Kolom

Uji Kemanjuran Obat

Zulham Yamamoto - detikNews
Senin, 31 Agu 2020 13:00 WIB
Presiden Joko Widodo tinjau fasilitas produksi vaksin COVID-19. Jokowi turut saksikan proses penyuntikan vaksin Corona yang tengah dalam tahapan uji klinis itu.
Presiden Jokowi meninjau proses uji klinis vaksin corona di Bandung (Foto: Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Sesuatu yang tidak betul sedang terjadi dalam dunia kesehatan Indonesia. Ada yang dengan mudah mengatakan orang-orang yang datang kepadanya menderita pneumonia, cirroshis hepatis, atau kanker padahal ia tidak pernah menggenggam ijazah dokter. Istilah-istilah tadi adalah istilah medis. Sepatutnya, hanya orang yang memenuhi kompetensi dokter yang dapat menegakkan diagnosis dan menggunakan istilah tersebut untuk kepentingan pengobatan.

Masih ada orang yang terlalu mudah bicara tanpa memahami makna dan prosedur di balik istilah-istilah medis. Sering kali, seorang dokter hanya mampu menggunakan kata "suspek" sampai hasil-hasil pemeriksaan laboratorium dan waktu mendukung diagnosis.

Apalagi pada zaman pandemi Covid-19 dan media sosial sekarang ini. Mungkin mudah saja bagi sebagian orang menyatakan bahwa produk yang dibuatnya manjur sebagai obat untuk penyakit tertentu. Namun, tahukah kita bagaimana rumitnya agar produk itu dinyatakan benar-benar bermanfaat dan dapat disebut obat?

Pengujian adalah sebuah cara yang tepat untuk menentukan produk tersebut sudah layak dinyatakan sebagai obat. Harus disadari seluruh komponen masyarakat, proses penemuan obat adalah proses panjang dengan kendali yang rumit. Bagi perusahaan dan negara, nilai investasinya sangat besar sehingga tidak mudah mendapat satu obat penyakit. Jangan lupa, setiap penelitian dalam satu tahap uji memerlukan kelulusan etika dari komite etik. Berikut proses-proses uji pada kandidat obat.

Pengujian in vitro

Pengujian in vitro dilakukan sebelum pengujian in vivo. Pengujian in vitro dilakukan dalam lingkungan yang terkendali dan berada di luar makhluk hidup. Karena dikerjakan dalam cawan petri, tabung, atau labu yang terbuat dari bahan kaca membuat kondisi pengujian in vitro tidak menyerupai keadaan asli suatu makhluk hidup. Oleh karena itu, pengujian in vitro dapat menyebabkan hasil yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, seperti yang terjadi dalam makhluk hidup.

Sebagai contoh pengujian in vitro adalah pengujian kandidat antibiotika yang dilakukan pada cawan petri berisi bakteri. Jika berhasil, kandidat antibiotika itu akan membunuh bakteri dengan menimbulkan zona jernih di sekitar/daerah koloni bakteri yang sudah dikultur sebelumnya.

Jika ingin menguji efek antivirus, maka peneliti akan menandur sel-sel inang, menginfeksi mereka dengan virus, lalu memberi kandidat obat antivirus dan menentukan perkembangan sel-sel inang berisi virus. Bayangkan, mengkultur bakteri dan sel-sel inang saja sudah rumit. Apalagi, membuat uji in vitro.

Jika pada tahap ini berhasil, maka ada banyak uji lainnya yang perlu dilakukan untuk memastikan kestabilan kandidat obat pada beragam pH atau pengaruh enzim. Pada tahap ini pula mulai dikarakterisasi sifat fisik, kimia, biologi kandidat obat. Kandidat obat mulai dinilai efeknya terhadap target molekul, mekanisme kerja, efektor di tingkat sel dan molekuler.

Pengujian pada Hewan Coba

Pengujian in vivo menggunakan makhluk hidup. Pengujian in vivo cocok untuk mengamati efek kandidat obat pada makhluk hidup. Ada dua bentuk pengujian in vivo, yaitu pengujian pada hewan coba dan uji klinis. Beragam jenis hewan laboratorium seperti mencit, tikus, kelinci, atau hewan-hewan lain yang memiliki kemiripan sistem fisiologis dengan manusia dapat digunakan.

