ADVERTISEMENT

Kolom

Ekspektasi Rasional Kebijakan Fiskal

Rinaldi - detikNews
Rabu, 02 Sep 2020 15:30 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -
Apa yang terjadi hari ini sangat bergantung kepada ekspektasi apa yang akan terjadi di masa depan, namun apa yang terjadi di masa depan juga bergantung kepada apa yang terjadi hari ini.

Kutipan di atas diambil dari sebuah buku makroekonomi karangan Blanchard dan Johnson, bab penjelasan tentang ekspektasi rasional dari sebuah model makroekonomi yang dikembangkan oleh para ahli ekonomi dalam sejak 1970 sampai sekarang. Banyak model makroekonomi yang dipecahkan dengan menggunakan asumsi ekspektasi rasional.

Pada 14 Agustus 2020 lalu, Presiden Joko Widodo telah menyampaikan pidato kenegaraan di depan Sidang Paripurna DPR tentang RUU APBN 2021 dan nota keuangannya. Ada hal yang menarik dari asumsi indikator ekonomi makro yang disampaikan oleh Presiden dalam pidatonya, yaitu tingkat pertumbuhan ekonomi yang dipatok di angka 4,5% - 5,5%.

Beberapa pengamat ekonomi menyebutkan, target itu terlalu tinggi di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19. Ditambah lagi realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Semester II - 2020 mengalami kontraksi mencapai -5,3%. Syahdan, target pertumbuhan ekonomi pada 2020 sebagaimana disampaikan Menkeu kepada Banggar DPR pada 18 Juni 2020 sebesar -0,4% - 1%.

Artinya, pada 2021 ekonomi Indonesia harus tumbuh 4-5 kali lipat dari realisasi ekonomi pada 2020. Mungkinkah target pada 2021 itu dicapai, atau dalam jangka pendek, apakah Indonesia bisa menghindari resesi ekonomi pada 2020?

Gelombang Optimisme

Dinukil dari artikel Thomas J. Sargent, ekspektasi rasional pertama kali diperkenalkan oleh John. F Muth pada awal 1960. Dia menjelaskan bahwa teori ekspektasi rasional ini adalah situasi ekonomi ketika outcome akan tergantung sebagian kepada apa yang orang harapkan. Bahkan Keynes mengibaratkan teori ini sebagai gelombang optimisme dan pesimisme yang dapat menentukan tingkat dari aktivitas ekonomi.

Teori ini juga bisa menjadi landasan untuk mengetahui apakah kebijakan ekonomi yang diambil oleh sebuah pemerintah adalah sebuah kebijakan yang baik atau malah menjadi kebijakan yang buruk.

Kembali ke target ekonomi Indonesia pada 2021, dengan angka yang bisa dibilang cukup optimistis, bisa dibilang bahwa pemerintah memberikan gelombang optimisme kepada seluruh pelaku ekonomi di dalam negeri dan dunia. Ini artinya ada sebuah harapan dan juga tantangan yang sangat besar untuk bisa merealisasikannya. Dan, dalam hal ini menurut saya pemerintah sedang menerapkan ekspektasi rasional melalui RAPBN 2021.

Pemerintah tentu tidak sembarangan menempatkan angka 4,5% - 5,5% sebagai target ekonomi pada 2021. Presiden menyebutkan bahwa konsumsi domestik dan investasi akan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi pada 2021. Kedua indikator ini membutuhkan semangat optimisme untuk bisa tumbuh, dan di sini peran dari target ekonomi 2021 dalam hal menumbuhkan semangat untuk meningkatkan konsumsi dan investasi.

Realisasi APBN 2020 sampai dengan Juli menunjukkan statistik bahwa perekonomian mengalami pemulihan seiring dengan meredanya wabah Covid-19, aktivitas manufaktur global menunjukkan perbaikan, pun Indonesia, yang juga sudah menunjukkan perbaikan. Indeks keyakinan konsumen pada Juli juga mengindikasikan optimisme konsumen membaik, penjualan mobil membaik, konsumsi listrik juga mengalami kenaikan.

Dengan beberapa indikator yang membaik ini, pemerintah menyakini bahwa target ekonomi 2021 dapat dicapai dengan memanfaatkan rebound ekonomi dan diharapkan menciptakan kurva pertumbuhan ekonomi menyerupai huruf "V", yang artinya setelah resesi yang dalam terjadi dalam waktu cepat, ekonomi akan kembali ke posisi semula dengan cepat pula.

Namun perlu diwaspadai kurva ini malah akan membentuk logo Nike, yang artinya ekonomi akan kembali ke posisi semula namun dalam waktu yang lama. Atau, lebih buruk membentuk huruf L, yang artinya ekonomi tidak akan pernah kembali ke posisi semula.

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT