas kalau ditanya tetangga apa pekerjaan anaknya," kata dia. Memang, bagi banyak orang, berangkat ke kantor tiap pagi dan pulang tiap sore dengan baju seragam instansi adalah kemewahan.

Beberapa pekan lalu, saya berbincang panjang dengan kawan saya yang lain, seorang intelektual pilih tanding yang agaknya punya konsep kemewahan sendiri. Dia kepingin punya warung kopi, menghidupi kegiatan membaca dan diskusi di warungnya itu sambil mengajar di kampus dan bebas semau-maunya mengkritik negara. Itu hidup yang mewah sekali, menurut dia. Sampai kemudian dia bilang kepingin punya ladang singkong yang luas sembari membayangkan bakalan banyak orang makan singkong sambil melupakan beras.

"O, tidak semudah itu, Fernando," ucap saya. Saya bilang, untuk menggeser pola dan selera konsumsi orang-orang di sini, di Jawa apalagi, bukan cuma butuh ketersediaan bahan konsumsi. Setidaknya sejak Pak Harto meraih penghargaan swasembada pangan dari FAO, pembudayaan beras dan nasi sudah merajalela hingga sudut-sudut negeri. Dan sejak saat itulah, menu utama kita ya nasi, selera karbohidrat kita ya nasi, dan orang belum akan merasa makan kalau belum menyantap nasi.

Hasilnya, singkong pun turun kelas. Dia jadi makanan pokok kelas dua. Saya ingat, dalam sebuah tayangan Laporan Khusus di TVRI ketika saya SMP, Yang Terhormat Bapak Presiden Soeharto berbicara dengan seorang anak, sambil memamerkan senyumnya yang hangat-hangat gimana itu. "Saya dulu makan singkong, tapi nyatanya sekarang jadi presiden!"

Betul, sekilas kalimat itu ingin mengangkat citra singkong. Tapi coba cermati lagi, ada makna halus lain di situ. Dengan menjejerkan dua fakta yaitu "makan singkong" dan "jadi presiden", sedangkan kata hubungnya adalah "tapi", berarti makan singkong semestinya bukan penyebab dia jadi presiden. Dengan kata lain, di situ yang sedang diunggulkan adalah kualitas pribadi dan perjuangan seorang manusia bernama Soeharto, yang karena kehebatannya ia tetap bisa jadi presiden meskipun makannya "cuma" singkong!

Jadi, apakah kalimat itu sedang memuji singkong? Rasanya tidak, Alfredo!

Maka, ketika misi menyebarkan singkong di hari ini coba ditempuh dengan produksi dan pemasaran saja tanpa diimbangi dengan revolusi selera alias pendobrakan atas standar kemewahan dalam makanan, sepertinya ia cuma jadi cita-cita yang terlalu berat untuk diwujudkan.

Kecuali, ya, kecuali korona akan menjadikan orang kesulitan mengakses nasi, sampai-sampai singkong di depan mata berubah jadi santapan yang mewah sekali.

***

Sudah dua jam saya menulis. Ini kemewahan untuk saya. Mengeram di rumah berhari-hari, nge-Zoom sesekali, menulis, membaca buku, dan menonton film kalau pas lagi santai, sambil bermain bersama dua anak saya dan kelinci-kelinci kami, adalah kemewahan tak tertandingi.

Dan, kemewahan itu harus saya tinggalkan selama lebih dari sepekan. Mulai besok pagi, saya terpaksa harus piknik dan jalan-jalan.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)