Dengan teknik biologi molekular mutakhir, hewan-hewan laboratorium bisa dimodifikasi secara genetik untuk menunjukkan karakter penyakit tertentu. Hewan yang sudah dimodifikasi ini disebut sebagai hewan model. Contohnya, mencit atau tikus bisa direkayasa agar menunjukkan karakter diabetes mellitus, penyakit lupus, atau kanker.

Rute pemberian obat sudah mulai dipertimbangkan pada tahap ini. Kalau kandidat obat diberikan melalui saluran pencernaan, maka lambung dan usus akan menguji kandidat obat ini. pH lambung, cairan empedu, atau enzim-enzim di usus akan berinteraksi dengan kandidat obat. Jika kandidat obat itu kemudian bisa diserap oleh usus maka hati bisa memodifikasi kandidat obat itu menjadi tak bermanfaat, biasa saja, atau lebih bagus atau berkemungkinan toksik pada hati, ginjal, dan berbagai organ lain.

Efek sistemik kandidat obat akan terlihat mulai dari hati, ginjal, otak, dan organ-organ lain di seluruh tubuh karena kandidat obat diedarkan ke seluruh tubuh melalui darah. Pada fase ini pula dapat mulai dinilai efek samping kandidat obat di berbagai organ dan pada berbagai dosis. Termasuk efek mengakibatkan kecacatan janin (teratogenesis). Hewan model dapat di-euthanasia untuk mendapatkan sampel biologi dan menunjukkan bukti.

Meskipun hasil pengujian in vivo bisa menunjukkan potensi kandidat obat, namun kesimpulan pengujian in vivo bisa menyesatkan. Misalnya, satu kandidat obat dapat menunjukkan manfaat dalam jangka pendek, tetapi kandidat obat itu berbahaya bagi makhluk hidup dalam penggunaan jangka panjang. Jika sudah menunjukkan hasil yang bagus dalam kedua pengujian in vitro dan hewan cobat, kandidat obat dapat diuji pada relawan manusia (uji klinis).

Penelitian Eksplorasi

Tahap awal dari pengujian pada manusia disebut dengan penelitian eksplorasi. Kadang-kadang disebut pula sebagai 'Percobaan Tahap 0' atau studi pendahuluan. Pengujian ini dilakukan sebelum Uji Klinis Tahap 1 dan digunakan untuk menguji bagaimana tubuh merespons obat/terapi dalam percobaan.

Dalam tahap ini, dosis kecil dari kandidat obat diberikan sekali atau untuk waktu yang singkat untuk jumlah orang yang sangat terbatas. Uji di tahap ini hanya berlaku untuk kandidat obat yang sudah lolos pada tahap pengujian in vitro dan hewan coba. Jadi, tidak bisa dan tidak boleh ada upaya untuk langsung masuk ke tahap uji klinis bila kandidat obat belum lolos/melalui tahap-tahap in vitro dan hewan percobaan.

Uji Klinis

Uji klinis adalah pengujian pada relawan manusia untuk menjawab pertanyaan tertentu dalam bidang kesehatan. Uji klinis yang dilakukan dengan hati-hati adalah cara tercepat dan paling aman untuk menemukan pengobatan yang bermanfaat bagi manusia. Uji klinis menentukan apakah pengobatan atau cara-cara terapi baru adalah aman dan efektif.

Semua uji klinis harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah dan etika yang ketat. Setiap uji klinis harus memiliki protokol, atau rencana aksi yang menggambarkan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pengujian, bagaimana hal-hal itu akan dilakukan, dan mengapa setiap bagian dari pengujian diperlukan. Kriteria pasien, jadwal tes, prosedur, dan obat-obatan, penanggung jawab pengujian dan lama penelitian menjadi sebagian dari kelengkapan uji klinis.

Uji Klinis Tahap 1

Uji klinis tahap 1 dilakukan untuk menguji kandidat obat/terapi baru untuk pertama kalinya. Relawan manusia yang diikutsertakan berjumlah beberapa puluh orang. Uji klinis tahap 1 dilakukan untuk mengevaluasi keamanan (misalnya untuk menentukan rentang dosis yang aman, efek samping, dan cara terbaik pemberian obat). Di tahap inilah diupayakan menemukan dosis terbaik obat baru dengan efek samping paling sedikit.

