Kolom

Angka itu Sudah Menjadi 104

Lutfi Nur Farid - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 15:00 WIB
nakes corona
Foto: IDI
Jakarta -

Tahun 1967. Space race antara dua negara adidaya sedang panas-panasnya. Uni Soviet memimpin atas Amerika Serikat dengan mengirim Yuri Gagarin 6 tahun sebelumnya menjadi manusia pertama yang keluar angkasa. Leonid Brezhnev, pemimpin Uni Soviet saat itu, tiba-tiba punya ide merayakan ulang tahun Revolusi Komunis Rusia yang ke-50 tahun dengan menciptakan rekor baru, yakni menerbangkan dua pesawat berawak ke luar angkasa. Keduanya akan bertemu, dan kosmonot dari keduanya akan bertukar tempat. Mungkin seperti trapeze, tapi ribuan kali lebih tinggi dan lebih rumit.

Yuri Gagarin, sang pahlawan nasional, terpilih sebagai pilot cadangan. Pilot utamanya Vladimir Komarov, teman dekatnya. Saat Komarov dan teknisi senior memeriksa ulang pesawatnya, Soyuz 1, mereka menemukan 203 kesalahan desain. Pesawat itu tidak layak terbang, dan misi harus ditunda, namun siapa berani memberitahu Brezhnev? Komarov menulis memo 10 halaman untuk Brezhnev, namun semua yang membacanya dipecat atau dimutasi ke Siberia.

Komarov tidak bisa mundur. Dia tahu penggantinya bila mundur adalah Gagarin, temannya sendiri. Gagarin ingin maju. Dia yakin birokrat Soviet tidak akan mengambil risiko membunuh pahlawan nasional mereka. Komarov tidak mau mengambil risiko membahayakan temannya. Dia tahu bila dia berangkat dia tak akan kembali dengan selamat. Dia hanya berpesan agar saat persemayamannya peti matinya dibuka, sehingga pemimpin Soviet tahu apa yang mereka lakukan.

Saat hari peluncuran tiba, Gagarin datang dan memaksa dia yang berangkat. Komarov bergeming, dia pun terbang. Di atas sana satu solar panel tidak berfungsi, stabilisator tidak berjalan, sehingga pesawat dijalankan secara manual. Soyuz 2 yang seharusnya berangkat setelahnya untuk memperbaiki pesawat gagal berangkat karena badai. Misi pun dibatalkan, Soyuz 1 diperintahkan untuk pulang, namun saat masuk atmosfer, parasutnya tidak berkembang.

Soyuz 1 menghantam bumi dengan kecepatan 140 km per jam. Roketnya menyala dan membakar kapsulnya hingga logam-logamnya meleleh. Di peti mati Komarov yang terbuka hanya ada potongan tubuh 30x80 cm, tidak bisa dikenali karena menjadi arang.

Membaca berita bahwa sudah lebih dari seratus dokter di Indonesia yang meninggal akibat Covid, saya tiba-tiba mengingat cerita itu. Ambisi penguasa, budaya "asal bapak senang", birokrat dan kepala daerah yang mengamankan posisi mereka sendiri, rencana yang teknisnya bolong di mana-mana namun semua kritik dan saran diredam, dan yang menjadi korban adalah mereka yang mengambil risiko di garis terdepan dan mempertaruhkan nyawanya.

Ada yang mengusulkan memberi mereka gelar pahlawan, namun saya yakin keluarga lebih memilih mereka hidup --seandainya itu bisa. Ada yang ingin mempersembahkan konser untuk pahlawan kesehatan, namun saya yakin semua yang kehilangan saudara atau pasangan mereka karena wabah ini lebih merasa dihormati bila semua diam dan menahan diri di rumah. Ada yang berteriak bahwa HAM tenaga kesehatan dilanggar, namun saya yakin semua tenaga kesehatan lebih memilih kebebasan berpendapat, bila itu termasuk menganjurkan antimasker dan menyebarkan teori konspirasi sementara diabaikan.

Maaf, itu semua asumsi saya. Saya yakin saya orang terakhir yang layak menulis ini karena banyak orang yang berkorban begitu banyak dan mengambil risiko begitu besar, namun memilih tetap diam dan bekerja.

Suatu hari pada Mei, setelah laporan pagi, saya berjalan menemani guru saya. Kami beriring dalam diam dengan masker ganda ketat di wajah. "Lutfi, kamu tahu kenapa ruang isolasi itu harus dijaga jangan sampai melebihi kapasitas saat ini?" tiba-tiba beliau bertanya.

Saya tidak tahu dan bertanya balik, "Kenapa, Dokter?"

"Karena pada suatu titik di pandemi ini, ruangan itu akan berisi dokter, perawat, tenaga-tenaga kesehatan saudara-saudara kita yang sama-sama berjuang, dan tidak mungkin kita menolak karena alasan penuh. Kapasitas cadangan itu pasti akan terpaksa kita gunakan."

Saya terdiam. Bulan berikutnya titik itu sudah terlampaui. Prediksi beliau dengan cepat menjadi kenyataan. Kombinasi healthcare burden melebihi kapasitas --entah penilaian pemerintah dari mana yang mengaku berhasil, APD yang layak kadang harus diupayakan sendiri, dan jam kerja yang tinggi dan menguras stamina membuat nakes makin banyak tertular. Yang ingin cuti saja selama pandemi masih memikirkan beban kerja dan risiko rekannya yang ditinggal, seperti Gagarin dan Komarov.

Sebagian teman dan saudara saya menjadi pasien, sebagian besar menjadi penyintas, sebagian kecil meninggal dunia. Tidak ada satu pun yang menganggap ini hanya penyakit sepele seperti flu, bahkan yang bertanggung jawab adalah orang yang bilang flu masih lebih mematikan, tapi entah kenapa yang dituduh beliau adalah ketidakdisiplinan nakes. Seolah flu bisa membunuh bila Anda tidak disiplin.

Semua suara teredam dan nakes yang berjuang hanya mengelus dada melihat di dunia luar kehidupan sudah seperti kembali normal. Angka kasus baru terus meningkat, tapi seolah tidak ada lagi pihak yang peduli. Semua sudah bosan dan ingin kembali hidup normal, dengan mendengarkan jaminan kosong dari pemerintah. Pemerintah yang bahkan masih berani mengaku mereka tidak memilih ekonomi ataupun kesehatan.

Saat saya selesai menulis ini, angka itu sudah menjadi 104. Secepat itu.

Lutfi Nur Farid dokter, membaca apapun dan sesekali menulis

(mmu/mmu)