Kolom

Masihkah Ada yang Mau Menjadi Tenaga Kesehatan?

Marmi - detikNews
Kamis, 27 Agu 2020 14:58 WIB
Siswa SMK Kesehatan sedang mengikuti uji kompetensi bidang keahlian keperawatan
Jakarta -
"Saya sangat menyesal. Kalau dia jadi dokter hanya untuk mati, lebih baik dulu kubiarkan dia di rumah. Tidak usah kuliah."

Saya memang tidak mendengar ratapan itu secara langsung, tapi hati saya tetap ikut merasakan sakit. Teman saya yang bekerja sebagai tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit di Jakarta menceritakan itu.

Ratapan itu datang dari seorang bapak yang usianya telah mendekati senja. Ia meratapi kematian putri semata wayangnya akibat tertular Covid-19 saat sedang bertugas. Dia merasa sangat menyesal telah menuruti keinginan putrinya mengambil pendidikan dokter.

Pada hari lain, seorang teman mengirim pesan. Intinya, dia berhenti menjadi perawat. Pasalnya, calon mertua tidak menghendaki menantu yang bekerja sebagai tenaga kesehatan. Katanya, takut menularkan virus corona.

Sedangkan di tempat kerja, menurut dia, animo melanjutkan pendidikan pada bidang kesehatan sangat hangat diperbincangkan. Bahkan, ketika isu ini secara tidak sengaja saya lempar dalam forum arisan ibu-ibu RT, saya mendapatkan satu tanggapan yang mengagetkan. "Kalau kondisinya kayak gini, dikasih gratis juga nggak akan saya nyekolahin anak ke kesehatan."

Lebih Banyak Susahnya

Saya jadi merenung, membayangkan jauh ke beberapa tahun ke depan. Tiba-tiba saya menjadi gelisah, ragu-ragu apakah ke depannya masih banyak orang yang berminat menjadi tenaga kesehatan?

Faktanya menjadi tenaga kesehatan itu lebih banyak susahnya daripada senangnya. Saya paparkan dulu apa yang terjadi pada saya dan teman-teman saya rasakan sebagai sesama tenaga kesehatan.

Sebelum gelar itu kami dapat, kami harus menyelesaikan pendidikan formal. Itu tidak singkat dan biayanya pun mahal. Contohnya perawat vokasi, dia harus menyelesaikan pendidikannya dalam waktu tiga tahun. Biayanya bisa mencapai 50 hingga 60 juta. Belum termasuk biaya hidup sehari-hari dan kos-kosan.

Ketika menjalani praktik baik di rumah sakit maupun di klinik, kami melaluinya dengan tingkat stressor yang cukup tinggi. Mulai dari ketidakpercayaan diri, tugas-tugas administrasi, senior yang galak, hingga pasien yang menyepelekan. Semua bisa menjadikan otak yang semula tajam, tiba-tiba tumpul seketika.

Setelah lulus dan menyandang gelar, kami disumpah di atas ayat suci sesuai agama dan keyakinan. Itu bukanlah akhir. Kami masih harus mengikuti uji kompetensi untuk mendapatkan surat tanda registrasi. Dan itu tidak gratis. Baru setelah itu, kami bisa mencari kerja.

Kalau beruntung, kami akan mendapat pekerjaan yang sesuai. Kemudian, lima tahun berikutnya surat tanda registrasi harus diperpanjang. Kami harus mengumpulkan 25 Satuan Kredit Profesi (SKP). SKP dapat kami himpun dengan berbagai cara, seperti mengikuti seminar, pelatihan, pendidikan berkelanjutan, pelayanan, dan lain sebagainya. Tentu saja, itu semua tidak gratis.

Meskipun sudah mendapat pekerjaan, kebebasan finansial tidak serta merta kami dapatkan. Banyak dari kami yang gajinya hanya cukup untuk perjalanan, sedang tempat tinggal dan makan masih butuh pasokan. Atau hanya cukup untuk bayar kos-kosan, sedang lainnya mengandalkan kiriman.