Dokter memulai dengan pemberian dosis obat yang sangat rendah kepada beberapa pasien. Dosis yang lebih tinggi diberikan kepada pasien lain sampai efek samping menjadi terlalu parah atau efek yang diinginkan terlihat. Obat dapat membantu pasien, tetapi uji klinis tahap 1 bertujuan menguji keamanan obat, bukan tujuan mengobati/terapetik. Jika suatu kandidat obat ditemukan cukup aman, ia dapat diuji dalam uji klinis tahap 2.

Uji Klinis Tahap 2

Uji klinis tahap 2 dilakukan dalam kelompok relawan manusia yang lebih besar (beberapa ratus orang). Jadi, lebih besar dari tahap 1. Tahap 2 ini dimaksudkan untuk menentukan kemanjuran (yaitu apakah kandidat obat/terapi bekerja sebagaimana dimaksudkan atau menentukan dosis kandidat obat yang tepat pada penyakit tertentu) dan untuk mengevaluasi lebih lanjut keamanannya.

Seringkali, kombinasi obat baru diuji. Pasien diawasi dengan ketat untuk melihat apakah obat itu bekerja. Namun, obat baru jarang dibandingkan dengan obat standar (obat untuk penyakit) yang digunakan. Jika suatu obat terbukti bekerja dengan baik, obat itu dapat diuji dalam uji klinis tahap 3.

Uji Klinis Tahap 3

Uji klinis tahap 3 dilakukan untuk mempelajari efektivitas kandidat obat/terapi baru dalam kelompok besar relawan manusia (beberapa ratus hingga beberapa ribu orang) dengan membandingkan dengan obat/terapi standar lain (yang sudah digunakan lama). Jadi, semacam pengujian apakah kandidat obat bersifat inferior atau superior kepada obat standar yang sudah ada. Uji klinis tahap 3 digunakan untuk memantau efek samping (apakah efek samping sedikit) dan mengumpulkan informasi tentang keamanan kandidat obat.

Seringkali, uji klinis tahap ini menggunakan desain acak. Sekelompok relawan dimasukkan ke kelompok yang mendapat obat standar dan sekelompok relawan lainnya mendapatkan kandidat obat. Relawan yang mendapatkan obat standar ditentukan secara acak. Pengacakan diperlukan untuk memastikan bahwa relawan di masing-masing kelompok mendapatkan kesempatan yang sama untuk kandidat obat atau obat standar. Pengacakan membuat para peneliti tahu bahwa hasil uji klinis tahap 3 disebabkan oleh perawatan (obat standar atau kandidat obat) dan bukan karena perbedaan antarkelompok.

Bisa jadi, ada lebih dari dua kelompok dalam uji klinis tahap 3. Kelompok kontrol mendapatkan perawatan standar. Kelompok-kelompok lainnya mendapatkan kandidat obat baru. Relawan dan dokter tidak dapat memilihkan kelompok untuk seorang bahkan tidak akan tahu kelompok seseorang sampai uji klinis tahap 3 selesai. Setiap relawan dalam uji klinis tahap 3 diawasi dengan ketat. Uji klinis akan dihentikan lebih awal jika efek samping dari kandidat obat terlalu parah atau jika satu kelompok memiliki hasil yang jauh lebih baik.

Uji Klinis Tahap 4

Uji klinis tahap 4 dilakukan setelah kandidat obat diizinkan oleh institusi pengawasan obat (misalnya BPOM atau FDA) untuk dipasarkan kepada masyarakat, dan dapat disebut sebagai obat. Jumlah relawan penelitian dapat mencapai ribuan orang.

Pada tahap ini, uji dirancang untuk memantau efektivitas obat baru yang sudah disetujui untuk dikonsumsi masyarakat umum sekaligus mengumpulkan informasi tentang efek samping penggunaan obat baru dalam jangka pendek atau panjang. Hal ini didasari pada fakta bahwa beberapa efek samping yang jarang hanya dapat ditemukan pada sekelompok besar orang. Uji klinis tahap 4 juga dapat digunakan untuk menyelidiki potensi penggunaan obat baru dalam kombinasi dengan obat lain.

Zulham Yamamoto dokter umum dan doktor dalam Ilmu Biokimia dari Universiti Kebangsaan Malaysia, dosen pada Program Magister Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

(mmu/mmu)