Kolom

Menghidupkan (Kembali) Mata Pelajaran Pertanian di Sekolah

Iman Kurniawan - detikNews
Senin, 24 Agu 2020 12:10 WIB
berkebun
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Dahulu, pada tahun 1990 saat masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) betapa menyenangkan ketika mata pelajaran muatan lokal pertanian tiba. Menyenangkan, karena kami bisa belajar di luar kelas. Apalagi mata pelajaran muatan lokal ini tepat setelah mata pelajaran yang sangat memeras otak --untuk standar otak saya.

Di belakang kelas, sudah disiapkan lahan untuk kami olah. Setiap kelas memiliki kaplingannya masing-masing. Kami dibagi beberapa kelompok yang bertanggung jawab untuk tanamannya masing-masing. Setiap kelas menanam jenis tanaman yang berbeda-beda. Ada yang menanam cabai rawit, menanam bayam, menanam kangkung, hingga tanaman yang mudah tumbuh, yakni ubi kayu (singkong).

Menariknya, guru muatan lokal pertanian ini termasuk guru favorit saat itu, karena sifatnya yang tidak pernah marah --meskipun pada saat jam pelajaran beliau, kami terkadang bandel, banyak bercandanya, seperti meraih cacing tanah yang kemudian dilemparkan ke murid perempuan. Jelas saja, si murid lari terbirit-birit. Namun, beliau hanya tersenyum sembari mengingatkan, agar kami kembali fokus ke tugas yang harus kami kerjakan.

Pada mata pelajaran muatan lokal ini, kami tidak hanya praktik menanam. Tetapi sekaligus juga memahami teori pertanian, khususnya tanaman pangan. Sembari praktik, beliau sangat intens menjelaskan teorinya dengan penuh kesabaran dan kami diminta untuk mencatat apa saja yang beliau anggap penting. Misalnya, pupuk apa yang digunakan, berapa komposisinya. Jenis-jenis hama apa saja yang harus diwaspadai dan bagaimana mengatasinya.

Tak hanya itu, kami juga diajarkan bagaimana cara membuat pupuk organik dari sampah organik yang ada di lingkungan sekolah. Kemudian, pupuk itulah yang kami manfaatkan untuk tanaman belakang sekolah.

Meski mata pelajaran muatan lokal ini hanya satu minggu sekali, tetapi kami diminta untuk merawatnya setiap hari. Menyiraminya setiap hari, memperhatikan perkembangannya. Jika ada yang layu, maka pada saat bertemu mata pelajaran muatan lokal, beliau menjelaskan kemungkinan penyebabnya.

Tentu saja tidak semua tanaman tumbuh dengan baik. Bagi kelompok yang malas, sudah pasti tanamannya gagal. Meski begitu, pada saat panen tiba tetap saja kami nikmati bersama-sama. Semua murid di kelas mendapat bagian, termasuk juga guru-guru kami. Betapa senangnya, bisa membawa pulang hasil panen ke rumah, menikmatinya bersama keluarga. Ada kebanggaan tersendiri rasanya.

Rata-rata, sekolahan dulu memiliki pekarangan yang cukup luas. Kalau dibandingkan dengan sekolahan sekarang, jarang sekali punya pekarangan luas, kecuali halaman upacara. Sekolahan di era sekarang, pekarangan yang kosong biasanya dimanfaatkan untuk menambah gedung kelas baru. Alasannya, jumlah kelas yang ada tidak mampu menampung jumlah siswa yang setiap tahunnya terus bertambah.

Kalau pada tahun sebelumnya Kelas 1 hanya 4 lokal, tahun berikutnya bisa menjadi 5 lokal dan seterusnya. Sehingga, ada sekolah yang sampai kekurangan murid dan ada pula sekolah yang kelebihan murid. Mengapa sekolah tidak mampu menolaknya? Rasanya sayang saja, karena jumlah murid juga mempengaruhi jumlah dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Bahkan sampai ada sebutan untuk sekolah dengan jumlah murid yang banyak ini, yaitu "sekolah basah" dan menjadi rebutan para calon kepala sekolah.

Sekarang, sudah jarang sekolah yang menerapkan mata pelajaran muatan lokal bidang pertanian. Wajar, kalau sangat sedikit sekali anak yang bercita-cita menjadi petani. Petani kerap diidentikkan dengan profesi yang tidak bergengsi. Berbeda jika bekerja di kantoran, seragam rapi, duduk di ruangan ber-AC, dianggap lebih bergengsi. Sehingga, (maaf) banyak sarjana yang akhirnya mendedikasikan dirinya selama bertahun-tahun sebagai tenaga harian lepas (honorer), hanya dengan penghasilan yang tidak seberapa. Padahal, bisa saja kita menjadi petani yang modern, petani yang selalu berinovasi menyesuaikan zaman.

Bagaimana mungkin bisa swasembada kalau minat orang untuk menjadi petani semakin berkurang? Petani selalu diidentikkan dengan orang-orang berpendidikan rendah. Untuk meningkatkan swasembada pangan, yang dibutuhkan bukan hanya teknologi yang mumpuni, tetapi juga SDM yang berkualitas.

Muatan lokal pertanian harus dihidupkan lagi. Anak-anak harus memiliki pengetahuan di bidang pertanian. Apalagi saat pandemi seperti sekarang, ketika mereka jenuh karena belajar jarak jauh, anak bisa mengolah pekarangan rumahnya sendiri, ditanami berbagai tanaman pangan atau bisa menggunakan polybag, juga bisa menggunakan kaleng-kaleng bekas. Dengan demikian, kalau pun nanti tidak menjadi petani, paling tidak mereka bisa menghargai perjuangan para petani.

(mmu/mmu)