Kolom

Ketika TikTok Menguasai Industri Musik

Tahta Rizki - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 13:57 WIB
TikTok Bantah Tuduhan Bagikan Data Pengguna India ke Pemerintah Cina
Foto: DW (News)
Jakarta -

You know that I won't stop until I make you mine

Aku suka body goyang mama muda...mama muda

Tidakkah Anda mendengar penggalan lirik itu bergema di mana-mana? Tak peduli itu di televisi, radio, bahkan dari smartphone di genggaman sendiri. Mungkin saat Anda rehat dan menyimak deretan lagu hits di Spotify, apa yang Anda lihat? Lalu simak dan dengarkan baik-baik, daftar lagu yang nangkring di deretan lagu teratas.

Kadang kita merasa heran, kenapa lagu-lagu tersebut bisa duduk tenang di tahtanya sebagai lagu paling hits. Simak saja lagu Public - Make You Mine yang masih setia di chart Spotify Top 50 Indonesia (hingga tulisan ini dibuat), atau Weird Genius bersama Sara Fajira yang turut mencetak hits lewat karya EDM rasa lokal yang berjudul Lathi. Atau, Anda heran mengapa rilisan lawas Taylor Swift - Love Story justru turut menjadi bagian dari Top 50 Hits di berbagai music streaming?

Jika Anda pengguna setia TikTok, tentu tak terkejut melihat fenomena tersebut. Setidaknya, bagi Anda yang merupakan penonton setia berbagai suguhan video dari TikTok. Mengingat aplikasi TikTok kini lebih populer ketimbang Instagram. Menurut riset SensorTower (2020), TikTok menjadi aplikasi paling banyak diunduh di seluruh dunia, yakni sebanyak 105 juta kali pada Januari lalu. Dengan begitu, TikTok berhasil mengalahkan Facebook dan Instagram yang berada di posisi kedua dan ketiga.

Kelebihan lain dari aplikasi video sharing ini tampaknya berangkat dari keterbukaannya terhadap siapapun penggunanya. Jika Anda anak muda, tak perlu heran melihat ayah dan ibu yang sedang santai membuka aplikasi TikTok. Toh, konten yang disajikan pun bakal berbeda. Iorio (2020) menuturkan bahwa aplikasi TikTok menjangkau seluruh generasi dari berbagai usia, ras, maupun seksualitas. Sehingga, kecanggihan algoritma TikTok menjadi poin krusial dalam menyajikan konten berdasarkan preferensi tiap pengguna.

Menjadi Bagian Penting

Dalam artikelnya di InTheKnow.com, Thompson (2020) menulis bahwa musik selalu menjadi bagian penting dari TikTok. Jika menilik lagi sejarah aplikasi viral ini, mungkin Anda masih ingat aplikasi serupa bernama Musical.ly. Tampaknya, pada 2017 aplikasi tersebut diakuisisi oleh ByteDance. Sehingga pada 2018 mereka bergabung dan dirilislah aplikasi TikTok yang tak pernah lepas dari musik dalam berbagai macam video lipsync maupun video joget yang viral. Aplikasi ini selalu fokus pada musik.

Kekuatan musik dalam TikTok bahkan diakui oleh berbagai music marketer di luar sana. Contohnya Cody Patrick, seorang music marketer yang pernah bekerja dengan rapper Young Thug dan T-Pain. Dilansir InTheKnow, menurutnya dalam mempromosikan karya musik, TikTok merupakan platform berbasis musik yang cemerlang. Sebab, setiap posting-an videonya selalu berasosiasi dengan musik tertentu. Entah itu dari lagu yang mereka buat, maupun lagu yang telah disediakan oleh TikTok.

Lagu Old Town Road milik Lil Nas X yang sukses besar pada 2018 merupakan awal TikTok merajai industri musik. Dilansir Time pada 2019, sang penyanyi mem-posting lagu tersebut di TikTok sembari berharap supaya viral. Dan, lagu tersebut lantas viral sungguhan. Lil Nas X melihat lagunya menjadi trending topic berkat berbagai posting-an video TikTok. Ia menilai bahwa momen tersebut merupakan momen paling gila dalam hidupnya.

