Jeda

Gosip dan Bahasa Perempuan

Rahmat Petuguran - detikNews
Minggu, 23 Agu 2020 12:08 WIB
Karakter Bu Tejo dalam film Tilik (Foto: Ravacana Film)
Jakarta -

Bu Tejo viral! Tokoh dalam film pendek Tilik karya sutradara Wahyu Agung Prasetyo (Ravacana Film, 2018) itu mendapat perhatian luas karena karakternya yang unik. Dia digambarkan penggosip kelas wahid di komunitasnya. Selain tampak punya bakat alami, ia jadi penggosip ulung karena ditopang teknologi terkini.

Film Tilik menarik minat karena dianggap mampu memotret realitas kehidupan perempuan desa. Selain solidaritas terhadap orang yang sakit, gosip jadi realitas sosial yang paling mencolok di komunitas itu. Keduanya tergambar dalam persona Bu Tejo.

Ada dua tipe respons terhadap karakter Bu Tejo dan film itu secara umum. Respons pertama adalah yang bersikap apresiatif karena menganggap film itu mampu memotret realitas dengan presisi. Respons tipe kedua cenderung kritis karena film ini dianggap mereproduksi stereotip negatif perempuan sebagai penggosip.

Memang tak bisa dielakkan, perempuan sering dicitrakan suka bergosip. Citra ini bukan cuma dilekatkan kepada perempuan desa kurang terdidik seperti persona Bu Tejo, tapi juga perempuan perkotaan terdidik.

Lalu dari mana stereotip itu berasal? Bagaimana citra itu direproduksi sehingga terdengar benar hingga kini?

Perekat Sosial

Meski dengan gaya kelakar, penjelasan tentang kenapa perempuan cenderung suka bergosip disampaikan John Gray. Ia menulisnya dalam buku laris Men Are From Mars and Women are From Venus.

Kecenderungan bergosip tumbuh karena perempuan memiliki kecenderungan alami bekerja sama satu sama lain. Dorongan bekerja sama sendiri muncul karena perasaan kurang percaya diri (insecure) yang tumbuh secara kultural karena perempuan pada masa lalu tidak punya akses ke alat-alat produksi.

Kendala perempuan dalam mengakses alat produksi bisa bersifat alami sekaligus sosial. Bersifat alami karena perempuan mengalami masa-masa yang membuat ketangguhan fisiknya menurun akibat menstruasi, hamil, dan menyusui. Pada masa seperti itu, perempuan bergantung kepada pasangan lelakinya untuk menyuplai makanan.

Secara sosial, kendala perempuan mengakses alat produksi bisa terjadi karena peminggiran yang terus-menerus. Kendala yang bersifat alami dilembagakan oleh struktur sosial yang menempatkan perempuan sebagai objek, pasif, dan terdomestikkan.

Peminggiran itulah yang membuat perempuan insecure. Agar merasa aman ia harus berkumpul, bekerja sama, berserikat dengan perempuan lainnya.

Kebutuhan berkumpul itu kemudian mendorong perempuan mengembangkan aneka kecakapan agar dirinya diterima di komunitas. Kecakapan psikologis bisa berupa kepekaan memahami perasaan orang lain, peduli, dan empatik. Adapun kecakapan berbahasa bisa berupa keterampilan memuji, mengapresiasi, dan berbasa-basi.

Di titik ini gosip dipandang sebagai mekanisme sosial yang berfungsi menjaga solidaritas kelompok ketika perempuan berkumpul. Gosip berfungsi dengan dua cara. Pertama, pengetahuan yang sama terhadap sesuatu membuat orang merasa memiliki nasib yang sama. Kedua, gosip membuat munculnya sosok liyan (the other) yang menguatkan ke-kami-an kelompok tersebut.

Hipotesis ini relatif bisa diterima jika digunakan untuk membaca masyarakat purba atau pertanian periode awal yang menjadikan kekuatan fisik sebagai satu-satunya cara mengakses sumber daya. Misalnya lewat berburu atau meramu.

