Pustaka

Menggugat Kenormalan di Masyarakat Secara Halus

Wahid Kurniawan - detikNews
Sabtu, 05 Sep 2020 12:00 WIB
gadis minimarket
Jakarta -
Judul Buku: Gadis Minimarket (Convenience Store Woman); Penulis: Sayaka Murata; Penerjemah: Ninuk Sulistyawati; Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2020; Tebal: 160 Halaman.

Kita mungkin sering mendengar bahwa ekspektasi orang lain menjadi patokan pencapaian masa depan seseorang. Mereka, baik dari pihak keluarga ataupun orang-orang sekitar, memberi keharusan tertentu supaya kita layak dipandang sebagai orang yang "normal" di masyarakat. Dalam hal ini, normal setidaknya mencangkup tiga hal: karier yang moncer, berkeluarga, dan berpenghasilan tetap.

Di luar kriteria itu, atau bila hidup tidak memenuhi ketiganya, orang-orang dapat dengan leluasa melabeli kita dengan citra yang buruk. Mencerap dari persoalan inilah, Sayaka Murata menghidupkan sosok yang menjadi anomali dan dianggap aneh oleh masyarakat dalam diri Keiko Furukura, si gadis minimarket.

"Hari itu, aku terlahir sebagai bagian yang normal dari masyarakat," ujar begitu ia kali pertama bekerja di Smile Mart Stasiun Hiromachi. Momen itu teramat penting baginya, sebab di tempat itulah ia merasa diakui. Setelah sekian tahun dianggap agak aneh oleh orang-orang di sekitarnya dan merasa bahwa ia tak memiliki eksistensi di tengah masyarakat, kesempatan untuk menjadi pegawai minimarket seolah menjadi tiket untuk mengatasi itu semua.

Di sana, ia belajar bagaimana menjadi manusia yang tampil menarik, ramah, dan dapat diandalkan. Untuk itu, ia seolah baik-baik saja ketika waktu terus melesat dan mendamparkan dirinya sebagai perempuan berusia 36 tahun yang masih menyandang status lajang.

Soal definisi kenormalan ternyata tak berhenti begitu ia menjadi pegawai minimarket. Sebab masih saja, label "tak normal" melekat dalam dirinya, demi fakta usia dan status lajangnya itu. Di balik punggungnya, orang-orang tetap menganggapnya anomali, dan sekalipun ia telah dibekali alasan dari adiknya apabila persoalan itu disinggung dalam satu obrolan, lambat-laun, itu menggelisahkannya juga. Terlebih, saat pria bernama Shihara masuk ke dalam kehidupan Keiko.

Sayaka Murata rupanya tak hanya merepresentasikan anomali itu dalam dari Keiko seorang. Tidak lain, sosok yang menjadi sorotannya adalah Shihara, sosok pemuda yang tak berbeda jauh dengan Keiko: berusia kepala tiga dan masih lajang. Pertemuan keduanya pun terjadi di minimarket tempat Keiko bekerja.

Saat itu, Shihara mendaftar sebagai pegawai paruh waktu di sana, tetapi ia memiliki kinerja yang buruk, bahkan rekan-rekan kerja Keiko menilai pemuda itu pemalas, payah, dan mengundang masalah. Hal itu tak sepenuhnya salah, sebab alasan Shihara bekerja di minimarket itu adalah menguntit gadis-gadis yang menarik perhatiannya. Dan, bila dapat, Shihara ingin menjadikan gadis itu pasangan hidupnya. Sebab ia ingin memenuhi kriteria kenormalan di masyarakat.

"Makanya aku menikah supaya mereka tak lagi mengomentariku," katanya.

Namun, Shihara adalah tipe pembual yang tak menunjukkan usaha apa-apa. Sayaka Murata sepertinya sengaja memunculkan tokoh ini sebagai cetak biru manusia malas yang sesungguhnya: terlalu banyak berangan, tapi minim usaha. Hal ini misalnya muncul dalam monolog Shihara:

"Aku ingin calon yang kaya karena aku punya ide bisnis. Tapi, aku tak bisa menjelaskan secara mendetail karena tak ingin ada yang meniru. Dan aku berharap calon istriku bisa memodali ide bisnisku itu. Ideku pasti berhasil dan itu akan membungkam keluhan orang lain."

Atas tabiatnya itu, ia pun dipecat dari tempat kerjanya, lalu luntang-lantung di jalan. Untungnya, Keiko mendapati pemuda itu sepulang dari minimarket, dan dengan polosnya ia menawari pemuda itu menginap di tempat tinggalnya. Bermula dari kondisi tinggal satu atap ini, keduanya makin dekat dan menemukan persoalan yang sama di dalam diri mereka masing-masing: dipandang tak normal oleh masyarakat.

Karena itulah, gagasan menikah dikemukakan oleh Keiko kepada Shihara, demi membebaskan status mereka. Dan, kendati Shihara berdalih tak tertarik dengan Keiko, tapi perempuan itu berhasil meyakinkannya bahwa, "Menikah itu persoalan dokumen, terangsang adalah fenomena biologis."

Terang, kemudian, menyelami kisah Keiko dan Shihara ini merupakan pengalaman yang unik. Murata Sayaka mengemas novelnya tidak melulu bermuatan serius, tapi pula disisipi humor dan sindiran terhadap masyarakat dewasa ini.

Berbeda dengan dengan tokoh-tokoh serupa dari penulis Jepang lain, Haruki Murakami misalnya, yang sering menyikapi perbedaan dan kesendirian dengan sikap tak acuh atau memilih hidup soliter. Di novelnya ini, Murata Sayaka menunjukkan kepedulian tokohnya terhadap masyarakat yang mereka hadapi. Tersingkirkan memang nasib mereka, tapi sepanjang kisah yang mengalun tenang, kita akan dihadapkan pada adegan demi adegan tokoh-tokohnya yang berusaha supaya diterima oleh masyarakat.

Persoalan pun menjadi runyam ketika Keiko terpaksa keluar dari minimarket tempatnya bekerja selama ini. Ia keluar dari tempat yang kali pertama menjadikannya merasa normal, diterima masyarakat, dengan label "pegawai minimarket". Hal itu lantas membuat hidupnya sedikit tak terkontrol: alarm yang tak lagi berbunyi dan rutinitas yang mandek. Namun, ia memang mesti melakukannya, sebab ingin menyenangkan orang-orang di sekitarnya dan menjadi menusia normal (sesungguhnya).

Ia mengikuti seluruh saran yang diberikan Shihara: sebelum menikah ia mencari pekerjaan lain terlebih dahulu.

Sampai di situ, kita lantas bertanya-tanya, mengapa Keiko sedemikian polosnya? Bahkan, tampak mudah sekali "dibodohi" oleh Shihara? Tapi ternyata, bagi Keiko sendiri, sepertinya itu bukanlah masalah, sebab timbal balik yang ia dapat dari Shihara adalah pemuda itu bersedia memainkan peran sebagai manusia normal di masyarakat: berkeluarga dengannya.

Pembaca barangkali akan membenci tokoh Shihara di novel ini. Bukan saja karena perangainya yang malas itu, melainkan pula tindakannya yang terlihat jelas tengah memanfaatkan Keiko. Namun, kiranya fokus Murata Sayaka tak bisa hanya kita layangkan pada penggambaran tokoh Shihara seorang. Penulis membawa sesuatu yang lain, sebuah gebrakan yang ia sisipkan di dalam novel setebal 160 halaman ini. Itu tergambarkan setidaknya tatkala Keiko hendak menghadiri wawancara kerja.

Saat itu, sembari menunggu jam wawancara, ia mampir sejenak di minimarket yang letaknya tak jauh dari sana, dan begitu ia memasukinya, jiwa pegawai minimarket dalam dirinya bergejolak saat mendapati sedikit kekacauan di susunan barang di minimarket itu. Keiko, tanpa diperintah siapa pun, tergerak untuk merapikan itu semua. Ia melakukannya seolah masih menyandang pekerjaannya dulu. Setelahnya, ia merasakan kembali gairah yang belakangan menyusut dan mengacaukan siklus hidupnya.

Atas kejadian itu, Keiko menyadari bahwa, "Aku lebih dari sekadar manusia: aku adalah pegawai minimarket. Sekalipun sebagai manusia aku abnormal, aku tak bisa lari dari kenyataan itu sekalipun tidak bisa menghasilkan banyak uang dan harus mati kelaparan. Semua sel di tubuhku ada untuk minimarket."

Benar, ia mengerti dengan baik hidup macam apa yang mesti dijalani. Di sinilah, Murata Sayaka seolah ingin menunjukkan lewat tokoh Keiko bahwa kenormalan yang diciptakan suatu masyarakat tak bisa memuaskan seluruh penghuninya. Untuk itu definisi hidup nyaman dan normal mesti digali dalam diri masing-masing. Dan di minimarket, Keiko telah menemukan tempat yang membuatnya merasa menjadi manusia seutuhnya.

Wahid Kurniawan penikmat buku, mahasiswa sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia

(mmu/mmu)