Sentilan Iqbal Aji Daryono

Jilbab Kerudung dan Pemaknaan yang Meleset

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 25 Agu 2020 16:20 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Hanya gara-gara film menyebalkan berjudul Tilik itu, terjadi geger di kampung kami. Mbak Noni dan Mbak Yuli terlibat perdebatan panjang di grup Whatsapp RT 36, dan kami yang menyimaknya jadi merasa nggak enak sendiri.

"Ini jelas film yang mendiskreditkan umat Islam, Mbak Yuli! Kalau memang tidak berniat begitu, tentunya si sutradara tidak akan menampilkan ibu-ibu berjilbab sebagai tukang gibah, kan? Tapi di situ para ibu berjilbab ditonjolkan gemar bergunjing. Padahal menurut ajaran Islam jelas sekali bahwa bergunjing itu ibarat memakan bangkai saudara sendiri. Apa-apaan maksudnya? Mau para muslimah ditampilkan sebagai tukang makan bangkai? Bukankah itu jelas menghina Islam?"

Mbak Noni yang pertama kali melemparkan pendapat seperti itu; pendapat yang langsung membuat saya bergidik ngeri.

"Lhooo, malah sebaliknya, Mbak Noni," Mbak Yuli menyambarnya. "Lihat, itu Dian yang dicap nakal itu digambarkan sebagai satu-satunya perempuan yang tidak berjilbab. Sedangkan yang diposisikan sebagai pengendali norma adalah mereka yang berjilbab. Artinya, justru ini arogansi kelompok beragama, dengan menampilkan bahwa yang tidak berjilbab itu tidak bermoral. Jangan kebalik dong!"

Saling sahut pun terus berlanjut, dan beberapa kali diwarnai tangkapan layar dari adegan di film yang mereka perdebatkan, untuk menjelaskan argumen masing-masing. Sudah mirip webinar saja.

Segala daya upaya sudah kami kerahkan untuk mengalihkan debat kusir itu. Mulai membagi info korona terbaru, sampai menyundul meme-meme lucu. Untuk nge-cut langsung terus-terang kami sungkan, karena kami belum begitu akrab dengan Mbak Noni dan Mbak Yuli. Mereka pendatang baru di sini.

Saya sempat men-japri Mas Sulis, Pak RT kami, agar menengahinya. Tapi Pak RT pun bingung. "Lha mereka itu pinter-pinter je, Mas. Saya mau membantah juga gimana. Kalau mau asal potong nanti saya malah dituduh arogan, tidak open minded, dan membungkam kebebasan berekspresi. Kan matek saya."

Maka, saya pun usul agar Pak Modin saja yang ambil situasi. Itu pilihan pas, karena Pak Modin sosok yang sangat dihormati. Tapi Mas Sulis mencegahnya. "Mas, ini kan masalah antara dua perempuan. Nanti kalau kita serahkan urusan ini ke Pak Modin bisa-bisa malah dituduh melanggengkan dominasi laki-laki, dan yang matek bisa lebih banyak lagi."

Wah, betul juga. Canggih juga pemetaan aktor yang dilakukan Pak RT. Akhirnya kami pun sepakat untuk mencolek Bu Warismi. Beliau lumayan senior, pernah kuliah di Fisipol UGM meski nggak lulus, dan yang jelas cukup dihormati karena sangat sering membantu pendanaan acara-acara kampung.

Bu Warismi ternyata setuju. Lalu muncullah chat-nya di grup. "Mbak Noni, Mbak Yuli, tunggu dulu. Sepertinya ada yang kurang pas dari cara pandang njenengan berdua soal jilbab di film itu nggih."

"Nggak pasnya di mana, Bu? Jangan-jangan Bu Warismi yang kurang peka saja," Mbak Yuli lebih dulu muncul. Saya curiga dia pegang hape 20 jam per hari.

"Gini lho, Mbak," Bu Warismi melanjutkan. "Kalau boleh menyarankan, mbok yao sesekali kita ini belajar berpikir sederhana. Di film itu yang tampil adalah ibu-ibu pedesaan, ya kayak kami-kami ini. Mbak Noni dan Mbak Yuli mungkin belum begitu masuk dalam atmosfer pikiran kami karena panjenengan berdua baru beberapa bulan di sini. Tapi, jilbab bagi kami-kami ini kan sebenarnya tidak persis sama pemaknaannya dengan penafsiran Anda-Anda berdua."

"Lho nggak sama gimana, Bu?" kali ini Mbak Noni yang nongol. Rupanya dia stand by juga. "Bukankah jelas jilbab itu ajaran Islam?"

"Iya, iya, betul banget, Mbak. Tapi di desa-desa, baik di Imogiri dan sekitarnya tempat ibu-ibu di film itu, di desa kita sendiri, maupun di banyak desa lain orang memaknai jilbab itu seringkali sebagai kerudung saja. Bukan persis sebagaimana Mbak Noni memaknai jilbab, eh hijab Mbak Noni sendiri, atau Mbak Yuli melihatnya sebagai bentuk standar moral yang diseragamkan."

Wah, ini! Bu Warismi sudah kelihatan jebolan Fisipolnya, batin saya.

"Kok gitu?" Pendek saja Mbak Yuli merespons.

"Lha ya memang gitu. Coba to mbok diperhatikan. Saya sendiri, juga banyak ibu yang lain di kampung kita, kalau keluar rumah untuk urusan sepele apa ya pada berkerudung to, Mbak? Saya kalau cuma keluar sebentar buat beli kerupuk di warung Mbak Yayuk mana pernah pakai kerudung? Mbak Siti juga, kalau pas nyuapin siapa itu anaknya yang kecil, juga nggak pernah tuh kerudungan. Padahal dia sering sampai keliling kampung, sambil anaknya nggenjot sepeda kecilnya. Eh, anak Mbak Siti tuh siapa ya namanya?"

"Kevin, Bu." Saya yang kali ini menimpali, sambil heran saja kok tega-teganya ada nama Kevin di kampung saya.

"O iya, Kevin. Nah, selama keluar rumah itu, memangnya pernah ada yang berkomentar miring sama Mbak Siti karena dia tidak menutup aurat? Gimana, Mbak Siti?"

Tak ada sahutan. Mungkin Mbak Siti kehabisan paket data.

"Dan," lanjut Bu Warismi, "Yang seperti itu bukan cuma saya dan Mbak Siti to? Hampir semua ibu-ibu di sini juga begitu. Nhaaa, begitu datang ke acara-acara khusus, misalnya nengok bayi, nyumbang manten, atau arisan dasawisma, ya kami pakai kerudung. Saya sendiri tidak menolak bahwa kerudung itu penutup aurat, dan itu ajaran Islam. Tapi ibu-ibu yang lain apa ya persis seperti itu cara melihatnya? Belum tentu to ya."

"Kok saya masih belum paham sampai di sini ya, Bu War. Maksudnya ibu-ibu yang lain itu tidak mengakui kalau jilbab ajaran Islam?" Mbak Noni yang dari tadi tampak typing akhirnya muncul lagi.

"Bukan begitu, Mbak, sabar dulu. Maksud saya, cara memperlakukan jilbab, atau saya lebih suka menyebutnya kerudung, di desa-desa itu tidak persis sama dengan pengalaman Mbak Noni dan kesaksian Mbak Yuli. Bagi kami, kerudung itu ya kostum yang mengekspresikan tata kepantasan pada lazimnya saja. Rasanya kurang sopan kalau datang ke acara agak resmi kok nggak kerudungan. Sudah sejak lama begitu je. Tapi kalau di luar acara resmi, kami tidak pakai, dan tidak pernah menjadi masalah."

"Tidak jadi masalah gimana to, Bu? Saya aja pernah ditegur tetangga, dibilang memamerkan aurat tuh," kali ini Mbak Yuli nongol.

"Ah, masak sih? Di kampung sini, Mbak?" tanya Bu Warismi.

"Oh, bukan, di kontrakan saya sebelumnya, Bu. Yang dekat kampus itu."

"Lhaaa, kan. Ya jangan di-gebyah uyah to, Mbak. Masyarakat di sana bagaimana, harus dilihat dulu. Jelas di sana itu daerah urban, perkotaan, sudah banyak sekali pendatang campur aduk, dan dekat banget dengan masjid yang kemarin buat kumpul pas pada mau demo sebelum korona itu. Tentu masyarakat sana jauh lebih heterogen, persentuhannya dengan kelompok-kelompok Islam modernis sudah sangat intens, dan wajar saja kalau jilbab dimaknai secara ketat sebagai penutup aurat oleh tetangga njenengan."

"Lha ya itu makanya saya pindah, Bu."

"Sik, bentar, Mbak, curhatnya nanti saja hehe," Bu Warismi mengembalikan perbincangan pada relnya. "Gini ya, Mbak. Hanya karena suatu simbol bermakna X di satu lingkup sosial, tidak lantas kita bisa memaknainya sebagai sama-sama X di lingkup-lingkup sosial yang lain. Bisa jadi Y, bisa jadi pula Z. Yang namanya norma kan konstruksi sosial, Mbak. Dan setiap konstruksi punya batasan ruang dan waktunya masing-masing. Lalu, hanya karena ada satu gejala A yang teramplifikasi sebagai sebuah fenomena massal di banyak tempat, tidak berarti secara otomatis gejala yang sama sudah pasti berjalan di tempat-tempat lainnya."

"Nyuwun ngapunten, Bu, mbok jangan pakai istilah yang berat-berat to. Nggak mudheng saya ini," Pak Modin menimpali, dan saya agak kaget karena ternyata beliau menyimak juga.

"Hihi iya maaf, Pak. Saya lanjutkan ya. Semoga nggak kelepasan lagi pakai istilah-istilah. Saya ambil contoh saja, meski mungkin nggak seratus persen mirip. Misalnya peci alias kopiah, Mbak Yuli. Pada awalnya dia dibawa pedagang Timur Tengah sebagai simbol Islam, diadopsi orang-orang Melayu, tapi kemudian sekarang dia menjadi kostum umum. Bapak-bapak di kampung kalau datang ke acara formal pada pakai peci semua. Muncul kesan kalau nggak pecian ya nggak sopan. Bahkan ini diikuti pula oleh bapak-bapak yang bukan muslim. Ya karena sudah jadi kostum nasional sejak zaman Bung Karno to?"

"Lho tapi kan peci bukan ajaran Islam, Bu," Mbak Yuli membantah.

"Lho kata siapa? Awalnya ya iya, karena pakai penutup kepala itu sunah Nabi. Tuh, kan sampai-sampai Mbak Yuli nggak tahu karena sudah saking lazimnya. Awalnya sunah saja, tapi lama-lama definisi itu mencair, dan cara masyarakat melihatnya juga bergeser. Nah, kira-kira posisi kerudung di desa-desa tuh sudah macam peci itu, Mbak. Bahwa menutup kepala itu sunah, ya jelas masih. Tapi bapak-bapak memakai peci sudah tidak selalu untuk tujuan sunah. Lebih kepada norma sosial pada umumnya. Demikian juga kerudung," lanjut Bu Warismi.

"Kalau saya sih lebih karena ribet banget kalau pakai konde kayak nenek saya dulu, Bu. Lebih praktis pakai kerudung hahaha!" ada satu chat menyambar, dari Bu Tuti. Bu Tuti ini guru senam, pendatang juga.

"Nah, kan. Itu Bu Tuti ngaku hehehe," Bu Warismi terkesan lega karena dapat pendukung.

"Tapi gini, Bu," Mbak Yuli lagi yang muncul. "Okelah misalnya kerudung memang sudah diposisikan sebagai norma sosial pada umumnya. Tapi perasaan ibu-ibu yang tidak suka pakai kerudung gimana? Bukankah itu artinya ada tekanan, bahkan pemaksaan diam-diam? Di situlah kemerdekaan pilihan-pilihan kita kaum perempuan sedang ditindas oleh wacana dominan, dalam hal ini tentu saja agama. Betul, kan?"

Beberapa detik berlalu. Tapi tak ada yang berani menyela. Sampai Bu Warismi typing lagi. "Tunggu dulu, Mbak. Tolong lagi-lagi kacamatanya dipaskan dikit. Sekali lagi, kerudung tidak sepenuhnya diposisikan sebagai ajaran agama di sini. Itu norma kepantasan dalam berpakaian saja. Nah, soal tekanan dan kemenangan wacana dominan, saya juga paham. Dikit-dikit saya juga pernah baca Foucault kok, Mbak, hehehe. Tapi, njenengan tidak lantas perlu melihat soal kerudung di desa-desa sebagaimana pemaksaan ajaran agama yang boleh jadi berjalan di tempat-tempat lain to. Pemaksaan dalam tanda petik, maksudnya. Sebab kalau semua kemenangan wacana dominan dianggap pemaksaan dan penindasan, bisa habis hidup kita untuk melawan apa pun, Mbak."

"Kok bisa, Bu? Bu Warismi mendukung penindasan?"

"Wueee jangan gitu, Mbak. Maksud saya, orang mengikuti norma lazim di sebuah masyarakat itu kan sangat mungkin ada keterpaksaan juga. Contoh, saat bapak-bapak datang ke acara resmi pakai celana panjang dan kemeja, misalnya, bisa jadi ada juga yang menjalaninya tanpa merasa suka."

Saya langsung teringat ketika suatu hari ditolak masuk Kantor Imigrasi Yogyakarta karena pakai celana pendek, dan terpaksa beli celana Pramuka di toko baju dekat pertigaan Maguwo. Jelas saya juga sangat terpaksa waktu itu.

"Atau," sambung Bu Warismi, "Anak-anak ke sekolah pakai sepatu, bukan sandal jepit. Bahwa di situ ada kemenangan wacana dominan, itu pasti. Tradisi bersepatu, berkemeja, dan bercelana panjang itu memangnya dibawa siapa? Ya orang-orang Barat, kan? Orang pribumi waktu itu nggak pakai kemeja dan celana pantalon. Bahkan sampai akhir abad ke-19 perempuan pribumi masih banyak yang telanjang dada, sampai kemudian oleh kolonial Belanda disuruh menutup payudara. Bukankah itu kemenangan wacana dominan juga? Tapi masak ketika hal-hal demikian sekarang sudah jadi kelaziman yang baik-baik saja, semua mesti kita lawan atas nama kemerdekaan diri? Bisa-bisa bukan kemerdekaan yang kita dapatkan, tapi malahan kita jadi tidak kompatibel secara sosial, Mbak."

Beberapa belas detik berlalu, tak ada yang chat lagi. Sampai tiba-tiba ada tanda orang left group. Waduh! Itu Pak Hardi. Disusul satu lagi, Mas Barman, satgas Covid kampung! Dua orang left group!

Saya seketika sadar, ngobrol yang berat-berat di grup Whatsapp kampung pun bisa membuat kita tidak kompatibel secara sosial....

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul, tetangga sekabupaten dengan Bu Tejo

(mmu/mmu)