Tapi hipotesis ini tidak relevan digunakan untuk memahami masyarakat modern yang strukturnya lebih kompleks. Dalam masyarakat modern, jenis kelamin tidak lagi menjadi faktor utama pembentuk perilaku kelompok. Faktor-faktor lain seperti kelas sosial, kelas ekonomi, pengetahuan, akses informasi, dan ideologi kerap lebih dominan dari jenis kelamin.

Dalam masyarakat yang lebih kompleks, hipotesis itu juga lemah karena bersandar pada sejumlah asumsi yang bersifat biner. Seolah-olah cuma perempuan yang suka bergosip, laki-laki tidak. Seolah-olah perempuan dependen dan laki-laki independen. Seolah-olah perempuan membutuhkan kelompok dan laki-laki mandiri.

Padahal, gosip adalah kebutuhan umum. Begitu juga kebutuhan atas dukungan kelompok, diperlukan oleh laki-laki maupun perempuan. Di sawah, pasar, pabrik, dan kantor juga banyak laki-laki bergosip. Laki-laki juga banyak yang pintar basa-basi, memuji, bahkan menjilat untuk memastikan keberterimaannya di kelompok.

Kecenderungan bergosip pada masa kini lebih banyak ditentukan oleh faktor sosial daripada jenis kelamin. Ketersediaan waktu luang misalnya cenderung membuat orang bergosip. Ketiadaan saluran konsultasi yang sehat seperti keluarga yang akomodatif juga bisa menstimulasi gosip. Tentu saja karakter personal juga punya peran.

Bentuk Peminggiran

Jika dilihat dari perspektif lebih luas, stereotip bahwa perempuan suka bergosip bisa dipandang sebagai bentuk peminggiran. Stigma demikian, bersama labeling lainnya, adalah instrumen yang sengaja digunakan untuk mendisiplinkan perempuan.

Stigma itu diinstrumentasikan dengan stigma lain, misalnya bahwa perempuan punya bawaan cerewet. Bahasa dan perilaku berbahasa dijadikan alat untuk mendisiplinkan perempuan.

Menurut ahli bahasa Universitas California, Robin Lakoff, bahasa dan citra bahasa sudah lama menjadi instrumen dalam proyek stigmatisasi perempuan. Ia menyebut ada dua cara yang memungkinkan bahasa digunakan untuk membangun stereotip terhadap perempuan, yaitu bagaimana perempuan didisiplinkan dalam caranya menggunakan bahasa dan bagaimana perempuan dibicarakan dengan bahasa.

Di berbagai komunitas ada aturan yang berbeda tentang cara laki-laki dan perempuan berbahasa. Perempuan didisiplinkan supaya bertutur santun dan lembut sementara laki-laki cenderung ditoleransi bersikap sebaliknya.

Perempuan tidak diterima jika menggunakan kata makian sementara laki-laki cenderung lebih bebas menggunakannya. Untuk makian yang sama kesan kasar dan kurang ajarnya dinilai lebih kuat pada perempuan. Adapun bagi laki-laki makian cenderung diterima karena disimbolisasi sebagai keakraban dan maskulinitas.

Di sisi lain, bahasa juga cenderung digunakan dengan cara yang tidak sama ketika digunakan untuk menggambarkan laki-laki dan perempuan. Di berbagai sistem bahasa seperti Arab, Spanyol, dan Prancis ada pembagian kosakata menjadi maskulin dan feminin.

Pengkategorian itu tidak semata dilakukan berdasarkan kriteria fisik, misalnya keserupaan bentuk, ukuran, dan warna. Lebih sering, pengkategorian itu dilakukan berdasarkan tafsir politis terhadap sesuatu. Karena itulah, kata yang digunakan untuk menggambarkan perempuan atau disifati perempuan cenderung berkonotasi negatif.

Tapi kritik terhadap hal-hal semacam itu seringkali sulit dilakukan. Karena sudah melembaga, stereotip terhadap perempuan cenderung dianggap wajar.

Karakter Bu Tejo yang sebenarnya karikatural dan lebay pun dianggap wajar. "Relate!" tulis sebagian netizen di kolom komentar Youtube tempat film pendek itu ditayangkan. Tapi, ya, begitulah kita: terhibur dulu, mikir bisa nanti.

Rahmat Petuguran dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang, penulis buku Politik Bahasa Penguasa (2016)

(mmu/mmu)