Analisis Zuhairi Misrawi

Kesepakatan Damai Arab-Israel yang Tak Mendamaikan

Zuhairi Misrawi - detikNews
Jumat, 28 Agu 2020 08:10 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Pada 13 Agustus lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kesepakatan damai antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel. AS menganggap kesepakatan tersebut sebagai pencapaian yang spektakuler karena akan menjadi pijakan menuju perdamaian di Timur-Tengah. Tetapi sebagian besar pihak di Timur-Tengah menganggap langkah tersebut sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina menuju kemerdekaan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Semua maklum bahwa kesepakatan damai tersebut tidak ada kaitannya dengan perdamaian Palestina. Tidak pula terkait dengan perjuangan Palestina menuju kemerdekaan dari penjajahan Israel. Kesepakatan tersebut sebenarnya terkait dengan Trump yang sedang berjuang memenangkan kembali pilpres pada akhir November nanti.

Selama menjabat sebagai Presiden AS, Trump kerap mengeluarkan kebijakan unilateral yang merugikan Palestina dan menguntungkan Israel. AS menggunakan hak vetonya untuk memindahkan Kedutaan Besarnya dari Tel Aviv ke Jerusalem. AS secara aktif melakukan lobi-lobi terhadap negara-negara Arab untuk menyetujui Jerusalem sebagai ibu kota Israel, dan meminta Palestina untuk menerima ibu kota di luar Jerusalem dengan kompensasi bantuan yang konon mencapai 50 miliar dollar AS.

Kebijakan AS terhadap Palestina tersebut menimbulkan penentangan keras tidak hanya di seantero Timur-Tengah, tetapi juga di dalam negeri AS sendiri. Kebijakan Trump ditengarai dapat mengancam keamanan AS dan sekutunya. Langkah Trump menunjukkan bahwa ia tidak memahami sensitivitas isu Palestina terhadap keamanan global dan AS. Warga Arab dan Muslim di AS hampir dipastikan tidak akan memilih Trump karena sejumlah kebijakannya sangat merugikan mereka.

Tidak ada hujan dan tidak ada angin, Trump mengambil langkah yang sangat kontras. Ia mengumumkan kesepakatan damai antara UAE dan Israel. Ironisnya, kedua negara ini tidak pernah terlibat konflik. Bahkan, secara diam-diam kedua negara sudah melakukan hubungan diplomatik dan kerja sama dalam berbagai sektor. Semua tahu, jika ada main mata antara UAE dan Israel.

Jadi kesepakatan damai di antara kedua negara tersebut sebenarnya merupakan sesuatu yang sudah terjadi dan pengumuman Trump hanya bersifat formalitas.

Trump berdalih kesepakatan damai merupakan pijakan awal untuk menghentikan aneksasi dan pembangunan pemukiman ilegal di Tepi Barat. Hal ini juga terasa aneh, karena aneksasi dan pembangunan pemukiman ilegal yang berlangsung 53 tahun lamanya tidak ada kaitannya dengan UAE.

Masalahnya terletak pada Israel yang secara agresif ingin menguasai Palestina, khususnya Tepi Barat. Saat Obama menjabat sebagai Presiden AS, sikapnya sangat tegas bahwa aneksasi dan pembangunan ilegal di Tepi Barat merupakan pelanggaran yang tidak bisa ditoleransi. Meskipun demikian, Israel terus melanjutkan pembangunan pemukiman ilegal. Apalagi saat Trump berkuasa, Israel semakin leluasa melanjutkan pembangunan ilegal tersebut.

Netanyahu menjadikan aneksasi dan pembangunan pemukiman ilegal di Tepi Barat sebagai isu sentral untuk mendapatkan dukungan politik dari sayap fundamentalis Yahudi. Konon, saat Trump mengumumkan kesepakatan damai antara UAE dan Israel, Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Israel tidak diberi tahu terlebih dahulu, termasuk kompensasi penghentian sementara pembangunan pemukiman ilegal di Tepi Barat.