Pekerjaan kami bukan hanya bermain-main sama infus dan suntikan. Kami juga memenuhi semua kebutuhan pasien, dari memberikan makan bahkan menyuapi hingga yang berkaitan dengan kamar mandi. Memandikan, mengurusi buang air besar dan air kecilnya juga. Di samping harus melakukan pemantauan kondisi umum pasien, seperti tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu badan.

Apalagi jika pasien hanya mampu terlentang di atas ranjang, nyaris seluruh kebutuhannya dibantu oleh kami. Apalagi jika keluarga tidak ada yang perduli. Ada yang seperti itu? Tentu, ada. Yang cerewet dan main perintah serta mudah menyalahkan pun tidak sedikit. Ini yang menyebabkan tenaga kesehatan rawan mendapatkan tuntutan hingga ke pengadilan.

Jam kerja tenaga kesehatan bergiliran --pagi, siang, dan malam. Terlalu sering kehilangan waktu untuk istirahat normal. Risiko kesehatan yang kami tanggung pun besar, tak sebanding dengan honor yang didapatkan. Mulai dari paparan zat kimia sintetik, risiko penularan penyakit, hingga kecelakaan kerja yang mengancam.

Semakin Tak Mudah

Setelah corona datang, menjadi tenaga kesehatan semakin tidak mudah. Protokol kesehatan yang harus kami jalankan menambah beban pekerjaan. Penggunaan APD yang lengkap, khususnya di ruang isolasi sejujurnya menyakiti. Wajah kami memerah, sebuah garis mirip sayatan pisau tajam bekas masker berlapis yang kami kenakan. Tubuh kami kadang dehidrasi, ada juga yang alergi hingga kulit gatal, panas, dan memerah.

Kami juga harus menahan lapar dan haus, bahkan buang hajat pun ditahan. Mengingat sekali APD menempel di badan, bila dilepas tidak boleh lagi dikenakan. Harga APD mahal. Satu APD menghabiskan hingga Rp 600 ribu. Itulah salah satu sebab tidak semua rumah sakit mampu menyediakan. Tak heran jika di sebagian rumah sakit tenaga kesehatan hanya memakai APD yang pas-pasan. Bahkan, ada yang hanya menggunakan jas hujan.

Menjadi tenaga kesehatan di masa pandemi, nyawa kami pertaruhkan, keluarga kami tinggalkan, dan sudah banyak dari rekan kami yang tidak bisa kembali dalam pelukan karena wafat duluan. Berpisahnya sehat, pulangnya hanya jasad tanpa boleh dilihat --selain peti yang dimasukkan ke dalam liang lahat, karena prosesi pemakaman tetap mengikut protokol pasien Covid-19.

Jika mujur, jasad rekan tenaga kesehatan kami yang telah wafat dapat dikebumikan di mana tempat. Tetapi, jika nasib berkata lain keluarga harus terima jika jasad pahlawan itu ditolak. Tidak hanya jasad yang ditolak, banyak rekan tenaga kesehatan kami yang diusir dari kontrakan, dari kos-kosan, hingga keluarga kami pun ada yang dikucilkan. Sungguh, menjadi tenaga medis di tengah corona tidak mudah, bukan?

Sudah berkorban, tapi gaji tidak diberikan pada waktu yang dijanjikan. Ada yang telat, bahkan ada yang belum dibayarkan. Padahal, tidak sedikit dari kami harus merogoh kocek sendiri untuk membeli APD, seperti gown, masker, face shield, sarung tangan, dan lainnya.

Eh, sekarang kami malah dituduh cari untung!

Tidak hanya itu, tuduhan konspirasi pun terus berdengung, hingga tuduhan menjadi antek WHO yang membuat kami bener-bener bingung. Memang, dipikirnya berurusan sama WHO semudah makan ikan kembung!

Sampai di sini saya jadi berpikir, dengan situasi seperti itu, apa iya, orangtua masih tertarik untuk menyuruh anak mereka sekolah atau kuliah di bidang kesehatan?
Marmi, S.ST, M.Kes mantan tenaga kesehatan, kini mendedikasikan hidupnya untuk keluarga dan pendidikan kesehatan

(mmu/mmu)