Kolom

Pulsa dan Problem Belajar

Muh Tamimuddin H - detikNews
Senin, 07 Sep 2020 14:00 WIB
Kemendikbud memberikan bantuan kuota internet gratis kepada para siswa, guru, mahasiswa, dan dosen. Salah satunya diberikan melalui kartu perdana gratis.
Pelajar mendapat kartu perdana dan kuota internet gratis untuk belajar online (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengumumkan akan memberikan bantuan pulsa yang totalnya mencapai triliunan rupiah kepada para siswa, guru, dan pelaku pendidikan lain dalam upaya membantu proses belajar di masa pandemi ini. Pemberian pulsa diharapkan akan dapat menjembatani akses ke sumber belajar yang selama ini dinilai menjadi salah satu penghalang dan dikeluhkan banyak pihak.

Apakah kebijakan ini akan efektif memecahkan masalah belajar tentu tidak akan dapat dinilai secara dini. Untuk menilai efektivitas belajar dan kaitannya dengan pulsa (ataupun teknologi secara umum) kita tidak lepas dari pertanyaan mendasar tentang apa itu sesungguhnya definisi "belajar." Tanpa memahami makna belajar akan sulit bagi kita untuk dapat menilai keberhasilan ataupun kegagalan dari suatu proses pembelajaran.

Makna Belajar

Belajar itu apa? Ini pertanyaan penting bagi semua stakeholder pendidikan dan semua pihak yang punya hubungan langsung ataupun tidak langsung. Ada banyak ahli yang mendefinisikan apa makna belajar, dari definisi yang sederhana sampai yang kompleks. Menurut salah satu definisi dari Merriem-Webster, misalnya, belajar dimaknai sebagai "memperoleh pengetahuan atau keterampilan baru melalui proses pembelajaran (instruction) atau proses belajar (study)."

Definisi yang lebih komprehensif, yang sering dikutip para praktisi, salah satunya adalah definisi yang diungkapkan Richard E. Mayer. Menurut Mayer (dalam Learning in Encyclopaedia of Educational Research), belajar adalah "perubahan yang relatif menetap (permanen) dalam pengetahuan atau perilaku seseorang karena suatu pengalaman." Definisi Mayer ini menempatkan pemahaman inti makna belajar yaitu adanya perubahan pada seseorang.

Perubahan itu memiliki tiga komponen utama. Pertama, durasi perubahan bersifat jangka panjang dan bukan jangka pendek. Kedua, lokus perubahan adalah isi dan struktur pengetahuan dalam ingatan atau perilaku pembelajar. Ketiga, penyebab perubahan adalah pengalaman pembelajar di lingkungannya.

Dengan pemahaman definisi belajar semacam itu, bayangkan suatu skenario di mana ada seorang siswa disuruh mengerjakan soal pilihan ganda secara online. Di setiap pilihan jawaban pertanyaan, dia dapat merujuk ke bahan ajar (digital maupun non-digital). Anak ini membaca satu soal, mencari jawabannya, lalu mencontreng salah satu pilihan yang sesuai. Selesai menjawab satu soal, ia melanjutkan ke soal berikutnya dengan cara yang sama sampai semua soal selesai dijawab lalu jawaban di-submit.

Skor terpampang jelas, nilai 100. Anak senang karena beban tugasnya selesai dan ingin segera bermain, orangtua senang anaknya sudah belajar, guru senang karena target capaian terpenuhi. Tapi apa yang terjadi ketika beberapa waktu kemudian (katakanlah beberapa jam setelah ia mengerjakan tugas), anak ditanya soal yang sama, ternyata ia gelagapan tidak mampu menjawab alias lupa sama sekali.

Pada kasus ini, dengan merujuk definisi belajar di atas, jelas terlihat bahwa proses perubahan sebagai proses inti belajar tidak terjadi. Siswa gagal mengingat apa yang dipelajari. Persoalannya semakin kompeks ketika dihadapkan pada tujuan belajar yang lebih luas lagi, misalnya kemampuan berpikir aras tinggi.

Dengan adanya pulsa dan koneksi tercepat sekalipun, kegagalan belajar semacam ini tidak akan serta merta diatasi, mengingat problem utamanya bukan di situ.

Masalah Sistemik

Di masa pandemi dengan kondisi yang memaksa untuk melaksanakan pembelajaran secara jarak jauh (PJJ), yang dalam praktiknya seringkali dimaknai lebih sempit lagi sebagai pembelajaran online (daring), kita menemui sekian banyak kendala dan keluhan, dari masalah teknis semisal akses internet, pusingnya orangtua dan guru, hingga masalah utamanya, kegagalan belajar siswa.

Kegagalan belajar sesungguhnya bukan sepenuhnya dominasi pembelajaran online, namun sangat mungkin jadi juga terjadi dalam pembelajaran konvensional, hanya saja pembelajaran online menjadikannya lebih parah. Pembelajaran online-nya sendiri, dalam pengertian teknologi, sebenarnya bukan masalah. Teknologi hanya alat yang sebenarnya banyak membuka peluang baru. Namun, kebermanfaatan teknologi bergantung kepada siapa dan bagaimana menggunakannya.

Problem dari kegagalan belajar adalah masalah sistemik dan harus ditelaah dengan cermat dan komprehensif. Salah satunya dengan melacak dari praktik pembelajaran selama ini. Dalam pelaksanaan pembelajaran secara umum, kita jamak menemukan pola-pola pembelajaran berorientasi mengerjakan soal.

Siswa tidak atau kurang diajarkan hal-hal mendasar mengenai konsep dan prinsip, namun lebih banyak penekanan untuk kemampuan menjawab soal. Ini menjadi masalah ketika siswa dihadapkan dengan masalah yang berbeda dengan soal yang biasanya diajarkan. Siswa tidak mampu mentransfer pengetahuan ke konteks lain atau konteks nyata. Indikator kegagalan ini dapat dilihat, misalnya, dari skor TIMMS dan PISA, di mana kemampuan literasi, numerasi dan penalaran siswa Indonesia masih sangat rendah.

Pembelajaran online (dan PJJ secara umum) membuat kondisi semakin parah dengan hilangnya beberapa fungsi pendukung belajar yang hilang atau berkurang secara signifikan, misalnya, penyampaian konten materi yang tidak optimal, interaksi (siswa-guru atau antarsiswa) yang jauh berkurang, umpan-balik dari guru yang tidak memadai, hingga masalah-masalah terkait motivasi.

Problem lain yang dapat berpotensi memperparah keadaan adalah adanya keyakinan bahwa penerapan teknologi yang semakin canggih akan otomatis menyelesaikan semua masalah. Keyakinan salah ini sudah ditengarai jauh-jauh hari oleh Pappert (1990) yang menyebut fenomena ini sebagai teknosentrisme. Kita harus berhati-hati dengan jebakan asumsi-asumsi salah semisal kalau anak-anak sudah diberikan laptop atau ponsel pintar dengan pulsa berlimpah, maka masalah belajar akan terselesaikan.

Teknologi memiliki banyak kelebihan dan potensi besar. Namun, kemampuan teknologi akan menjadi masalah baru jika penggunanya tidak tepat atau malah salah dalam memanfaatkannya. Lepas dari teknologi, tiga komponen pembelajaran utama yang saling berinteraksi haruslah menjadi perhatian utama, yaitu guru, siswa dan konten.

Teknologi (termasuk pulsa), sepenting apapun itu, tetap hanya berfungsi menjadi alat. Ibarat kita membangun jalan tol yang mampu dilalui truk tronton, namun kalau kita hanya mampu melewatkan gerobak yang ditarik kerbau maka kemampuan jalan tol tadi menjadi jauh dari optimal. Pemanfaatan teknologi tanpa menjawab permasalahan utama pembelajaran tidak akan memberikan dampak yang optimal.

Muh Tamimuddin praktisi pendidikan, tinggal di Sleman, Yogyakarta

(mmu/mmu)