Hal tersebut semakin menegaskan, bahwa penghentian pembangunan ilegal di Tepi Barat hanya isapan jempol belaka. Tidak ada tanda-tanda yang dapat meyakinkan Israel akan mematuhi kesepakatan tersebut. Apalagi pihak Palestina sama sekali tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan lahirnya kesepakatan damai tersebut.

Jadi, dari skenario yang bersifat eksplisit dan implisit di balik kesepakatan damai antara UAE dan Israel tidak memberikan penjelasan apa-apa, kecuali upaya Trump untuk mendulang keuntungan elektoral dalam pilpres AS yang akan datang. Anehnya lagi, yang mengumumkan kesepakatan damai bukan kedua negara yang hendak berdamai.

Kenapa justru Trump yang mengumumkan perdamaian?

Sejujurnya, kesepakatan damai yang ditunggu-tunggu publik adalah antara Israel dan Palestina. Setidaknya implementasi kesepakatan damai yang sudah dicapai pada 2002 di Arab Saudi. Israel berjanji akan menjamin kedaulatan Palestina atas Jalur Gaza dan Tepi Barat. Faktanya, sejak kesepakatan itu ditanda-tangani justru Israel selalu menodai kesepakatan damai. Jalur Gaza terus digempur, dan Tepi Barat dianeksasi dengan membangun pemukiman ilegal.

Setiap Israel menandatangani kesepakatan damai, dan saat itu pula Israel melanggar kesepakatan. Penjajahan Israel di bumi Palestina tidak pernah berhenti sejak 1948, saat negara Israel berdiri pertama kali. Sebab itu, langkah UAE membuka hubungan diplomatik dengan menggunakan narasi kesepakatan damai dengan Israel merupakan sinetron politik yang sudah berlangsung lama.

Pada 1979, Israel menandatangani kesepakatan damai dengan Mesir. Lalu, pada 1994, Israel berhasil mencapai kesepakatan damai dengan Jordania. Kesepakatan damai tersebut sama sekali tidak menguntungkan Palestina. Yang diuntungkan pertama-tama adalah negara yang melakukan kesepakatan damai dengan Israel. Maka dari itu, kesepakatan damai antara UAE dan Israel bukan dalam konteks kepentingan Palestina, melainkan dalam konteks kepentingan UAE dan Israel.

Manuver AS dan Israel selalu mendapat penentangan yang keras dari publik di seantero Timur-Tengah, bahkan dunia Islam. Tapi Israel tidak kehilangan akal. Mereka terus melakukan manuver dengan melobi dan membujuk para mitra strategis di Timur-Tengah, khususnya negara-negara Teluk untuk mendeklarasikan secara terbuka hubungan diplomatisnya. Kabarnya, Israel sedang membujuk Arab Saudi untuk menandatangani kesepakatan damai juga.

Walakin, langkah yang diambil Trump dan sekutunya di Timur-Tengah ini tidak akan memupuskan spirit perlawanan terhadap Israel dan AS di kawasan. Ada dualisme sikap politik antara para elite dengan warga terhadap Israel. Para pemimpin di negara-negara Teluk cenderung ingin membuka hubungan diplomatis dengan Israel, tetapi warga memilih untuk menolak berdamai dengan Israel. Mereka menyebut perjuangan mewujudkan kemerdekaan Palestina merupakan mimpi dunia Arab (al-hilm al-'araby).

Tidak lama setelah kesepakatan damai antara UAE dan Israel muncul suara-suara sumbang dan sumbing, bahwa langkah yang diambil UAE sangat mengoyak-ngoyak hati nurani warga Arab. Para monarki hanya ingin meraih keuntungan semu. Semua tahu bahwa kesepakatan damai antara UAE dan Israel sama sekali tidak akan mewujudkan perdamaian di bumi Palestina.

Sebaliknya, kesepakatan damai tersebut hanya akan menyisakan luka Palestina yang semakin menganga. Perdamaian hanya sekadar mantra, tidak pernah menjelma sebagai fakta.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)