Kuasa TikTok pun berlanjut dengan karya musik lainnya di kemudian hari. Seperti rilisan Justin Bieber berjudul Yummy yang viral di awal 2020 berkat #YummyChallenge. Begitu pula dengan lagu lain seperti The Box milik Roddy Rich dan Say So milik rapper pendatang baru Doja Cat. Berkat video-video challenge yang viral di TikTok, mereka mampu meraih posisi teratas di tangga lagu Billboard Hot 100 di Amerika Serikat. Kesuksesan yang sama juga diraih oleh musisi populer lain seperti The Weeknd dan Dua Lipa.

Uniknya, TikTok juga mampu membangunkan kembali lagu hits lawas. Seperti lagu Love Story oleh Taylor Swift yang dirilis pada 2008. Lagu yang menjadi hits di masanya, kini pun kembali populer. Hal ini berkat berbagai video viral TikTok yang menggunakan versi remix dari lagu tersebut. Lantas, lagu versi aslinya pun kembali duduk manis di berbagai tangga lagu music streaming.

Di Indonesia, industri musiknya juga tak luput dari pengaruh besar TikTok. Bahkan lagu lawas seperti Bagaikan Langit oleh Potret berhasil menembus luar negeri. Hal ini disebabkan oleh adanya challenge dengan menggunakan backsound lagu tersebut yang telah di-remix. Bahkan challenge lagu itu juga dipraktikkan oleh musisi dunia papan atas, yakni Jennifer Lopez dan Ne-Yo.

Adapun beberapa hits lain yang mencuat berkat TikTok, pada Juni lalu, lagu Rossa berjudul Hati Yang Kau Sakiti kembali populer, juga karya Weird Genius dan Sara Fajira berjudul Lathi yang populer berkat challenge make-up di TikTok berjudul #LathiChallenge. Selain itu, musik dangdut juga kerap menjadi lagu hits berkat TikTok. Salah satu yang paling populer adalah lagu berjudul Siapa Benar, Siapa Salah oleh Happy Asmara.

Mulai Dikomersilkan

Melihat kekuatan tersebut, musisi pun mulai memaksimalkan platform TikTok sebagai media promosi rilisan karya mereka. Dilansir InTheKnow (2020), Cody Patrick selaku bagian marketing musik menilai bahwa tidak ada standar tertentu untuk lagu TikTok. Namun ia menemukan pola tertentu untuk mendeskripsikan lagu TikTok. Ia menggunakan kata danceable, bouncy, dan simple. Dengan kalimat lain, lagu TikTok acap merupakan lagu yang simpel dan mampu mengajak pendengar untuk bergoyang.

Atas kekuatan tersebut, berbagai musisi mulai mengkomersilkan lagunya melalui aplikasi TikTok. Contoh musisi papan atas yang mengikuti tren ini adalah Justin Bieber. Kritikus menilai lagu Yummy yang dirilis akhir 2019 lalu sengaja didesain sebagai lagu TikTok yang viral. Dugaan ini diperkuat dengan adanya #YummyChallenge di TikTok, ditambah sang musisi turut menghimpun berbagai video challenge tersebut dalam suatu unggahan video kompilasi.

Sementara tuduhan serupa turut ditujukan pada rilisan terbaru Drake, pada lagunya yang berjudul Tossie Slide, yang pada lirik dan video musiknya termuat instruksi untuk melakukan gerakan tari tertentu, layaknya menari di video TikTok.

Startegi marketing musik yang mereka lakukan tersebut bisa dinilai sama-sama berhasil. Pasalnya, lagu-lagu tersebut meraih posisi teratas di berbagai chart musik. Namun, tak sedikit juga yang menerapkan strategi serupa tapi tak begitu berhasil seperti yang diharapkan.

Di Indonesia, beberapa musisi pun turut mempromosikan karyanya melalui TikTok. Seperti yang baru-baru ini, Marion Jola yang mengajak netizen untuk ikut berjoget TikTok dengan lagu barunya berjudul Aduh.

Pada akhirnya, kita harus setuju bahwa kini TikTok berjasa besar dalam kesuksesan bagi industri musik. Hal ini mengingatkan kembali bahwa zaman sekarang sungguh berbeda dari sebelumnya. Pada dekade 90-an musisi berlomba melakukan promosi karyanya melalui klip video yang tayang di MTV. Kini cukup dengan membuat suatu challenge tertentu, atau video viral di TikTok, yang memuat lagu yang dipromosikan sebagai backsound. Sang musisi pun mendulang pundi-pundi besar berkat viralnya lagu tersebut di TikTok.


(mmu/mmu)